Font Size
15px

Kaelen natap nama yang terukir di bawah ukiran itu—Serina. Bibirnya ngucapkan nama itu perlahan, tetapi tidak ada ingatan yang muncul. Hanya perasaan kosong yang ngiris dadanya seperti pisau. Ia noleh ke arah Penjaga Ingatan, berharap ndapat jawaban.

"Apa yang terjadi padanya?" suara Kaelen bergetar.

Penjaga Ingatan natapnya dalam-dalam, lalu berjalan lebih dalam ke gua. "Kau ingin tahu kebenarannya? Maka kau harus lihatnya sendiri."

Kaelen ngikuti pria itu, langkahnya berat oleh ketidakpastian. reka lewati lorong sempit yang diterangi oleh nyala obor, hingga akhirnya reka tiba di sebuah ruangan luas dengan pilar-pilar batu yang njulang tinggi. Di tengah ruangan itu, ada sebuah altar kuno yang dipenuhi ukiran serupa dengan yang ada di dinding.

Penjaga Ingatan naruh tangannya di atas altar, dan tiba-tiba cahaya keemasan nyebar, nciptakan pusaran energi di udara. "Sentuh ini, dan kau akan lihat apa yang telah terlupakan."

Kaelen nelan ludah. Begitu jari-jarinya nyentuh pusaran itu, gelombang rasa sakit nghantam kepalanya. Dadanya sesak, seolah-olah ada sesuatu yang robek jiwanya, maksanya lihat apa yang telah ia lupakan. Kilatan cahaya dan bayangan bertabrakan di benaknya, nciptakan rasa mual yang hampir mbuatnya roboh.

Ia berdiri di tengah dan perang. Hujan turun deras, dan bau darah nuhi udara. Di depannya, seorang wanita dengan rambut hitam panjang bertarung mati-matian lawan pasukan Ordo Cahaya. Gerakannya lincah, setiap anak panah yang dilepaskannya nghantam musuh dengan presisi sempurna. Matanya penuh tekad, tetapi juga rasa putus asa.

"Kaelen!" suara wanita itu nggema dalam ingatannya.

Kaelen rasa jantungnya berdegup kencang. Wanita itu... Serina.

Ia lihat dirinya sendiri di masa lalu, berdiri di samping Serina, terluka parah tetapi tetap bertarung. Serina lindunginya, ngorbankan dirinya untuk mberi Kaelen kesempatan larikan diri.

Kaelen ncoba berlari, tetapi kakinya terasa tertanam di tanah. "Tidak..." Ia ingin berteriak, ingin nghentikan pedang itu sebelum nembus tubuh Serina, tetapi segalanya bergerak seperti mimpi buruk yang tidak bisa ia ubah. Darah ngalir di tanah. Matanya bertemu dengan mata Serina yang terakhir kalinya—dan di dalamnya, ada sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.

Lalu, kilatan cahaya. Serina njerit ketika pedang Eryon nembus tubuhnya.

Kaelen terjatuh ke tanah, berteriak, tetapi suaranya tak terdengar.

Lalu semuanya njadi hitam.

Kaelen tersentak mundur dari altar, tubuhnya getar hebat. Dadanya naik turun saat ia ncoba mahami apa yang baru saja ia lihat. "Aku... aku lupakannya."

Penjaga Ingatan ngangguk. "Karena kau milih kekuatan, ingatan tentangnya terhapus. Tetapi itu bukan berarti dia benar-benar hilang."

Kaelen ngepalkan tangannya, rasa bersalah mbakar dadanya. "Aku tidak bisa mbiarkan ini. Jika ada cara untuk ngingatnya, aku harus nemukannya."

Penjaga Ingatan natapnya dengan tatapan penuh arti. "Jika kau masuk lebih dalam," katanya, suaranya lebih serius, "kau mungkin tidak hanya ngingatnya... kau mungkin juga rasakan semua penderitaan yang datang bersamanya. Kau yakin bisa nanggungnya?"

Kaelen natap altar itu sekali lagi, lalu ngangguk. "Aku akan lakukannya."

Pusaran cahaya semakin cepat berputar, dan sebelum Kaelen bisa berkata apa-apa, suara bergema di pikirannya.

"Kaelen..."

Itu suara seorang wanita. Suara yang pernah ia kenal. Suara yang kini manggilnya dari balik kegelapan.

Dalam ruangan yang sunyi, pusaran cahaya kembali berputar, dan perjalanan Kaelen untuk nemukan kembali Serina baru saja dimulai.

You are reading The Shattered Light Chapter 83: – Bayangan yang Kembali on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.