Font Size
15px

Hembusan angin dingin nerpa wajah Kaelen saat ia natap benteng yang njulang di kejauhan. Benteng Malrik tampak seperti raksasa batu yang telah terlupakan oleh waktu, dikelilingi reruntuhan tembok yang ditumbuhi sulur-sulur hitam. Langit di atasnya gelap, dipenuhi awan pekat yang berputar dengan kilatan petir rah. Ada ketegangan yang nggantung di udara, seperti bisikan tak terdengar dari masa lalu yang masih ngintai.

"Kita hampir sampai," kata Serina, suaranya tegas, tetapi matanya nyiratkan kegelisahan yang ia sembunyikan.

Kaelen ngangguk, tangannya masih erat nggenggam gagang pedang. "Ada sesuatu yang nunggu kita di sana. Aku bisa rasakannya."

Pria bertudung yang berjalan di samping reka nghela napas pelan. "Benteng ini bukan hanya tempat penyimpanan rahasia. Ia juga penjara bagi sesuatu yang telah lama tersegel."

Serina noleh tajam. "Apa yang kau maksud?"

Pria itu tidak njawab langsung. Ia berhenti di depan gerbang utama benteng, ngangkat satu tangan, dan nyentuh batu yang tertutup ukiran rune. Seketika, udara di sekitar reka bergetar. Cahaya rah rayap dari dalam celah-celah batu, dan suara gemuruh terdengar di bawah kaki reka.

Kaelen bersiap, matanya nyipit. "Jangan bilang segel ini akan terbuka dengan mudah."

Pria bertudung berbalik natapnya, ekspresinya kosong. "Segelnya mang akan terbuka. Tetapi pertanyaannya, apakah kita siap nghadapi apa yang ada di dalamnya?"

Sebelum ada yang sempat njawab, tanah di depan reka rekah. Dari dalam retakan, tangan-tangan hitam dengan kuku tajam ncuat, ncengkeram permukaan batu. Makhluk-makhluk bayangan, dengan tubuh berlumur asap kelam dan mata rah nyala, mulai rangkak keluar dari celah kegelapan.

Serina langsung nghunus pedangnya. "Kurasa kita sudah ndapatkan jawabannya."

Kaelen tanpa ragu ngangkat pedangnya dan langkah maju. "Kalau begitu, kita bertarung."

Makhluk-makhluk itu nggeram dengan suara ngerikan, lalu lompat ke arah reka dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata manusia.

Kaelen nghindar ke samping dan nebas punggung salah satu makhluk dalam satu gerakan cepat, mbuatnya njerit dan nguap njadi kabut hitam. Tapi dua makhluk lain langsung nyerangnya dari kedua sisi.

Serina bertarung di sisi lain, pedangnya nari di udara, nebas dua makhluk yang ncoba ngitarinya. Napasnya berat, tetapi ia tetap bertarung dengan ketelitian seorang prajurit.

"reka terus bermunculan!" Serina berteriak, lompat nghindari cakar hitam yang hampir nebas bahunya.

Pria bertudung tetap berdiri di tengah, kedua tangannya terangkat. Bibirnya bergerak dalam mantra kuno, dan seketika, lingkaran cahaya muncul di tanah, mancarkan gelombang energi yang nghancurkan beberapa makhluk sekaligus.

Namun, sesuatu yang lain mulai bangkit.

Dari dalam celah yang lebih besar, sosok yang berbeda muncul. Tingginya dua kali lipat dari makhluk lainnya, tubuhnya tertutup armor hitam dengan retakan rah yang berdenyut seperti nadi. Ia ngangkat pedangnya yang berkilauan dengan api gelap dan natap Kaelen dengan sorot mata yang terasa begitu familiar.

Kaelen rasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu tentang makhluk ini yang mbuatnya waspada, seolah ia pernah bertemu dengannya sebelumnya.

Makhluk itu berbicara, suaranya dalam dan bergema. "Kaelen Draven... akhirnya kau datang."

Serina negang. "Dia ngenalmu?"

Kaelen ngangkat pedangnya, ncoba nyembunyikan kegelisahannya. "Dan aku berniat ngenalnya lebih jauh."

Tanpa peringatan, makhluk itu ngayunkan pedangnya dengan kecepatan luar biasa, nciptakan gelombang energi gelap yang lesat ke arah Kaelen. Ia lompat ke samping tepat waktu, tetapi energi itu nghantam tanah di belakangnya, nciptakan ledakan yang mbuat reruntuhan beterbangan.

Pria bertudung berteriak, "Kaelen! Itu bukan lawan biasa! Dia adalah—"

Sebelum ia bisa nyelesaikan kalimatnya, makhluk itu telah nyerang lagi, maksa Kaelen bertahan dengan segala yang ia miliki. Setiap tebasan reka bertemu dalam percikan api gelap, kekuatan lawannya terasa sangat akrab.

Dan di saat itulah, ingatan lain mulai bangkit di benaknya.

Kilatan masa lalu nyerbu pikirannya—seorang pria muda dengan rambut perak, tawa yang bergema di dan latihan, suara pedang yang saling beradu dalam duel yang tak terhitung jumlahnya.

Kaelen tersentak. Ia mbelalakkan matanya, natap makhluk itu dengan keterkejutan yang ndalam.

"...Darius?"

Sosok itu terdiam sejenak sebelum ngangkat pedangnya lagi. "Kaelen... Kau telah lupakan segalanya. Tapi aku tidak."

You are reading The Shattered Light Chapter 94: – Gerbang Malrik on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.