Font Size
15px

Kaelen ncengkeram pedangnya lebih erat, keringat dingin mbasahi pelipisnya. Makhluk-makhluk bayangan itu semakin dekat, ngelilingi reka seperti gelombang kegelapan yang siap nelan segalanya. Serina, atau entitas yang ngendalikan tubuhnya, berdiri di tengah reka, senyum tipis terukir di wajahnya.

"Kaelen," suaranya terdengar bergema, seakan berbicara dari dua dunia berbeda. "Kau pikir bisa nyelamatkannya?"

Kaelen tak njawab. Ia natap langsung ke mata Serina, ncari secercah kesadaran yang mungkin masih ada di dalamnya. Tapi yang ia temukan hanyalah kehampaan.

Penjaga Ingatan langkah maju, ngangkat tangannya. "Kita tidak punya banyak waktu. Jika entitas itu nyatu sepenuhnya dengan Serina, dia akan hilang selamanya."

Kaelen nggeram, mfokuskan dirinya. "Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Sebelum Penjaga Ingatan bisa njawab, salah satu makhluk bayangan lompat ke arah reka dengan kecepatan yang ngerikan. Kaelen bereaksi cepat, ngayunkan pedangnya. Bilahnya nembus tubuh makhluk itu, tetapi alih-alih terluka, makhluk itu justru leleh njadi kabut hitam sebelum kembali terbentuk di belakangnya.

"Serangan biasa tidak akan bekerja!" seru Kaelen.

Penjaga Ingatan ngangguk. "reka bukan makhluk fisik. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat."

Serina tertawa pelan. "Kalian tak bisa lawan kegelapan dengan senjata biasa. Dunia ini milik kami sekarang."

Kaelen nghela napas dalam-dalam. Ia tahu satu-satunya cara untuk nembus kegelapan ini adalah dengan manggil cahaya yang tersisa dalam dirinya. Kekuatan yang selama ini ia takuti, kekuatan yang nuntut pengorbanan. Jika ia nggunakannya, ingatan lain mungkin akan hilang.

Tapi ia tak punya pilihan.

Ia nutup matanya, rasakan aliran energi di dalam dirinya. Cahaya mulai berpendar dari pedangnya, cahaya yang berasal dari kenangan-kenangan yang masih ia genggam erat. Wajah Serina sebelum ia kehilangan dirinya, tawa Lyra, suara gurunya, semuanya berkumpul njadi satu kekuatan yang mbakar di dalam dadanya.

Ketika ia mbuka matanya lagi, bilah pedangnya telah berubah. Cahaya putih nyelimuti logamnya, dan aura suci yang jarang ia rasakan kini ngalir di sekelilingnya.

"Kau ingin kegelapan?" Kaelen langkah maju. "Maka aku akan nunjukkan padamu kekuatan yang nolaknya."

Serina nyipitkan matanya. Untuk pertama kalinya sejak kembali, ada ketidakyakinan dalam tatapannya.

"Serina! Jika kau masih di sana, lawan dia! Jangan biarkan entitas ini ngambilmu!" Kaelen berteriak, ncoba raih kesadarannya.

Serina terdiam sesaat. Tangan yang nggenggam belati bayangan bergetar. "Aku..."

Tapi sebelum ia bisa lanjutkan, entitas dalam dirinya nggeram, ngendalikan tubuhnya sekali lagi. "Cukup!"

Ia ngangkat tangannya, dan makhluk-makhluk bayangan nyerbu Kaelen dan Penjaga Ingatan. Dengan satu ayunan, Kaelen nebas makhluk pertama yang ndekat. Cahaya dari pedangnya ledak, mbakar makhluk itu hingga lenyap. Satu per satu, ia nyerang dengan gerakan cepat, nghindari cakar-cakar gelap yang ncoba ncengkeramnya.

Penjaga Ingatan bergumam dalam bahasa kuno, nciptakan lingkaran cahaya di sekeliling reka untuk nahan makhluk yang tersisa. "Aku bisa nahan reka sentara! Tapi kau harus nyelamatkan Serina sekarang!"

Kaelen ngangguk dan lompat ke depan, nebas serangan-serangan bayangan yang ngarah padanya. Ia ndekati Serina, yang kini tampak berjuang dalam tubuhnya sendiri.

"Kaelen... tolong aku..." suaranya terdengar lebih lemah kali ini.

Di dalam pikirannya, Serina berlari lewati lorong gelap tanpa ujung. Suara bisikan ngelilinginya, nariknya semakin dalam. 'Berhentilah lawan,' suara itu berdesis. 'Kau milikku sekarang.' Tetapi di kejauhan, ia ndengar suara lain. Suara yang hangat. 'Serina, lawan dia!' Kaelen...

Kaelen tidak ragu. Ia nghunus pedangnya, ngarahkannya ke dada Serina. "Maafkan aku, Serina. Aku akan ngakhiri ini."

Dan dengan satu dorongan, ia nusukkan pedangnya langsung ke jantung kegelapan di dalam dirinya.

Jeritan ngerikan bergema di seluruh gua. Cahaya terang ledak dari tubuh Serina, nghancurkan semua bayangan di sekeliling reka. Makhluk-makhluk yang tersisa njerit sebelum nghilang sepenuhnya.

Kaelen jatuh berlutut, napasnya terengah-engah. Di hadapannya, Serina terjatuh, tubuhnya kembali seperti semula, tetapi matanya masih tertutup.

Penjaga Ingatan ndekat, letakkan tangannya di bahu Kaelen. "Kau berhasil."

Kaelen nggenggam tangan Serina. "Serina... bangunlah."

Keheningan nggantung di udara. Untuk beberapa saat, tidak ada yang terjadi.

Lalu, perlahan-lahan, kelopak mata Serina bergetar sebelum akhirnya terbuka.

"Kaelen..." suaranya kembali seperti dulu, lembut dan penuh kehangatan.

Kaelen nahan air matanya, rasa kelegaan yang begitu besar.

Namun, sesuatu terasa aneh. Ia natap Serina lebih dekat. Sejenak, hanya sejenak, bayangan hitam lintas di irisnya sebelum lenyap begitu saja.

Serina telah kembali.

Namun, jauh di dalam hatinya, Kaelen tahu ini belum berakhir.

Sesuatu yang lebih besar sedang nunggu reka.

You are reading The Shattered Light Chapter 89: – Cahaya di Antara Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.