Font Size
15px

Kaelen narik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang penuh keteguhan, "Aku milih untuk tetap njadi diriku sendiri."

Begitu kata-kata itu terucap, dunia di sekelilingnya bergemuruh. Lantai yang sebelumnya retak kini hancur sepenuhnya, nciptakan jurang tak berdasar di bawahnya. Angin berputar liar, nerbangkan pecahan simbol-simbol bercahaya yang terukir di dinding.

Sosok yang nyerupai dirinya itu tetap berdiri diam, ekspresinya tidak berubah. "Dengan nolak keseimbangan sejati, kau telah milih penderitaan."

Kaelen natapnya dengan penuh keyakinan. "Tanpa luka, tanpa kehilangan, aku bukanlah Kaelen Draven. Aku bukan boneka tanpa jiwa yang hanya njaga keseimbangan tanpa mahami maknanya."

Serina tersenyum kecil, matanya berkilau dengan kebanggaan. "Aku tahu kau akan milih ini."

Tiba-tiba, sosok di hadapan Kaelen ngangkat tangannya. "Kalau begitu, kau harus mbuktikan bahwa pilihanmu benar."

Kilatan cahaya ledak, dan sebelum Kaelen bisa bereaksi, ia terlempar ke dalam kegelapan.

Saat ia mbuka matanya, Kaelen ndapati dirinya berada di tempat yang berbeda. Sebuah dan perang.

Api mbakar reruntuhan bangunan di sekelilingnya, langit dipenuhi awan hitam yang berputar cepat. Suara dentingan pedang, teriakan kesakitan, dan derap kaki pasukan terdengar dari segala arah. Udara dipenuhi aroma besi dari darah yang tertumpah, dan tanah yang ia pijak terasa lengket, basah oleh cairan rah yang ngalir tanpa henti. Di depannya, sosok-sosok familiar sedang bertarung—Lyra, Eryon, dan pasukan reka tengah berjuang mati-matian lawan Ordo Cahaya yang masih tersisa.

Kaelen ngerjapkan mata. Ini bukan sekadar penglihatan. Ini nyata.

Serina muncul di sampingnya, tetapi kali ini, ia tampak seperti dirinya yang dulu—seorang prajurit yang siap bertarung. "Ini adalah ujian terakhirmu, Kaelen. Jika kau tetap milih jalanmu, maka kau harus berjuang untuknya."

Kaelen nghunus pedangnya dan berlari ke dan perang.

Darah dan debu bercampur di udara saat Kaelen nerobos barisan musuh. Ia lihat Lyra di kejauhan, mbidik anak panah dengan presisi, tetapi wajahnya dipenuhi kelelahan dan luka. Eryon bertarung dengan sekuat tenaga, tetapi tekanan dari pasukan Ordo Cahaya terlalu besar.

Seorang ksatria Ordo Cahaya ngayunkan pedangnya ke arah Lyra. Tanpa berpikir, Kaelen lompat dan nangkis serangan itu dengan kekuatan penuh. Dentingan logam nggema, mbuat ksatria itu terpental mundur.

Lyra terkejut saat lihatnya. "Kaelen?! Bagaimana kau bisa—"

"Tidak ada waktu untuk njelaskan," potong Kaelen. "Aku di sini untuk ngakhiri ini."

Eryon berlari ndekat, wajahnya dipenuhi keringat dan debu. "Jika kau punya rencana, cepat katakan. Kita tidak akan bertahan lama."

Kaelen natap dan perang. Ia tahu bahwa tidak cukup hanya bertarung. Ia harus lakukan sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang bisa ngakhiri perang ini selamanya.

Ia lihat ke arah pusat pasukan Ordo Cahaya, tempat Grandmaster reka berdiri dengan mata penuh kebencian. Grandmaster itu dikelilingi oleh prajurit terbaiknya, nciptakan formasi perlindungan yang hampir mustahil ditembus.

Kaelen ngangkat pedangnya dan berkata dengan suara lantang, "Aku akan nghadapi pemimpin reka. Jaga pasukan kita."

Lyra tampak ragu, tetapi akhirnya ngangguk. "Berhati-hatilah."

Kaelen berlari nuju pusat pertempuran, siap nghadapi takdirnya.

Di depan altar yang terbakar, Grandmaster Ordo Cahaya natapnya dengan mata penuh kebencian. Jubah putihnya kini ternoda darah dan debu, tetapi auranya tetap berkilau dengan kekuatan yang nekan.

"Kau seharusnya tidak ada di sini, Kaelen Draven."

Kaelen ngangkat pedangnya. "Aku ada di sini untuk ngakhiri ini."

Grandmaster itu tersenyum dingin. "Kalau begitu, buktikan."

Dengan satu gerakan tangannya, tanah di bawah Kaelen bergetar. Pilar-pilar cahaya muncul dari tanah, mbentuk lingkaran rune yang mancarkan energi suci. Kaelen rasakan tekanan luar biasa di sekelilingnya, seolah kekuatan itu ingin nelannya hidup-hidup.

Grandmaster ngangkat pedangnya ke langit. "Aku telah ngabdikan hidupku untuk Cahaya. Kau hanyalah gangguan yang harus disingkirkan."

Kaelen nancapkan kakinya ke tanah, nahan getaran yang ngguncang tubuhnya. Ia tahu, ini bukan sekadar duel biasa. Grandmaster ini miliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang ia duga.

"Aku tahu aku tak bisa ngalahkannya dengan kekuatan semata," pikir Kaelen. "Jika aku bisa mbuatnya kehilangan keseimbangan, jika aku bisa mancingnya nyerang dengan emosi..."

Kaelen ngayunkan pedangnya ke depan, micu pertempuran. Pedang reka bertemu dalam percikan cahaya dan kegelapan, nciptakan gelombang kejut yang nghancurkan altar di belakang reka. Grandmaster nyerang dengan kecepatan luar biasa, tetapi Kaelen tetap bertahan, nangkis setiap serangan dengan refleks yang tajam.

Namun, Grandmaster tidak mberi celah. Ia bergerak dengan kemarahan yang tak tertahankan, setiap tebasannya mbawa kekuatan yang cukup untuk nghancurkan batu.

Tiba-tiba, Grandmaster lompat ke udara dan nghantam tanah dengan ujung pedangnya. Ledakan cahaya ledak dari titik benturan, nciptakan gelombang energi yang nghancurkan segalanya di sekeliling reka.

Kaelen terlempar ke belakang, tubuhnya nghantam reruntuhan dengan keras. Darah ngalir dari sudut bibirnya, tetapi ia tetap gang pedangnya erat-erat.

Grandmaster ndekat, sorot matanya penuh kenangan. "Kau sudah kalah, Kaelen."

Kaelen ngangkat kepalanya, matanya bersinar dengan api yang tak padam. "Aku belum selesai."

Langit di atas reka mulai retak, seolah dunia itu sendiri nolak akhir dari pertempuran ini.

You are reading The Shattered Light Chapter 79: – Harga Sebuah Pilihan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.