Kaelen berdiri diam di tengah gua yang sunyi. Bayangan Serina yang samar masih bergetar di dinding batu, seolah enggan nghilang. Kata-katanya—Aku nunggumu—terngiang di benaknya, lebih nyata dari sekadar ingatan yang kembali.
Penjaga Ingatan natapnya tanpa ekspresi. "Kau telah ngambil keputusan. Kini, jalan di hadapanmu akan lebih berat dari sebelumnya."
Kaelen narik napas dalam, nenangkan dirinya. "Jika aku telah ndapatkan kembali ingatanku, apakah ada cara untuk nemukan jejak Serina? Sesuatu yang lebih dari sekadar bayangan?"
Penjaga itu ngamati Kaelen sejenak sebelum akhirnya ngangkat tangannya, nunjuk ke bagian terdalam dari gua. "Ada sesuatu yang masih tersembunyi dalam ingatanmu. Untuk nemukannya, kau harus kembali ke tempat terakhir kau lihatnya."
Kaelen ngerutkan kening. "dan perang?"
"Tidak," jawabnya. "Di antara kehidupan dan kematian."
Kaelen rasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Apa maksudmu?"
"Ketika kau nggunakan kekuatanmu untuk nyelamatkan yang lain, ingatanmu tentang Serina terhapus. Tetapi kau tidak hanya lupakan dirinya. Kau juga nghapus keberadaannya dari dunia ini."
Kaelen mbeku di tempatnya. "Tidak... itu tidak mungkin."
Penjaga Ingatan ngangguk. "Jiwanya tidak pernah benar-benar pergi, tetapi juga tidak benar-benar hidup. Dia tertinggal di antara dua dunia, terjebak dalam kekosongan yang kau ciptakan."
Pikiran Kaelen berputar cepat. Jika Serina benar-benar berada di antara dua dunia, itu berarti ada kemungkinan ia bisa ngembalikannya. Tapi bagaimana?
"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya.
Penjaga Ingatan ndekat, suaranya lebih pelan. "Kau harus masuk lebih dalam ke dalam jiwamu sendiri, nemukan bagian yang hilang, dan mbawanya kembali."
Kaelen ngepalkan tangannya. "Dan jika aku gagal?"
"Jika kau gagal," katanya dengan nada dingin, "kau mungkin tidak akan kembali."
Keheningan nggantung di udara. Namun, Kaelen tidak ragu. Jika ada kesempatan, sekecil apa pun, untuk nemukan Serina lagi, ia tidak akan nyia-nyiakannya.
"Aku siap," katanya dengan mantap.
Penjaga Ingatan natapnya sejenak sebelum ngangkat kedua tangannya. Cahaya keemasan mulai berpendar di sekitar Kaelen, semakin terang, semakin intens. Dunia di sekelilingnya berputar, dan sebelum ia bisa narik napas terakhir di dunia nyata, kesadarannya terseret ke dalam kegelapan.
Saat Kaelen mbuka matanya, ia tidak lagi berada di gua. Ia berdiri di hamparan tanah kosong, dikelilingi oleh bayangan yang terus bergerak. Langit di atasnya berwarna abu-abu gelap, tanpa bintang, tanpa cahaya. Udara di sekelilingnya berat, seakan dipenuhi oleh bisikan yang tak terdengar.
Ia rasakan sesuatu di udara. Sebuah kehadiran yang familiar.
"Serina?" suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban, tetapi ada suara langkah kecil di kejauhan.
Kaelen berlari ke arah suara itu, nerobos kabut yang nyelimuti tempat ini. Semakin jauh ia berlari, semakin dingin udara di sekelilingnya. Jari-jarinya mulai mati rasa, tetapi ia tidak peduli.
Lalu, ia lihatnya.
Di tengah kegelapan, di antara bayangan yang berputar tanpa arah, berdiri seorang wanita. Rambut hitam panjangnya berkibar pelan, dan busurnya tergenggam lemah di tangannya. Serina.
Kaelen berhenti, napasnya tercekat. "Serina..."
Wanita itu perlahan noleh, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mata reka bertemu. Mata Serina yang dulu tajam kini terlihat kosong, seolah jiwanya telah lama terombang-ambing di antara kehampaan.
"Kaelen?" suaranya kecil, hampir tidak terdengar.
Kaelen langkah maju. "Ini aku, Serina. Aku datang untuk mbawamu pulang."
Serina miringkan kepalanya sedikit, seakan ncoba ngingat. Kemudian, tiba-tiba, ekspresinya berubah. Mata kosongnya mulai bersinar dengan cahaya aneh, dan tubuhnya bergerak dalam posisi bertahan.
"Kau bukan Kaelen," katanya pelan, tetapi penuh bahaya. "Kaelen telah lupakanku. Kau... hanya bayangan."
Kaelen rasakan hawa dingin njalari tubuhnya. "Tidak, aku benar-benar di sini! Aku ngingatmu, aku ngingat segalanya!"
Serina tidak bergerak. Tangannya perlahan raih busurnya, dan dalam sekejap, anak panah hitam muncul di genggamannya.
"Buktikan padaku," katanya dengan suara yang nyaris seperti bisikan angin. "Buktikan bahwa kau bukan sekadar hantu lain yang ncoba nipuku."
Lalu, ia nembakkan panahnya langsung ke arah Kaelen.
Kaelen nyaris tidak sempat nghindar. Panah itu lesat cepat, hanya beberapa inci dari wajahnya. Ia bisa rasakan energi gelap yang nyertainya, sesuatu yang tidak pernah dimiliki Serina sebelumnya.
"Serina! Ini aku!" Kaelen berusaha ndekat, tetapi Serina nyiapkan panah berikutnya.
"Semuanya bohong," katanya pelan. "Aku sudah mati, Kaelen. Aku tidak bisa kembali."
Kaelen nggertakkan giginya. "Aku tidak akan mbiarkanmu tetap di sini. Kau tidak mati! Kau hanya terjebak, dan aku akan mbawamu pulang, apa pun yang terjadi!"
Serina natapnya lama, lalu narik tali busurnya sekali lagi. "Kalau begitu... kalahkan aku."
Angin di sekeliling reka mulai berputar lebih kencang, dan kegelapan semakin pekat. Kaelen tahu ia tidak punya pilihan lain.
Jika ia ingin nyelamatkan Serina, ia harus bertarung lawannya terlebih dahulu.
Dengan hati yang berat, ia nghunus pedangnya. "Kalau ini satu-satunya cara..."
Serina lepaskan panahnya, dan Kaelen berlari ke arahnya.
Tiga panah lesat bersamaan, masing-masing nuju titik vitalnya. Kaelen nyaris tidak sempat nangkisnya dengan pedangnya, tetapi satu panah berhasil nggores bahunya, ninggalkan luka dingin seperti es.
Serina bergerak cepat, lompat ke udara, lepaskan serangan bertubi-tubi tanpa ragu. Kaelen bertahan mati-matian, hatinya berteriak bahwa ini bukan Serina yang ia kenal.
Saat pedangnya hampir ncapai Serina, tiba-tiba cahaya hitam ledak dari tubuhnya. Sebuah suara nggema di antara kegelapan.
"Cukup."
Dalam sekejap, dunia bayangan itu mulai runtuh di sekeliling reka.
Reviews
All reviews (0)