Font Size
15px

Fajar nyingsing di atas dunia yang baru. Sisa-sisa pertempuran masih tampak di tanah yang berlumuran darah dan abu, tetapi akhirnya, keheningan nggantikan pekik perang. Kota-kota yang dulu tertindas oleh Ordo Cahaya kini terbebas, ski dengan harga yang mahal. Namun, di tengah kenangan, Kaelen rasakan kehampaan yang sulit ia jelaskan.

Ia duduk di atas reruntuhan benteng utama Ordo Cahaya, natap cakrawala yang perlahan berubah warna. Angin berembus lembut, mbawa aroma tanah basah setelah hujan semalam. Di kejauhan, para penyintas mulai mbangun kembali apa yang telah hancur. Di antara bangunan yang runtuh, seorang anak kecil terduduk diam di samping tubuh ibunya yang tak lagi bernyawa, tangannya ncengkeram kain lusuh dengan tatapan kosong. Gambaran itu mbuat dada Kaelen semakin sesak.

Langkah kaki ndekat di belakangnya. "Kau terlihat seperti seseorang yang nangkan perang, tetapi kehilangan sesuatu yang lebih besar."

Kaelen tidak perlu noleh untuk ngetahui siapa yang berbicara. Suara lembut namun tegas itu milik Lyra.

"Apa nurutmu ini benar-benar kenangan?" tanya Kaelen tanpa ngalihkan pandangannya dari horizon.

Lyra duduk di sampingnya, diam sejenak sebelum njawab. "Dunia akhirnya bebas. Tapi aku tahu... bagi kita, kebebasan ini terasa lebih seperti hukuman."

Kaelen ngepalkan tangannya. Ada sesuatu di benaknya yang terus ngganggunya. Seperti bagian dari dirinya yang hilang, sesuatu yang seharusnya ia ingat, tetapi sekarang terasa seperti bayangan samar yang terus njauh semakin ia ncoba nggapainya.

Eryon muncul dari balik reruntuhan, masih ngenakan baju zirahnya yang kini penuh goresan pertempuran. "Pasukan terakhir Ordo Cahaya sudah nyerah. Kota-kota di selatan juga telah kembali ngakui kerdekaan reka. Ini sudah berakhir."

Kaelen natap Eryon. "Sudah berakhir bagi dunia... tapi belum tentu bagi kita."

Eryon ngernyit. "Apa maksudmu?"

Kaelen ngusap pelipisnya, ncoba rangkai kata-kata untuk njelaskan perasaan asing yang terus ngganggunya. "Aku rasa seperti ada sesuatu yang penting yang telah kuhilangkan. Bukan sesuatu—seseorang."

Lyra dan Eryon saling bertukar pandang. Wajah Lyra sedikit mucat, seolah ia tahu apa yang dimaksud Kaelen.

"Serina," gumam Lyra.

Kaelen negang. Nama itu... sesuatu tentang nama itu terasa familiar, tetapi pada saat yang sama asing.

"Serina..." Kaelen ngulanginya, tetapi tidak ada wajah yang muncul di benaknya, tidak ada suara yang bisa ia ingat. Hanya kehampaan.

Lyra nggenggam tangannya. "Kaelen, kau ngorbankan ingatanmu tentangnya saat nggunakan kekuatan penuh untuk nyelamatkan kita."

Jantung Kaelen berdegup lebih kencang. "Aku lupakannya...?"

Eryon nyandarkan tubuhnya ke reruntuhan, nghela napas panjang. "Dia adalah salah satu dari kita. Seorang pejuang yang berjuang hingga akhir. Kau mungkin tidak ngingatnya, tetapi dia tidak akan pernah lupakanmu."

Kaelen jamkan matanya, ncoba nggali sesuatu dari kegelapan pikirannya. Tetapi semakin ia berusaha, semakin hampa rasanya. Sesaat, ia rasa seperti lihat bayangan seseorang berdiri di kejauhan, sosok yang samar di antara kabut. Tetapi begitu ia ncoba nangkapnya, sosok itu nghilang seperti debu tertiup angin.

Setelah beberapa saat hening, Kaelen berdiri. "Aku harus pergi."

Lyra natapnya khawatir. "Ke mana?"

Kaelen natap ke arah utara, di mana pegunungan yang tertutup kabut mbentang jauh. "Jika aku telah kehilangan bagian dari diriku, maka aku harus nemukannya kembali."

Eryon nyeringai tipis. "Jadi kau akan berkelana lagi? Setelah semua ini?"

Kaelen tersenyum samar, skipun hatinya berat. "Perang ini mungkin telah berakhir, tetapi perjalananku belum selesai."

Lyra nggenggam lengan Kaelen, matanya dipenuhi kekhawatiran yang tulus. "Kaelen, jangan sampai kau kehilangan dirimu sepenuhnya dalam pencarian ini."

Kaelen natapnya lembut. "Aku harus tahu siapa yang telah kulupakan. Jika aku tidak bisa ngingatnya, setidaknya aku ingin nemukan jejaknya."

Lyra terdiam, lalu dengan suara hampir berbisik, ia berkata, "Di utara... ada seseorang yang mungkin bisa mbantumu."

Kaelen natapnya tajam. "Siapa?"

Lyra nggigit bibirnya, seolah ragu untuk ngatakannya. "Aku tidak tahu namanya, hanya rumor yang pernah kudengar. Seorang penjaga rahasia, seseorang yang ngetahui kisah reka yang telah dilupakan dunia."

Kaelen ngangguk, tekadnya semakin kuat.

Dengan langkah mantap, Kaelen ninggalkan reruntuhan benteng Ordo Cahaya, langkah nuju takdir yang belum ia pahami.

Di kejauhan, di antara bayangan kabut pegunungan, sesuatu nunggunya. Sebuah kebenaran yang terkubur dalam ingatan yang telah terhapus, dan sebuah perasaan yang skipun ia lupakan, masih tetap ada di hatinya. Saat angin berembus lebih dingin, di balik pepohonan yang redup, sepasang mata ngawasinya dari kejauhan, nanti kedatangannya.

You are reading The Shattered Light Chapter 81: – Bayangan Kehilangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.