Font Size
15px

Kaelen berdiri di tengah reruntuhan, napasnya berat, tangannya masih erat nggenggam pedangnya yang berlumuran darah dan cahaya yang mudar. Grandmaster Ordo Cahaya masih berdiri di hadapannya, ski dengan tubuh yang kini compang-camping dan penuh luka. Namun, matanya tetap dipenuhi keyakinan yang tak tergoyahkan.

Langit di atas reka terus retak, mperlihatkan kehampaan yang seolah nunggu untuk nelan dunia ini. Gema pertarungan di dan perang masih terdengar di kejauhan, namun di sini, di titik pusat pertempuran, waktu seolah berhenti.

"Kaelen Draven," Grandmaster akhirnya berbicara dengan suara berat, nggema di seluruh reruntuhan. "Kau telah berjalan jauh, tetapi kau belum mahami segalanya."

Kaelen ngayunkan pedangnya, nyingkirkan darah yang netes dari ujung bilahnya. "Aku mahami cukup banyak," katanya dengan suara serak. "Bahwa keseimbangan yang kau coba jaga adalah kebohongan. Cahaya yang kau agungkan hanya mbakar segalanya."

Grandmaster tersenyum tipis, lalu ngangkat tangannya. Dari retakan di langit, cahaya suci ngalir turun, nyelimuti tubuhnya yang penuh luka. Dalam hitungan detik, lukanya nutup, dan auranya kembali bersinar.

Kaelen nyipitkan mata. "Kau nyerap kekuatan dari retakan itu?"

Grandmaster nundukkan kepala sedikit. "Ini adalah kehendak Cahaya. Jika dunia harus dihancurkan untuk nemukan kedamaian, maka aku akan njadi alatnya."

Lyra, yang baru saja tiba bersama Eryon di sisi Kaelen, terengah-engah lihat pemandangan itu. "Kaelen, kita harus nghentikannya sebelum dia njadi sesuatu yang lebih buruk!"

Eryon nghunus pedangnya, matanya mbara dengan kebencian. "Tidak ada lagi kata-kata. Hanya satu dari kita yang akan ninggalkan tempat ini hidup-hidup."

Kaelen narik napas dalam. Ia bisa rasakan pedangnya bergetar di tangannya, seolah ikut bereaksi terhadap kekuatan yang luap di sekitar reka. Ini adalah pertarungan terakhir, pertempuran yang akan nentukan apakah dunia ini akan bertahan atau tenggelam dalam kehancuran.

Grandmaster layang di udara, cahaya ngelilinginya seperti aurora yang berkobar. Kaelen nghunus pedangnya, rasakan energi kegelapan dan cahaya yang masih tersisa dalam dirinya. Ia tahu, jika ia nggunakan semua yang dimilikinya, maka tidak akan ada jalan kembali.

"Lyra, Eryon, mundur," katanya pelan, tetapi tegas.

"Tapi—"

"Sekarang."

reka berdua saling bertukar pandang, lalu dengan enggan mundur, mberi Kaelen ruang untuk nghadapi Grandmaster sendirian.

Grandmaster natapnya dengan penuh kenangan. "Kau sendirian, Kaelen."

Kaelen tersenyum kecil. "Aku tidak pernah sendirian."

Lalu, ia lompat ke depan.

Serangan pertama reka nghancurkan tanah di bawah reka. Dentingan logam dan ledakan energi suci serta bayangan nciptakan gelombang kejut yang robek sisa-sisa bangunan di sekitar reka. Kaelen bergerak dengan kecepatan luar biasa, tetapi Grandmaster ngikuti setiap gerakannya dengan presisi ngerikan.

Kaelen luncurkan tebasan ke arah dada Grandmaster, tetapi pria itu nangkis dengan mudah, mutar tubuh dan nembakkan pancaran cahaya ke arahnya. Kaelen lompat ke samping, tetapi energi itu ledak di belakangnya, lemparkannya ke udara.

