Kaelen natap Serina yang masih terbaring di tanah, napasnya belum stabil. ski matanya telah terbuka dan suaranya kembali terdengar, sesuatu di dalam dirinya masih terasa asing. Cahaya obor di gua berpendar lembut di kulit pucatnya, tetapi tidak nghangatkan suasana. Serina telah kembali, namun Kaelen tak bisa nghilangkan keraguan dalam benaknya.
"Bagaimana perasaanmu?" Kaelen bertanya pelan, suaranya sedikit bergetar.
Serina berkedip, lalu ngangkat tangannya seolah ncoba rasakan keberadaannya sendiri. "Aku... tidak tahu."
Kaelen ngerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Serina natapnya, kali ini dengan sorot mata yang tidak sepenuhnya ia kenali. "Aku rasa seperti ada sesuatu yang tertinggal... atau sesuatu yang hilang."
Keheningan nggantung di antara reka. Kaelen ingin yakinkannya, ingin ngatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi ia sendiri tidak yakin. Ia tahu konsekuensi dari nghidupkan kembali sesuatu yang telah hilang. Tidak ada yang kembali tanpa perubahan.
"Coba berdiri," kata Kaelen akhirnya.
Serina ngangguk perlahan, lalu berusaha bangkit. Namun, begitu ia ncoba nopang tubuhnya, lututnya lemah. Kaelen bergerak cepat, nangkapnya sebelum ia jatuh kembali ke tanah.
Serina nggigit bibirnya. "Aku lemah..."
Kaelen nggeleng. "Itu wajar. Kau telah terjebak di antara kehidupan dan kematian. Tubuhmu butuh waktu untuk nyesuaikan diri."
Serina natapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, lalu narik napas dalam-dalam. "Aku tidak hanya rasa lemah secara fisik, Kaelen... Aku rasa seperti bukan diriku sendiri."
Kaelen terdiam. Kata-kata itu nggores hatinya lebih dalam dari yang ia harapkan. Ia sudah nduga kemungkinan ini, tetapi ndengarnya langsung dari mulut Serina mbuat kenyataan itu semakin sulit diterima.
Sebelum ia bisa njawab, suara langkah kaki bergema di dalam gua. Kaelen langsung siaga, ncabut pedangnya.
Dari balik bayangan, sesosok pria tua dengan jubah abu-abu muncul. Penjaga Ingatan.
"Kau berhasil mbawanya kembali," katanya dengan nada datar, matanya neliti Serina seolah sedang nilai sesuatu.
Kaelen ngangguk. "Tapi ada yang berbeda."
Penjaga Ingatan natap Serina lebih lama, lalu akhirnya berbicara, "Tentu saja ada yang berbeda. Setiap jiwa yang kembali mbawa sesuatu yang baru... atau kehilangan sesuatu yang lama."
Serina natap pria tua itu. "Apa yang hilang dariku?"
Penjaga Ingatan nghela napas, lalu langkah lebih dekat. "Itulah yang harus kau cari sendiri."
Serina ngepalkan tangannya. "Aku tidak ingin teka-teki. Jika kau tahu sesuatu, katakan!"
Pria tua itu hanya tersenyum samar. "Jawaban ada di dalam dirimu. Namun... apakah kau siap untuk nemukannya?"
Serina mbuka mulutnya untuk njawab, tetapi sebelum ia bisa berkata apa pun, rasa sakit tiba-tiba nghantam kepalanya. Ia terhuyung, gangi pelipisnya dengan ekspresi kesakitan.
"Serina!" Kaelen segera ndekapnya, tetapi ia hanya ngerang, seolah ada sesuatu yang narik kesadarannya ke arah yang tak terlihat.
"Ini sudah dimulai," bisik Penjaga Ingatan.
Kaelen natapnya tajam. "Apa maksudmu?"
Pria tua itu ngangkat satu alis. "Ia mulai lihat ingatan yang tidak seharusnya ada."
Kaelen mbeku. "Apa?"
Namun sebelum Penjaga Ingatan bisa njawab, mata Serina tiba-tiba terbuka lebar, tetapi kali ini, tatapannya bukan tatapan yang Kaelen kenal. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalam dirinya.
Tiba-tiba, dunia di sekelilingnya bergetar. Bayangan-bayangan lintas di benaknya—wajah-wajah yang ia kenali, tetapi tidak pernah ia ingat. Suara-suara bergema, berbisik nama-nama yang asing tetapi terasa begitu dekat.
Dengan suara yang nyaris seperti bisikan angin, Serina berbicara. Tetapi suaranya terdengar seperti dua orang berbicara bersamaan.
"Siapa... aku?"
Reviews
All reviews (0)