Kaelen rasakan hawa dingin njalari punggungnya. Serina yang ia kenal, yang ia perjuangkan untuk kembali, kini natapnya dengan sorot mata asing. Suaranya yang bergetar bukan hanya miliknya, tetapi seperti ada dua orang berbicara bersamaan dari dalam dirinya.
Serina gangi kepalanya, tubuhnya sedikit getar. "Kaelen... apa yang terjadi padaku?"
Kaelen natapnya dengan penuh kebingungan. "Kau... kau kembali, tapi sesuatu dalam dirimu berubah."
Penjaga Ingatan nghela napas, lalu langkah lebih dekat. "Ia tidak kembali sendirian."
Kaelen noleh tajam. "Apa maksudmu?"
Pria tua itu natap Serina dengan mata penuh kebijaksanaan, tetapi juga kehati-hatian. "Ketika jiwa ditarik kembali dari kehampaan, terkadang ia tidak datang sendiri. Ada sesuatu... atau seseorang... yang ikut bersamanya."
Serina terengah-engah, tangannya ncengkeram tanah. Bayangan mulai rayapi kulitnya, berdenyut seolah berusaha ngambil alih tubuhnya. "Ada suara di kepalaku... suara yang bukan milikku."
Kaelen langsung berlutut di sampingnya, nggenggam bahunya. "Serina, fokus padaku! Siapa pun atau apa pun yang bersamamu, kau lebih kuat dari reka."
Namun, Serina hanya nggeleng lemah. "Aku tidak yakin... Kaelen, aku takut."
Tiba-tiba, tubuhnya tersentak. Wajahnya negang, dan tatapan ketakutan berubah njadi kehampaan.
Penjaga Ingatan nundukkan kepalanya sedikit. "Ini lebih buruk dari yang kuduga. Jiwa yang lain itu... bukan hanya nempel. Ia berusaha nyatu dengannya."
Kaelen negang. "Bagaimana cara kita nghentikannya?"
Sebelum Penjaga Ingatan bisa njawab, tubuh Serina tiba-tiba negang. Mata hitam pekat nggantikan irisnya, dan angin kencang berputar di dalam gua. Energi yang ngerikan keluar dari tubuhnya, mbuat batu-batu di sekitar reka bergetar. Udara di sekitar reka njadi berat, seperti dihantui oleh sesuatu yang tak terlihat.
Dari bibir Serina, sebuah suara yang lebih dalam keluar, suara yang bukan miliknya. "Serina... hanyalah wadah."
Kaelen rasakan darahnya mbeku. "Siapa kau?"
Serina tersenyum, tetapi itu bukan senyumannya. "Aku adalah yang terlupakan. Yang tersegel dalam kehampaan. Dan kini, aku akhirnya nemukan pintu untuk kembali."
Tanpa peringatan, Serina lompat mundur dengan kelincahan yang bukan miliknya. Tangannya terangkat, dan dari telapak tangannya, bayangan manjang dengan bentuk seperti belati. Ia nyerang tanpa ragu.
Kaelen hampir tak sempat nghindar. Ia mblokir serangan itu dengan pedangnya, tetapi kekuatan Serina lebih besar dari sebelumnya. Ia terdorong ke belakang, kakinya terseret di tanah. Percikan api muncul dari benturan pedang dan belati bayangan, nyala sekejap sebelum nghilang dalam kegelapan.
"Serina, kau harus lawan ini!" serunya.
Serina—atau entitas yang ngendalikannya—hanya tertawa. "Kau bodoh jika berpikir ia masih ada. Serina yang kau kenal telah pergi. Kini, hanya aku."
Kaelen ngepalkan tinjunya. "Aku tidak akan mpercayainya."
Ia nghunus pedangnya dengan lebih erat, bersiap nghadapi pertarungan yang tak pernah ia bayangkan. Jika ingin mbawa Serina kembali, ia harus nghadapi sosok yang kini ngendalikan tubuhnya.
Namun sebelum ia sempat nyerang, bayangan di sekitar gua mulai bergerak, nggeliat seolah miliki nyawa sendiri. Sosok-sosok samar mulai muncul dari kegelapan, rangkak di dinding gua dan berjalan tanpa suara di lantai batu.
Kaelen najamkan pandangannya. "Apa ini?"
Serina—atau entitas dalam dirinya—tersenyum miring. "Kau pikir hanya aku yang kembali?"
Makhluk-makhluk bayangan itu semakin ndekat, mata reka kosong, tubuh reka bergetar seakan baru saja keluar dari dunia lain. reka adalah sisa-sisa jiwa yang terjebak dalam kehampaan, dan kini, reka haus akan kehidupan.
Penjaga Ingatan mundur selangkah, suaranya dipenuhi ketegangan. "Kaelen, kita harus bertindak cepat. Jika reka sepenuhnya muncul ke dunia ini, tidak ada yang bisa nghentikan reka."
Kaelen narik napas dalam. "Kalau begitu, kita tidak akan mbiarkan reka."
Ia ngangkat pedangnya, cahaya redup dari bilahnya berkedip sejenak. Bayangan di sekitarnya mulai bergerak liar, seolah rasakan perlawanan.
Serina—atau apa pun yang ngendalikannya—ngangkat tangannya perlahan, dan makhluk-makhluk bayangan itu bergetar, bersiap nyerang.
Pertarungan pun dimulai.
Reviews
All reviews (0)