Kilatan cahaya nyelimuti Kaelen, nelan seluruh pandangannya dalam kehampaan yang berdenyut. Udara di sekelilingnya mbeku, dan tiba-tiba, ia rasa seperti jatuh ke dalam kekosongan yang tak berujung. Suara-suara berbisik nuhi kepalanya, tetapi ia tak bisa mahami kata-kata reka.
Saat cahaya itu redup, ia ndapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang asing—sebuah aula besar yang dikelilingi pilar-pilar batu hitam. Bayangan bergerak di sekelilingnya, berbisik tanpa suara. Lantainya berkilau seperti kaca, mantulkan wajahnya yang tampak lebih lelah dari sebelumnya. Di tengah ruangan itu, sosok wanita yang tadi ia lihat berdiri natapnya dengan ekspresi sedih.
"Kaelen..." Suaranya lembut, namun nggema seperti datang dari banyak arah.
Kaelen ngerjap, jantungnya berdegup kencang. "Siapa kau?"
Wanita itu natapnya dengan mata yang dipenuhi kesedihan. "Aku adalah bagian dari ingatan yang telah kau buang. Aku adalah seseorang yang seharusnya kau ingat... tetapi sekarang aku hanyalah bayangan yang mudar."
Kaelen ncengkeram kepalanya, ncoba ncari potongan kenangan yang sesuai dengan kata-katanya. "Aku tidak ngerti... ngapa aku tidak bisa ngingatmu?"
Wanita itu tersenyum tipis. "Karena kekuatanmu. Setiap kali kau nggunakannya, sesuatu yang berharga diambil darimu. Dan aku..." Ia nundukkan kepala. "Aku adalah harga yang telah kau bayar."
Kaelen terengah, rasakan sesuatu yang nghantam dadanya. "Tidak... Itu tidak mungkin..."
Sebelum ia bisa berkata lebih jauh, ruangan itu bergetar. Bayangan di sekelilingnya rangkak semakin dekat, nciptakan pusaran kegelapan yang ngancam untuk nelannya.
Wanita itu natapnya sekali lagi, suaranya lebih ndesak. "Kaelen, jika kau ingin ngingatku... kau harus lawan."
Kaelen ngangkat wajahnya. "lawan apa?"
Seketika, bayangan itu lesat ke arahnya, mbentuk cakar hitam yang siap ncengkeram tubuhnya.
Di luar dunia bayangan, Serina dan Penjaga Ingatan nyaksikan tubuh Kaelen yang terdiam. Mata Kaelen terbuka, tetapi pupilnya hitam pekat, seolah jiwanya berada di tempat lain.
Serina ngguncang bahunya. "Kaelen! Kembali!"
Penjaga Ingatan nggeleng, wajahnya serius. "Ia terperangkap di dalam pikirannya sendiri. Ingatan yang telah ia hilangkan kini nuntut untuk dihadapi."
Serina ngepalkan tinjunya. "Kalau begitu, kita harus mbantunya!"
Namun sebelum ia bisa berbuat sesuatu, angin kencang berputar di sekitar reka. Daun-daun kering beterbangan, dan udara njadi lebih berat. Dari bayangan, sosok pria bertudung yang sebelumnya reka temui muncul kembali, kali ini dengan aura yang jauh lebih ngancam.
"Tidak ada yang bisa nyelamatkannya sekarang," katanya dengan suara dingin.
Serina nghunus pedangnya, kilauan biru samar berpendar di sepanjang bilahnya. "Siapa sebenarnya kau?"
Pria itu tersenyum samar. "Aku adalah seseorang yang telah lama nunggu saat ini."
Tanah di sekitar reka mulai bergetar, seolah sesuatu yang lebih besar sedang bangkit dari kegelapan. Celah retak mulai terbentuk di tanah, mancarkan cahaya rah yang berdenyut seperti nadi.
Serina natapnya dengan rahang ngeras. "Kalau begitu, kau akan nyesal sudah nunggu."
Dengan satu gerakan cepat, ia nerjang pria itu, dan pertempuran pun dimulai.
Sentara itu, di dalam pikirannya sendiri, Kaelen berhadapan dengan kegelapan yang semakin nelan dirinya. Jika ia tidak bisa nang lawan ingatan yang hilang, maka ia tidak akan pernah bisa kembali.
Reviews
All reviews (0)