Font Size
15px

Kaelen langkah nyusuri jalan berbatu yang nuntunnya ke utara, ninggalkan reruntuhan dan sisa-sisa perang di belakangnya. Pegunungan yang diselimuti kabut tampak semakin dekat, nyambutnya dengan angin dingin yang nusuk kulit. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena ketidakpastian yang nggelayuti pikirannya.

Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan, atau apakah pencariannya akan mbuahkan hasil. Yang ia tahu hanyalah satu hal: di suatu tempat di antara puncak-puncak yang tertutup awan itu, ada seseorang yang mungkin miliki jawaban atas kehampaan di dalam dirinya.

Dua hari berlalu sejak Kaelen ninggalkan Lyra dan Eryon. Ia kini berada di jalur setapak yang nanjak tajam di antara tebing-tebing curam. Kabut tebal nghalangi jarak pandangnya, hanya nyisakan beberapa ter sebelum segalanya larut dalam abu-abu pekat. Udara tipis mbuat napasnya lebih berat, tetapi ia terus berjalan, didorong oleh tekad yang tak bisa dijelaskan.

Angin berdesir kencang, mbawa suara yang samar-samar seperti bisikan. Kaelen negakkan mantel lusuhnya, mastikan pedangnya masih terikat di punggungnya. Suara langkah kaki lain terdengar di belakangnya.

Kaelen berhenti, matanya neliti kabut di sekelilingnya. Tangannya perlahan bergerak ke gagang pedangnya.

"Siapa di sana?" suaranya bergema di antara batu-batu.

Hening.

Lalu, dari balik kabut, sebuah suara terdengar. "Kaelen Draven..."

Jantungnya berdegup lebih kencang. Suara itu terdengar akrab, tetapi ia tidak bisa ngingat dari mana ia ngenalnya.

Bayangan mulai muncul dari kabut. Seorang pria berkerudung hitam dengan mata tajam berwarna perak berdiri beberapa langkah di depannya. Wajahnya tertutup setengah oleh kain, tetapi auranya ngisyaratkan bahwa ia bukan orang biasa.

Kaelen langkah mundur, jari-jarinya semakin erat nggenggam pedangnya. "Aku tidak ngikuti orang asing begitu saja."

Pria itu tetap diam, matanya yang berwarna perak seperti nembus Kaelen. "Namun aku bukan orang asing bagimu."

Kaelen ngerutkan kening, tetapi sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, pria itu ngangkat tangannya perlahan, nunjuk ke arahnya. "Kau telah kehilangan seseorang yang penting. Tetapi kehilangan itu bukan hanya karena kekuatanmu... ada sesuatu yang lebih dalam yang telah diambil darimu."

Kaelen natapnya tajam. "Apa maksudmu?"

Pria itu berbalik dan mulai berjalan ke dalam kabut. "Jika kau ingin jawaban, ikutlah denganku."

Kaelen ragu sejenak, tetapi dorongan dalam hatinya ngatakan bahwa ia harus ngikuti pria itu.

reka berjalan selama hampir satu jam sebelum tiba di sebuah gua tersembunyi di balik tebing curam. Dinding gua dipenuhi ukiran-ukiran kuno, bercahaya redup dalam warna keemasan dan perak. Suhu di dalam gua lebih hangat dibandingkan di luar, tetapi ada sesuatu yang mbuat udara di sini terasa lebih berat, seolah dipenuhi oleh sejarah yang terlupakan.

Pria itu nyalakan obor dan langkah lebih dalam. "Aku adalah Penjaga Ingatan. Aku ngawasi reka yang telah dilupakan dunia."

Kaelen natap ukiran di dinding. Beberapa di antaranya nggambarkan pertempuran besar, lainnya nunjukkan sosok-sosok yang samar, seolah reka telah dihapus dari sejarah.

Matanya tertuju pada salah satu ukiran yang lebih besar dari yang lain. Itu bukan sekadar gambar—Kaelen rasa ada sesuatu dalam ukiran itu yang beresonansi dengannya.

Seorang prajurit wanita dengan busur di punggungnya, berdiri di tengah pertempuran, wajahnya tertutup bayangan.

Kaelen nyentuh ukiran itu. Seketika, kepalanya terasa berdenyut, dan kilasan-kilasan bayangan lintas di pikirannya. Sosok wanita itu kini lebih jelas—mata yang tajam, rambut hitam yang berkibar ditiup angin, suara yang familiar tetapi tak bisa ia kenali.

Namun, sebelum ia bisa lihat lebih jelas, gambaran itu nghilang.

Kaelen terengah-engah, berpegangan pada dinding gua. "Apa yang terjadi?"

Penjaga Ingatan natapnya dengan penuh perhatian. "mori yang telah terhapus tidak bisa kembali begitu saja. Kau harus nghidupkannya kembali, sedikit demi sedikit."

Kaelen ngepalkan tangannya. "Apa yang harus kulakukan?"

Pria itu tersenyum samar. "Temukan bagian dari jiwamu yang hilang. Dan kau akan nemukan orang yang telah kau lupakan."

Namun sebelum Kaelen bisa bertanya lebih lanjut, matanya kembali tertuju pada ukiran itu.

Sekarang, ia nyadari sesuatu yang nggetarkan jiwanya.

Di bawah bayangan sosok wanita itu, tertulis satu nama yang terasa asing, tetapi juga begitu dekat.

Serina.

Dalam keheningan gua yang dipenuhi cahaya redup, Kaelen nyadari bahwa perjalanannya baru saja dimulai, dan kali ini, ia tidak bisa berpaling dari kebenaran yang telah lama tersembunyi.

You are reading The Shattered Light Chapter 82: – Jejak yang Hilang on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.