Namun, alih-alih terjatuh, ia nggunakan montumnya untuk berputar dan nyerang dari atas. Grandmaster nyaris tidak sempat nghindar ketika pedang Kaelen nghantam bahunya, nciptakan luka yang bercahaya seolah terbakar dari dalam.

Grandmaster nggeram, tetapi tidak mundur. "Kau terlalu keras kepala, Kaelen."

Kaelen narik pedangnya, darah bercahaya netes dari bilahnya. "Dan kau terlalu buta."

Pertarungan terus berlanjut, masing-masing dari reka lontarkan serangan demi serangan yang ngguncang seluruh dan pertempuran. Setiap benturan nciptakan percikan energi yang mbuat langit semakin retak, seolah dunia ini nolak keberadaan reka.

Namun, Kaelen tahu ia tidak bisa bertahan lebih lama. Kekuatan Grandmaster terus pulih dari cahaya yang ia serap, sentara tubuhnya sendiri mulai terasa berat, luka-luka kecil mulai numpuk di kulitnya.

Ia butuh akhir.

Ia butuh sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan.

Kaelen berhenti bergerak.

Grandmaster nyipitkan mata. "nyerah?"

Kaelen nutup matanya. "Tidak."

Ia mbuka matanya lagi, dan seketika, sesuatu berubah. Bayangan dan cahaya di tubuhnya mulai berputar, nyatu. Ia tidak lagi hanya nggunakan kekuatan kegelapan atau cahaya, tetapi keduanya sekaligus.

Grandmaster tampak ragu untuk pertama kalinya. "Apa yang kau lakukan?"

Kaelen tersenyum. "nunjukkan bahwa keseimbangan tidak harus berarti kehancuran."

Ia bergerak, lebih cepat dari sebelumnya. Grandmaster berusaha nangkis, tetapi serangannya kini tidak bisa diprediksi. Setiap gerakan Kaelen tidak hanya ngandalkan satu sisi kekuatan, tetapi kombinasi dari keduanya, nciptakan serangan yang tidak bisa diduga.

Akhirnya, Kaelen lihat celah.

Dalam satu tebasan, ia ngayunkan pedangnya ke arah Grandmaster. Pedang itu nembus dada pria itu, tetapi bukan hanya itu—kekuatan di dalamnya ledak, nghapus cahaya yang ia serap.

Grandmaster terbatuk, matanya lebar. "Tidak mungkin..."

Kaelen natapnya dengan tenang. "Ini akhirnya."

Dengan dorongan terakhir, ia narik pedangnya dan ndorong Grandmaster ke belakang. Cahaya yang selama ini nyelimuti tubuhnya mulai nghilang, dan seiring dengan itu, retakan di langit mulai nutup.

Grandmaster jatuh berlutut, natap tangannya yang bergetar. "Cahaya... ninggalkanku?"

Kaelen ngangguk. "Bukan. Kau hanya tidak pernah benar-benar mahaminya."

Perlahan, tubuh Grandmaster hancur njadi serpihan cahaya yang terbawa angin. Seiring dengan itu, perang di bawah reka mulai reda, pasukan Ordo Cahaya yang tersisa njatuhkan senjata reka, seolah-olah reka akhirnya sadar bahwa pertempuran ini telah berakhir.

Kaelen nurunkan pedangnya, napasnya berat. Lyra dan Eryon berlari nghampirinya.

"Kau berhasil..." Lyra berbisik, matanya berkaca-kaca.

Kaelen ngangguk, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, kakinya lemah. Ia hampir terjatuh, tetapi Lyra nangkapnya sebelum ia nyentuh tanah.

Dunia akhirnya mulai kembali tenang.

Namun, Kaelen tahu, ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanyalah awal dari dunia yang baru.

Saat matahari pertama kali terbit setelah perang, dunia terasa berbeda. Tanah yang dulu hancur kini perlahan kembali pulih. Di kejauhan, seorang anak kecil natap langit yang cerah—tanda bahwa harapan masih ada.

You are reading The Shattered Light Chapter 80: – Cahaya dan Bayangan Terakhir on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.