Font Size
15px

Kaelen natap sosok berarmor hitam di depannya dengan dada berdegup kencang. Nama yang baru saja keluar dari bibirnya terasa asing, tetapi pada saat yang sama, begitu akrab.

"Darius..." Kaelen ngulang namanya, ncoba mahami kebenaran yang mulai nyelinap ke dalam pikirannya.

Makhluk berarmor itu—Darius—ngayunkan pedangnya ke bawah. Gelombang energi gelap ledak dari bilahnya, nghantam tanah dan nciptakan retakan panjang yang hampir ncapai kaki Kaelen. Serina berteriak, narik Kaelen ke samping sebelum ledakan kedua terjadi.

"Siapa dia, Kaelen?!" Serina bertanya sambil nangkis serangan makhluk bayangan lain.

Kaelen ngatupkan rahangnya, mori yang buram mulai terangkai. "Dia... dia bukan musuh. Setidaknya, dulu tidak."

Darius langkah maju, suara armornya berderak. "Dulu? Jadi kau benar-benar lupakan semuanya, adikku?"

Kata "adikku" nghantam Kaelen seperti pedang yang nembus dadanya. Matanya lebar, ingatan lain mulai kembali—fragn kenangan tentang seorang pria muda, latihnya dalam pertarungan, negurnya saat dia gagal, dan tertawa bersamanya di bawah cahaya bulan.

"Tidak mungkin..." Kaelen berbisik.

Darius ndengus. "Ah, sekarang kau mulai ngingatnya, bukan? Aku ngajarkanmu cara gang pedang. Aku ngorbankan segalanya demi lindungimu. Dan bagaimana kau mbalasnya? Dengan lupakanku."

Pedang Darius bergetar, aura kegelapan berdenyut dari dalam tubuhnya. "Dan sekarang, kau berdiri di sini, siap lawanku. Seperti orang asing."

Kaelen ncengkeram gagang pedangnya dengan erat, tetapi tangannya getar. "Apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa kau njadi seperti ini?"

Darius tertawa kecil—suara yang dipenuhi kepahitan. "Aku mati, Kaelen. Aku mati dalam perang yang kau coba lupakan. Dan ketika kau nyerahkan jiwamu untuk ndapatkan kekuatan, kau mbiarkan ingatan tentangku nghilang, seperti aku tak pernah ada."

Serina lihat Kaelen dengan cemas. "Kaelen... jika dia saudaramu, maka kita bisa nyelamatkannya."

Darius ngangkat pedangnya lagi. "Aku tidak perlu diselamatkan." Mata rahnya nyala semakin terang. "Aku telah njadi bagian dari kegelapan ini. Dan kau—kau adalah alasan ngapa aku ada di sini!"

Kaelen ngatupkan rahangnya. "Kalau begitu, aku akan mbawamu kembali. Apa pun yang terjadi."

Darius lompat ke depan dengan kecepatan luar biasa, serangannya nebas udara dengan kekuatan yang cukup untuk nghancurkan batu di sekitarnya. Kaelen nangkis serangan pertama, tetapi dampaknya mbuat lengannya bergetar. Darius jauh lebih kuat dari yang ia ingat.

Serina berusaha mbantu, tetapi bayangan-bayangan lain nyerangnya dari berbagai arah. Pria bertudung yang sejak tadi diam ngamati kini maju beberapa langkah.

"Hanya ada satu cara untuk ngalahkannya," kata pria itu. "Kau harus ngingat segalanya. Jika tidak, kau tak akan pernah bisa nghadapinya."

Kaelen ngatupkan rahangnya. "ngingat?"

"Kau telah kehilangan sebagian dari dirimu sendiri, Kaelen. Jika kau ingin nang, kau harus nerimanya kembali—baik itu kenangan, kesalahan, atau rasa sakit."

Darius nyerang lagi, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Kaelen hanya bisa bertahan, setiap tebasan mbuat tubuhnya semakin terdesak.

"Kau tidak cukup kuat!" Darius nggeram. "Seperti dulu, kau selalu njadi anak lemah yang harus kulindungi!"

Kaelen terhuyung, tetapi kata-kata Darius justru nusuk lebih dalam daripada serangan pedangnya.

Lalu, sebuah ingatan kembali ke dalam benaknya—Darius, berdiri di hadapannya, lindunginya dari serangan musuh bertahun-tahun lalu. Wajahnya penuh luka, tetapi dia tetap tersenyum.

"Jangan takut, Kaelen," suara Darius dari masa lalu bergema. "Selama aku ada, aku akan selalu njagamu."

Mata Kaelen lebar. Dadanya sesak. Ingatan itu—rasa bersalah, kehilangan, dan keinginan untuk lindungi—semua kembali dalam gelombang yang begitu kuat hingga ia hampir jatuh berlutut.

Tetapi kali ini, ia tidak akan lari.

Ia natap Darius dengan mata yang penuh tekad. "Kau benar. Aku lupakanmu. Aku lupakan segalanya. Tapi tidak lagi."

Aura di sekeliling Kaelen mulai berubah. Cahaya biru mulai berpendar dari tubuhnya, mbakar bayangan yang ngelilinginya.

Darius nyipitkan mata. "Apa yang kau lakukan?"

Kaelen ngangkat pedangnya, yang kini bersinar lebih terang dari sebelumnya. "ngakhiri ini. Dan mbawamu kembali."

Darius berteriak dan nyerang dengan seluruh kekuatannya.

Kaelen balas nyerang.

Pedang reka bertabrakan, dan dunia di sekitar reka bergetar hebat.

Namun, sebelum pertarungan benar-benar berakhir, bayangan hitam yang lebih besar muncul di belakang Darius. Sesuatu—atau seseorang—nariknya kembali ke dalam kegelapan.

Darius terhentak mundur, matanya lebar. "Tidak... aku belum selesai!"

Kaelen ncoba raih tangannya, tetapi sosok hitam itu ncengkeram dada Darius, nyeretnya ke dalam pusaran bayangan yang mbelah tanah.

"Kaelen!" Darius berteriak, suaranya bergema di seluruh area.

Kaelen lompat, ncoba nyelamatkannya, tetapi sudah terlambat. Darius nghilang dalam kegelapan, terseret oleh kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Hening. Angin berhenti berhembus. Serina natap Kaelen dengan wajah penuh keterkejutan.

Kaelen berdiri di tempatnya, nafasnya berat, tinjunya ngepal. Kali ini, ia tidak hanya kehilangan ingatan—ia kehilangan kesempatan untuk nebus kesalahan.

Pria bertudung ndekat. "Pertarungan ini belum selesai. Jika kau ingin nyelamatkannya... kau harus ngejar reka."

Kaelen natap langit yang kini dipenuhi pusaran gelap. Dengan rahang ngatup, ia njawab, "Kalau begitu, kita tidak punya waktu untuk nunggu."

You are reading The Shattered Light Chapter 96: – Kebenaran yang Terungkap on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.