Kaelen ngayunkan pedangnya ke arah bayangan yang lesat ke arahnya. Namun, setiap serangannya nembus udara kosong, sentara kegelapan terus nyusup ke dalam pikirannya. Suara bisikan yang ngganggu semakin nguat, ngisi kepalanya dengan keraguan dan ketakutan.
"Kaelen... kau tidak akan bisa larikan diri dariku," suara wanita itu berbisik, kali ini lebih dekat.
Kaelen mutar tubuhnya, ncoba ncari sumber suara itu. Wanita tersebut masih berdiri di tengah aula, kini dengan sorot mata yang lebih tajam, seolah nantangnya untuk ngingat.
"Kau ingin kembali?" Wanita itu langkah maju, cahaya remang-remang dari lantai kaca mantulkan bayangannya dengan samar. "Ingat siapa aku, atau tetaplah tenggelam dalam kegelapan ini."
Kaelen nggertakkan giginya. "Siapa kau sebenarnya?!"
Wanita itu tersenyum samar. "Aku adalah orang yang pernah kau janjikan untuk tidak lupakan. Tapi kau ngorbankanku."
Kilatan mori lintas di benaknya—tangan kecil nggenggam jemarinya, suara tawa lembut di tengah cahaya senja, dan... nama yang hampir muncul di ujung lidahnya.
"Aku..." Kaelen rasakan sesuatu yang nusuk dadanya. "Aku tidak ingin lupakanmu."
Wanita itu natapnya dengan penuh harapan. "Kalau begitu, lawanlah reka. Lawan kegelapan yang renggutku darimu."
Kaelen nghunus pedangnya lebih erat. Saat itu juga, bayangan-bayangan yang ngelilinginya lompat ke arahnya. Dengan kekuatan yang baru bangkit, ia nebas satu per satu, nciptakan kilatan cahaya dalam kehampaan.
Di dunia nyata, Serina bertarung mati-matian lawan pria bertudung. Setiap tebasan pedangnya micu ledakan energi, namun pria itu tetap tenang, nghindari setiap serangan dengan gerakan yang hampir tak kasatmata.
"Kau bertarung dengan sia-sia," pria itu berujar sambil ngangkat tangannya. "Kaelen tidak akan kembali."
Serina ngayunkan pedangnya dengan lebih kuat, tapi pria itu ngangkat satu jari, dan seketika, kekuatan tak terlihat nghentikan gerakannya. Ia rasakan tekanan besar di tubuhnya, seolah ada rantai tak kasatmata yang ngikatnya di tempat. Setiap helaan napas terasa lebih berat, seakan sesuatu mulai nggerogoti kekuatannya.
"Tidak!" Serina berteriak, ncoba mbebaskan diri.
Pria itu berjalan ndekat, sorot matanya penuh kenangan. "Ketika ia kehilangan ingatan terakhirnya, ia akan benar-benar njadi bagian dari kehampaan."
Penjaga Ingatan yang selama ini diam akhirnya bertindak. Ia rentangkan tangannya, dan lingkaran cahaya muncul di bawah kakinya. "Aku tidak akan mbiarkan itu terjadi."
Pria bertudung nyipitkan mata. "Kau terlalu terlambat."
Tiba-tiba, tanah di sekitar reka mulai retak lebih besar, cahaya rah yang sebelumnya berdenyut kini mancar dengan lebih intens. Serina bisa rasakan sesuatu bangkit dari kedalaman, sesuatu yang jauh lebih ngerikan dari sekadar bayangan. Tekanan di udara semakin berat, seakan dunia itu sendiri mulai goyah.
"Kaelen!" Serina berteriak sekuat tenaga. "Kau harus kembali!"
Di dalam pikirannya, Kaelen ndengar suara itu. Sesuatu dalam dirinya bergetar. Ia lihat ke arah wanita itu, yang kini tersenyum lembut.
"Itulah suaramu, Kaelen. Suara yang masih ncarimu."
Kaelen narik napas dalam, lalu berlari nuju wanita itu. Namun sebelum ia bisa ncapainya, bayangan terakhir nghalangi jalannya.
"Aku tidak akan mbiarkanmu pergi," bisik makhluk itu. Suaranya bercabang, nggema dari segala arah, nciptakan distorsi di udara sekitarnya.
Kaelen ngangkat pedangnya, natap makhluk itu dengan tekad yang baru. "Aku akan ngingatnya. Aku akan kembali."
Namun sebelum ia nebas, keraguan nghampirinya. Jika ia kembali, apakah ia benar-benar akan ngingatnya? Atau apakah dunia nyata akan ngambilnya lagi?
Wanita itu tersenyum lembut, seakan ngerti ketakutannya. "Pilihannya ada padamu, Kaelen. Tapi jika kau tetap di sini, reka yang nunggumu akan hilang."
Kaelen ngertakkan gigi, lalu ngayunkan pedangnya dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Bayangan itu njerit saat bilah pedang nembusnya, cahaya terang nuhi dunianya. Semua bisikan lenyap, semua kegelapan sirna.
Saat ia mbuka matanya, dunia nyata nyambutnya kembali.
Serina masih terikat oleh kekuatan pria bertudung, tetapi ketika Kaelen kembali berdiri, aura di sekelilingnya berubah. Matanya kembali normal, penuh dengan kesadaran yang baru.
Pria bertudung itu negang. "Tidak mungkin..."
Kaelen natapnya dengan tajam. "Aku kembali. Dan aku ingat semuanya."
Namun di balik pikirannya yang kini utuh, sesuatu berbisik lebih dalam. Ada kebenaran lain yang tersembunyi dalam ingatannya, sesuatu yang belum ia ungkap.
Dan sesuatu—atau seseorang—yang masih nunggu dalam kegelapan.
Reviews
All reviews (0)