Font Size
15px

Kaelen natap Serina dengan perasaan campur aduk. Ia telah kembali, tapi ada sesuatu yang tidak benar. Bayangan hitam yang lintas di iris matanya, sekejap lalu nghilang, ninggalkan keraguan yang ngendap di hati Kaelen.

Serina ngerjap pelan, napasnya masih terputus-putus. "Aku... di mana?"

Kaelen nggenggam tangannya erat. "Kau kembali, Serina. Aku berhasil ngeluarkanmu dari kegelapan."

Serina nghela napas panjang, lalu ngangkat tangannya untuk nyentuh wajahnya sendiri, seolah mastikan bahwa dirinya masih nyata. "Aku... aku rasa aneh."

Penjaga Ingatan langkah ndekat, matanya masih penuh kehati-hatian. "Kau telah lewati sesuatu yang tidak seharusnya dialami manusia. Ada kemungkinan... ada sesuatu yang ikut terbawa bersamamu."

Serina natapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"

Namun sebelum Penjaga Ingatan sempat njawab, angin dingin tiba-tiba berembus lalui gua. Api obor yang nyala di dinding berkedip-kedip, hampir padam. Bau tanah lembap bercampur dengan aroma busuk nyebar, seolah ada sesuatu yang mbusuk di balik bayangan. Suasana berubah drastis. Kaelen langsung sigap, narik pedangnya kembali.

Serina nggigil, rasakan sesuatu yang tidak terlihat ngelilinginya. "Kaelen... aku ndengar sesuatu."

Kaelen noleh. "Apa yang kau dengar?"

Serina nutup matanya, wajahnya negang. "Bisikan. reka... reka tidak pergi."

Penjaga Ingatan ngerutkan alisnya. "Apa yang reka katakan?"

Serina nggigit bibirnya, matanya terbuka dengan ketakutan yang nyata. "reka ngatakan aku belum sepenuhnya bebas."

Di dalam pikirannya, Serina berlari lewati lorong gelap yang tak berujung. Suara bisikan ngelilinginya, nariknya semakin dalam. Berhentilah lawan, suara itu berdesis. Kau milik kami. Tetapi di kejauhan, ada suara lain. Suara yang hangat. Serina, lawan dia! Kaelen...

Kaelen negang. "Apa maksudnya?"

Sebelum siapa pun bisa ncerna ucapan Serina, sesuatu nghantam gua dengan kekuatan besar. Batu-batu berjatuhan dari atas, dan dinding gua bergetar. Kaelen langsung berdiri dan narik Serina ke belakangnya.

Dari bayangan yang masih tersisa di sudut gua, sesuatu muncul. Sebuah siluet samar, tinggi dan kurus, dengan mata yang bersinar rah darah. Suaranya berbisik, tetapi nggema di seluruh ruangan.

"Serina... kau pikir kau bisa lari?"

Kaelen ncengkeram gagang pedangnya erat. "Siapa kau?"

Makhluk itu tidak njawab. Ia hanya langkah maju, dan setiap langkahnya mbuat udara di sekitar semakin berat. Gua bergetar halus, seolah nahan sesuatu yang lebih besar di dalamnya.

Serina mulai getar. "Aku ngenalnya... Aku ingat suaranya..."

Penjaga Ingatan narik napas tajam. "Ini tidak mungkin... Makhluk itu seharusnya tetap tersegel di antara dunia."

Kaelen nggeram. "Apa yang terjadi, Penjaga? Jelaskan sekarang!"

Penjaga Ingatan natap Kaelen dengan ekspresi gelap. "Ketika kau narik Serina kembali dari kehampaan, kau mbuka pintu bagi sesuatu yang lain."

Kaelen rasakan dadanya ncengkeram. Jadi, ini kesalahannya? Dengan nyelamatkan Serina, ia telah mbiarkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya masuk ke dunia ini?

Siluet itu tertawa pelan. "Serina... Kau milikku. Kau tidak akan pernah benar-benar bebas."

Serina ncengkeram kepalanya, kesakitan. Suara-suara dalam kepalanya semakin keras, semakin dalam. Dalam sekejap, tatapan matanya berubah—seperti ada sesuatu yang nariknya kembali ke dalam kegelapan.

Kaelen tak tahan lagi. Ia ngangkat pedangnya. "Aku tidak peduli siapa atau apa kau! Jika kau ingin nyentuh Serina lagi, kau harus lewati aku dulu!"

Siluet itu berhenti sejenak, lalu tersenyum. Senyum yang tidak seharusnya ada di wajah makhluk seperti itu.

"Aku akan nunggumu, Kaelen. Sampai kau sadar... bahwa ini bukan lagi pertarungan yang bisa kau nangkan."

Dan dalam sekejap, bayangan itu nghilang. Namun sebelum lenyap, Kaelen sempat lihat sesuatu—sepasang mata rah lain, ngintai dari dalam tubuh Serina.

Gua kembali sunyi, tapi hawa dingin yang ditinggalkannya masih nusuk.

Kaelen noleh ke Serina, yang kini terjatuh di tanah, terengah-engah. Matanya masih dipenuhi ketakutan, tetapi juga sesuatu yang lain—sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.

"Kita harus pergi dari sini," kata Penjaga Ingatan, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. "Dan kita harus nemukan cara untuk nutup pintu itu... sebelum terlambat."

Kaelen nggenggam tangan Serina lebih erat.

Serina ngangguk, tetapi jari-jarinya terasa lebih dingin dari biasanya. Di belakangnya, bayangan di dinding bergeser, seolah sesuatu masih ngawasi reka.

Perjuangan reka belum selesai. Malah, mungkin ini baru permulaan.

You are reading The Shattered Light Chapter 90: – Bisikan yang Tertinggal on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Warlock Apprentice cover
Similar genre

Warlock Apprentice

牧狐 ·Fantasy

Thestatusofawizardistranscendentinallcontinentsandintheuniversalplane. Mysterious,wise,cruelandbloodthirstyaresynonymouswithwizards.Butwhatdoesarea...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.