Kaelen berdiri kaku di hadapan pusaran cahaya yang terus berputar, suara Serina masih bergema di benaknya. Rasa dingin rayapi punggungnya, tetapi ia tak lagi ragu. Ia telah mutuskan untuk langkah lebih dalam, ski itu berarti nghadapi semua luka yang pernah ia lupakan.
Ia ngulurkan tangannya sekali lagi.
Begitu jari-jarinya nyentuh pusaran itu, gelombang rasa sakit nghantam kepalanya. Napasnya tersengal, seakan ada kekuatan yang ncoba nariknya kembali. Dadanya sesak, seolah-olah ada sesuatu yang robek jiwanya, maksanya lihat apa yang telah ia lupakan.
Ia berdiri di tengah lorong panjang yang tak berujung. Udara di sekelilingnya dingin dan lembap, seolah ia langkah ke dalam dunia yang telah lama terkunci. Cahaya redup berkelip di sepanjang dinding, tetapi semakin ia berjalan, semakin redup cahaya itu, seakan nghindarinya. Langkah kakinya nggema, tetapi suara itu bukan hanya miliknya. Ada suara langkah lain, samar, nyertainya.
"Kaelen..."
Ia noleh cepat. Sosok samar berdiri di ujung lorong, tubuhnya terselimuti kabut. Sosok itu tampak familiar, tetapi wajahnya tetap kabur, seperti ingatan yang hampir bisa ia sentuh namun selalu njauh.
"Serina?" suaranya hampir berbisik.
Sosok itu tidak njawab. Sebaliknya, ia berbalik dan berjalan njauh, bayangannya perlahan nghilang dalam kegelapan.
Kaelen mpercepat langkahnya. "Tunggu!"
Setiap langkah semakin berat. Napasnya mburu. Udara terasa semakin dingin, dan dinding di sekelilingnya mulai berubah, dari batu njadi reruntuhan dan perang yang ia kenal.
Ia kembali ke masa itu.
Hujan deras nampar wajahnya. Bau darah nuhi udara. Suara dentingan pedang bertabrakan dengan jeritan para prajurit yang gugur. Pasukan Ordo Cahaya bergerak seperti gelombang yang tak henti-hentinya nekan pertahanan terakhir reka. Serina berdiri di depannya, tubuhnya tertutup luka, tetapi tangannya tetap erat nggenggam busur.
"Kita tak bisa nahan reka lebih lama," kata Serina, suaranya terengah-engah.
Kaelen rasakan sesuatu dalam dirinya—ketakutan yang ia tak ingat pernah ada. "Kita harus mundur. Kita akan nemukan cara lain."
Serina tersenyum tipis, tetapi di balik senyuman itu, ada kepastian yang mbuat jantung Kaelen berdegup lebih kencang.
"Aku akan nahan reka di sini."
Kaelen nggeleng keras. "Jangan bodoh! Kita pergi bersama!"
Tetapi Serina sudah ngangkat busurnya, nembakkan anak panah bertubi-tubi ke arah musuh. Kaelen ingin nariknya pergi, tetapi tiba-tiba cahaya putih nyilaukan ledak di sekeliling reka. Pasukan Ordo Cahaya nghancurkan garis pertahanan terakhir.
Dan kemudian, di antara kilatan pedang dan hujan deras, Kaelen lihatnya.
Eryon.
Pedangnya bergerak cepat, nusuk nembus dada Serina.
"Tidak!!!"
Kaelen berlari, tetapi segalanya lambat. Serina terjatuh, darah ngalir dari bibirnya, matanya ncari sesuatu... atau seseorang.
Kaelen berlutut di sampingnya, ndekap tubuhnya yang lemah.
Serina tersenyum samar, ski kesakitan. "Kaelen... jangan lupakan..."
Kaelen nggenggam tangannya erat. "Aku tidak akan lupakanmu! Aku janji!"
Tetapi Serina hanya tersenyum, dan kemudian dunia kembali hancur.
Kaelen tersentak, terlempar keluar dari pusaran cahaya. Napasnya berat, tubuhnya getar, dan air mata yang tak ia sadari mulai ngalir di pipinya.
Ia ngingat segalanya.
Penjaga Ingatan berdiri di dekatnya, natapnya dengan tenang. "Sekarang kau tahu."
Kaelen ngepalkan tinjunya. "Aku telah lupakan seseorang yang seharusnya kuingat selamanya."
"Kini, kau miliki pilihan," kata Penjaga Ingatan. "Terus maju dengan ingatan yang telah kembali... atau nguburnya sekali lagi."
Kaelen natap pusaran cahaya yang kini mulai redup. Ia tahu, apa pun pilihannya, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
"Ingatlah, Kaelen," suara Penjaga Ingatan lebih dalam kali ini, "Setiap ingatan mbawa konsekuensinya. Rasa bersalah, kemarahan, keputusasaan—semua akan kembali seperti luka yang belum sembuh. Kau yakin ingin nanggungnya?"
Kaelen tidak ragu lagi. Ia berdiri perlahan, matanya penuh tekad. "Aku tidak akan lupakannya lagi."
Saat Kaelen berbalik, angin di gua itu berubah. Samar, di antara bayangan yang bergetar di dinding, ia lihat sesuatu—sebuah siluet yang familiar. Suara Serina berbisik sekali lagi, kali ini lebih jelas. "Aku nunggumu..."
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Kaelen rasa utuh kembali.
Reviews
All reviews (0)