Kaelen berdiri tegap, rasakan denyutan ingatan yang kini kembali utuh. Napasnya masih terengah-engah, tetapi kepastian telah ngendap dalam benaknya. Ia natap pria bertudung yang kini tak lagi setenang sebelumnya.
"Kau tidak ngira aku akan kembali, bukan?" Suara Kaelen terdengar lebih mantap dari sebelumnya, disertai tatapan yang nyala dengan tekad baru.
Pria bertudung nghela napas pelan. "Aku tidak rehkanmu, Kaelen. Aku hanya tahu bahwa kebenaran yang baru kau ingat akan lebih mbebanimu daripada yang bisa kau bayangkan."
Serina, yang kini berhasil mbebaskan diri dari kekuatan pria itu, bergerak ndekat, matanya penuh tanda tanya. "Apa maksudnya?"
Kaelen natapnya sejenak sebelum kembali mfokuskan perhatiannya pada pria bertudung. "Aku tahu siapa kau. Dan aku tahu siapa dia." Ia noleh ke arah bayangan yang mulai muncul di balik pria itu—bayangan seorang wanita yang selama ini terkubur dalam ingatannya.
Sosok wanita itu semakin jelas, wajahnya pucat dengan mata kelam yang nyiratkan kelembutan. "Kaelen... kau akhirnya ngingatku."
Serina ngerutkan kening, kebingungan terlihat jelas di wajahnya. "Siapa dia?"
Kaelen nelan ludah, suaranya bergetar halus. "Dia... dia adalah saudara perempuanku."
Serina terkejut, tetapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, wanita itu langkah maju. "Kau ngorbankanku untuk kekuatan, Kaelen. Kau tidak pernah bermaksud lupakan, tetapi kekuatan yang kau gunakan maksa ingatan tentangku lenyap."
Pria bertudung itu nunduk, suaranya lebih tenang. "Itulah harga yang selalu harus dibayar oleh reka yang gang kekuatan bayangan."
Kaelen ngepalkan tangannya. "Kalau begitu, ngapa kau mbawaku ke sini? ngapa kau mbiarkanku ngingatnya sekarang?"
Wanita itu natapnya dalam-dalam, suaranya lembut namun sarat makna. "Karena perang yang kau hadapi belum berakhir. Dan aku..." Ia berhenti sejenak, matanya berkabut dengan emosi yang sulit terbaca. "Aku adalah bagian dari bayangan itu sekarang."
Serina tersentak. "Apa maksudmu?"
Pria bertudung langkah mundur, mbiarkan wanita itu berbicara. "Aku telah njadi bagian dari kehampaan. Aku tidak bisa kembali bersamamu, Kaelen. Tetapi aku bisa nunjukkan jalan yang harus kau ambil."
Kaelen rasakan dadanya ncengkeram. Setelah perjuangan panjangnya ngembalikan ingatan, kenyataan pahit namparnya dengan keras. "Jadi aku telah ndapatkan ingatan ini... hanya untuk kehilanganmu lagi?"
Wanita itu tersenyum kecil, skipun ada kesedihan dalam sorot matanya. "Tidak semua kehilangan harus berakhir dengan penderitaan. Kau bisa milih untuk nggunakan apa yang kau pelajari dariku... untuk nghentikan kegelapan yang akan datang."
Cahaya rah yang sebelumnya berdenyut dari tanah semakin kuat. Udara di sekitar reka bergetar, seakan dunia ini akan runtuh kapan saja. Tanah mulai rekah, dan energi kelam rayap keluar dari retakan-retakan di sekeliling reka.
Pria bertudung ngangguk pelan. "Waktunya sudah hampir habis. Jika kau ingin nghentikan kehancuran yang akan datang, kau harus pergi ke tempat di mana semuanya dimulai."
Kaelen narik napas dalam, lalu berkata tanpa ragu, "Benteng Malrik."
Serina natapnya, sorot matanya nunjukkan keteguhan. "Itu tujuan kita sejak awal."
Wanita itu tersenyum tipis, suaranya nyaris berbisik. "Maka pergilah. Aku akan selalu bersamamu, Kaelen... ski aku tak lagi ada di sisimu."
Kaelen rasakan sesuatu di dalam dirinya remuk, tetapi ia nundukkan kepala dengan penuh penghormatan. Ia tak akan mbiarkan pengorbanannya sia-sia.
Cahaya rah tiba-tiba nyelimuti wanita itu, mbuatnya perlahan mudar. Sebelum ia nghilang sepenuhnya, ia berbisik pelan. "Jangan pernah lupakan lagi..."
Dan dengan itu, ia lenyap.
Kaelen natap tempat di mana ia berdiri untuk terakhir kalinya, lalu ngepalkan pedangnya. Matanya kini penuh dengan tekad baru.
Serina nggenggam gagang pedangnya lebih erat. "Kita tidak punya waktu untuk ragu. Jika Benteng Malrik benar-benar nyimpan jawaban, kita harus sampai ke sana sebelum kekuatan ini semakin berkembang."
Pria bertudung itu mandang Kaelen dengan ekspresi sulit ditebak. "Kau miliki kesempatan untuk nghentikan apa yang sudah dimulai. Tapi ingat, Kaelen... pilihan yang akan kau buat tidak hanya nentukan nasibmu, tetapi juga dunia ini."
Kaelen natap langit yang kini semakin gelap, guntur bergemuruh di kejauhan. Ia tahu ini bukan hanya tentang dirinya lagi.
Tanpa ragu, ia berkata, "Kita berangkat sekarang."
Dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya, reka langkah nuju Benteng Malrik, tempat di mana semua kebenaran akan terungkap dan takdir reka akan ditentukan.
Reviews
All reviews (0)