Cahaya hitam yang ledak dari tubuh Serina nelan segalanya dalam kegelapan yang pekat. Kaelen tersentak ke belakang, tubuhnya terasa seakan jatuh ke dalam kehampaan yang tak berujung. Ia ncoba raih pedangnya, tetapi gravitasi tak lagi terasa nyata. Hanya suara Serina yang tersisa, bergaung dalam benaknya.
"Cukup."
Tiba-tiba, ia rasakan pijakan di bawah kakinya. Pandangannya kembali, dan ia nemukan dirinya berdiri di tempat yang berbeda. Tidak lagi di hamparan tanah kosong, tetapi di padang rumput yang familiar. Langit di atasnya berwarna rah keemasan, seperti matahari senja yang tak pernah tenggelam. Namun, udara di sekitarnya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini.
Di tengah padang itu, Serina berdiri. Namun kali ini, bukan sosok bayangan seperti sebelumnya. Rambutnya bergerak lembut ditiup angin, matanya kembali seperti dulu—penuh kehidupan, tetapi juga penuh luka.
"Kaelen..." suaranya bergetar.
Kaelen ngambil langkah maju, tetapi Serina ngangkat tangan, nghentikannya.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya, suaranya dingin. "Kau sudah lupakanku sekali. Apa jaminan bahwa kau tidak akan lupakanku lagi?"
Kaelen ngepalkan tinjunya. "Aku tidak milih untuk lupakanmu, Serina. Aku kehilangan ingatanku karena harga dari kekuatanku. Tapi sekarang, aku telah ngingat segalanya. Aku tidak akan mbiarkanmu terjebak di sini."
Serina natapnya tajam. "Bagaimana jika aku tidak ingin kembali?"
Kaelen terdiam, ncoba mahami arti kata-kata itu. "Apa maksudmu?"
Serina mbuang napas panjang, lalu natap tangannya sendiri. "Sejak aku berada di antara kehidupan dan kematian, aku telah lihat semuanya dari sudut yang berbeda. Aku lihat penderitaan dunia ini, peperangan yang terus berulang. Aku lihat bagaimana kau ngorbankan bagian dari dirimu hanya untuk terus maju."
Matanya berkilat penuh rasa sakit. "Aku tidak ingin kembali hanya untuk njadi kenangan lain yang harus kau korbankan."
Kaelen rasakan hantaman keras di dadanya. "Serina... aku tidak akan mbiarkan itu terjadi. Aku akan lindungimu."
Serina tersenyum tipis, tetapi bukan senyuman yang hangat. "Kau selalu ngatakan itu. Tapi lihatlah dirimu. Kau bahkan tidak bisa lindungi ingatanmu sendiri."
Kaelen terdiam, tetapi kemudian ia ngangkat wajahnya, tatapannya penuh tekad. "Maka biarkan aku mbuktikannya."
Serina natapnya lama, lalu akhirnya berkata, "Jika kau benar-benar ingin aku kembali... Kau harus nunjukkan bahwa dunia ini masih miliki sesuatu yang berharga untukku."
Kaelen ngangguk mantap. "Aku akan lakukannya."
Angin bertiup lebih kencang, dan Serina mulai nghilang dalam cahaya lembut. "Kaelen... jangan buat aku nyesali ini."
Cahaya itu semakin terang, dan dalam sekejap, dunia tempat reka berdiri mulai runtuh. Angin berputar semakin kencang, dan suara bisikan samar terdengar di sekeliling reka, seperti bayangan-bayangan yang enggan lepaskan Serina.
Kaelen terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya masih berada di dalam gua, tetapi sesuatu terasa berbeda. Cahaya redup di dalam gua berpendar lebih hangat, dan di depannya, tubuh Serina yang selama ini tak terlihat kini perlahan mulai tampak.
Ia bergerak cepat, ndekat, dan berlutut di sampingnya. "Serina?"
Mata Serina terbuka perlahan. Pandangannya masih buram, tetapi tatapan itu tak lagi kosong. Namun, di balik kejernihan itu, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak sepenuhnya seperti dulu.
Kaelen nyentuh wajahnya perlahan, takut bahwa Serina akan kembali njadi bayangan dan nghilang di hadapannya. "Katakan sesuatu... buktikan bahwa ini nyata."
Serina berkedip perlahan, lalu bibirnya terbuka sedikit. Suaranya lirih, tetapi jelas. "Kaelen... apakah aku benar-benar kembali?"
Kaelen rasakan dadanya sesak, tetapi kali ini bukan karena kesedihan—lainkan karena harapan. Namun, di dalam dirinya, sebuah pertanyaan baru muncul.
Serina telah kembali ke dunia ini.
Tapi... apakah ia masih Serina yang sama?
Reviews
All reviews (0)