Kaelen langkah keluar dari gua dengan Serina di sisinya, napas reka masih berat setelah pertemuan dengan makhluk bayangan tadi. Malam telah nyelimuti dunia luar, langit dipenuhi awan gelap yang ngaburkan bintang-bintang. Angin dingin nerpa wajah reka, mbawa serta desiran suara yang seolah ngikuti langkah reka.
Penjaga Ingatan noleh ke arah Kaelen. "Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Jika makhluk itu bisa nyusup ke dunia ini, maka lebih banyak lagi yang akan ngikuti."
Kaelen ngangguk, tetapi pikirannya masih dipenuhi keraguan. "Ke mana kita harus pergi?"
Penjaga Ingatan natap jauh ke depan, matanya mantulkan cahaya samar dari bulan yang tertutup awan. "Ada tempat yang bisa mberi kita jawaban—Perpustakaan Terlarang di Benteng Malrik. Jika ada cara untuk nutup celah antara dunia ini dan kehampaan, itu ada di sana."
Serina nggigit bibirnya. "Tapi... bagaimana jika aku bukan lagi sepenuhnya diriku sendiri?"
Kaelen natapnya, ncoba ncari jawaban di dalam matanya yang sekarang terasa lebih asing. "Kau adalah Serina. Dan aku akan mastikan kau tetap begitu."
Serina nelan ludah, tetapi ia ngangguk. "Baik. Maka kita tidak boleh mbuang waktu."
reka bergerak nyusuri hutan, bayangan pepohonan njulang tinggi di sekeliling reka. Suasana terasa tegang, seolah sesuatu bisa muncul dari kegelapan kapan saja. Serina terus ncengkeram tangannya sendiri, seakan berusaha ngusir sesuatu yang berbisik di dalam kepalanya.
Tiba-tiba, sebuah suara lirih terdengar di telinga Kaelen. Ia noleh tajam, pedangnya terangkat. "Berhenti."
Serina dan Penjaga Ingatan segera nghentikan langkah reka.
Kaelen micingkan mata ke arah pepohonan yang bergoyang pelan di depan reka. "Kita tidak sendirian."
Dari balik kegelapan, sesosok pria bertudung muncul. Wajahnya tertutup bayangan, tetapi auranya terasa kuat. Ia tidak ngangkat senjata, tetapi ekspresinya nyiratkan bahwa ia bukan seseorang yang bisa dianggap reh.
"Kaelen Draven," pria itu berbicara dengan suara dalam yang nggema di antara pepohonan. "Kau telah mbuka pintu yang seharusnya tetap tertutup."
Kaelen langsung siaga. "Siapa kau?"
Pria itu langkah maju. "Seseorang yang telah mperingatkanmu sejak lama."
Serina negang. "Apa maksudmu?"
Pria itu nghela napas. "Celakanya, kau tidak ingat aku."
Kaelen ngernyit. Ada sesuatu dalam suara pria itu yang terasa familiar, tetapi pikirannya kosong—seperti sebuah kenangan yang telah terhapus.
Penjaga Ingatan maju selangkah. "Jika kau tahu sesuatu, katakan sekarang."
Pria bertudung itu natap Kaelen dalam-dalam sebelum berbicara lagi. "Kau telah kehilangan banyak hal karena kekuatanmu. Tapi yang kau lupakan kali ini... adalah sesuatu yang bisa nghancurkan segalanya."
Hening.
Kaelen ngepalkan tinjunya. "Apa yang telah aku lupakan?"
Pria itu tidak njawab. Sebagai gantinya, ia ngangkat tangannya, dan dalam sekejap, dunia di sekitar reka berubah. Pohon-pohon lenyap, tanah yang reka pijak nghilang, dan reka kini berdiri di dalam sebuah ruangan gelap yang dipenuhi bayangan berkabut.
Serina terengah. "Apa yang kau lakukan?"
Pria itu natap Kaelen dengan ekspresi dingin. "Aku hanya nunjukkan padamu kebenaran yang telah kau buang."
Kaelen rasa jantungnya berdetak lebih cepat. Dari dalam kegelapan, bayangan mulai mbentuk sosok-sosok. Wajah-wajah yang seharusnya ia kenali, tetapi tak bisa ia ingat.
Dan di antara reka, ada satu wajah yang mbuat napasnya terhenti.
Wajah seorang wanita.
Wanita yang namanya seharusnya ia ingat.
Tetapi ia tidak bisa.
Kaelen ncoba langkah ndekat, tetapi seolah ada kekuatan yang nahannya. Bayangan wanita itu mulai bergerak, ndekatinya dengan langkah pelan. Suara samar berbisik di telinganya, nyaris tak terdengar.
"Kaelen... ngapa kau lupakan aku?"
Dada Kaelen terasa sesak. Kenangan yang seharusnya ada di benaknya terasa seperti pasir yang terus luncur dari genggamannya. Ia ingin njawab, ingin ngingat, tetapi semakin keras ia ncoba, semakin kosong pikirannya.
Serina noleh ke Penjaga Ingatan. "Apa yang sedang terjadi?"
Penjaga Ingatan nggeleng. "Ini bukan sekadar ingatan yang hilang. Ini sesuatu yang telah diambil darinya."
Pria bertudung itu nghela napas. "Kaelen, jika kau tidak ngingatnya sekarang, maka kau tidak akan pernah bisa nghentikan apa yang akan datang."
Kaelen natap sosok wanita itu sekali lagi. Ia bisa rasakan kesedihan yang terpancar dari matanya, tetapi ia tidak tahu siapa dia.
"Siapa kau?" suara Kaelen bergetar.
Wanita itu tersenyum tipis, lalu mbisikkan sesuatu.
Dan dalam sekejap, dunia di sekitar Kaelen ledak dalam cahaya putih yang nyilaukan.
Reviews
All reviews (0)