Font Size
15px

Saat Kaelen langkah ke jalur ketiga, dunia di sekelilingnya ledak dalam kilatan cahaya dan bayangan. Angin kencang berputar di sekelilingnya, mbawa suara-suara berbisik yang bergema di telinganya. Suara itu bukan hanya berasal dari ingatannya sendiri, tetapi dari sesuatu yang lebih besar—sebuah kekuatan yang telah lama tersembunyi.

Ketika cahaya dan bayangan mudar, Kaelen nemukan dirinya berdiri di tengah koridor panjang yang seolah tak berujung. Dindingnya berlapis simbol-simbol yang berdenyut dalam warna perak, emas, dan hitam. Tidak ada pintu, tidak ada jendela. Hanya jalur lurus yang mbawanya ke entah ke mana. Udara di sekelilingnya terasa berat, seperti gravitasi semakin kuat dengan setiap langkah yang ia ambil.

Tiba-tiba, langkah kaki lain nggema di belakangnya.

"Kaelen."

Ia berbalik dan ndapati Serina masih berdiri di sana, tetapi ada sesuatu yang berubah. Sorot matanya lebih tajam, lebih sadar. Seolah-olah ia bukan lagi sekadar pantulan dari ingatan Kaelen.

"Jadi kau milih jalur ini," kata Serina, ndekat dengan langkah perlahan.

Kaelen ngangguk. "Ini bukan tentang milih Cahaya atau Kegelapan. Ini tentang njadi sesuatu yang lebih dari keduanya."

Serina natapnya lama, lalu tersenyum samar. "Kau mang keras kepala seperti biasanya."

Kaelen nghela napas. "Apa yang ada di ujung jalan ini?"

Serina natap dinding di sekitar reka, jemarinya nyentuh salah satu simbol yang bersinar lebih terang. "Sesuatu yang bahkan aku tidak tahu pasti."

Kaelen ngangkat alis. "Jadi kau tidak nguji aku?"

Serina nggeleng. "Aku hanya bagian dari ingatanmu, Kaelen. Tetapi sekarang... mungkin aku lebih dari itu."

Sebelum Kaelen sempat njawab, lantai di bawah reka bergetar. Simbol-simbol di dinding mulai berubah, bergeser, seolah mbentuk pola baru. Dari ujung koridor, muncul sosok lain.

Kaelen nyipitkan mata. Sosok itu tinggi, ngenakan jubah panjang berwarna hitam dan emas. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan, tetapi Kaelen bisa rasakan auranya—sebuah energi yang tidak asing, tetapi juga bukan sesuatu yang pernah ia temui secara langsung.

Sosok itu berhenti beberapa langkah di depan reka. Suaranya terdengar dalam dan bergema, seolah berasal dari tempat yang jauh.

"Kau telah milih jalan yang seharusnya tidak ada, Kaelen Draven."

Kaelen natapnya dengan penuh kewaspadaan. "Siapa kau?"

Sosok itu tidak segera njawab. Sebaliknya, ia ngangkat tangannya, dan di antara telapak tangannya, muncul bola cahaya dan bayangan yang berputar dalam harmoni yang sempurna.

"Keseimbangan sejati bukan tentang Cahaya atau Kegelapan," katanya pelan. "Ini tentang nerima bahwa keduanya harus ada. Dan untuk itu, ada sesuatu yang harus dikorbankan."

Kaelen rasakan tubuhnya negang. "Apa yang harus kukorbankan?"

Sosok itu ndekat, dan untuk pertama kalinya, Kaelen lihat wajahnya yang tersembunyi. Itu bukan wajah manusia, bukan juga wajah dewa atau iblis. Itu adalah wajahnya sendiri.

Namun, bukan wajah Kaelen yang sekarang. Itu adalah wajahnya tanpa rasa sakit, tanpa ingatan, tanpa beban apa pun.

Kaelen tersentak mundur. "Apa ini?"

Serina juga tampak tegang. "Ini bukan sesuatu yang bisa diabaikan, Kaelen."

Sosok itu berbicara lagi. "Kau bisa nerima keseimbangan, tetapi untuk lakukannya, kau harus nghapus semua luka yang pernah kau alami. Kau akan tetap njadi Kaelen Draven, tetapi tanpa rasa sakit, tanpa kehilangan, tanpa ingatan akan orang-orang yang telah pergi."

Kaelen rasa dadanya sesak. "Aku akan lupakan semuanya?"

Sosok itu ngangguk. "Dan dengan itu, kau akan njadi penjaga keseimbangan yang sejati. Bebas dari beban, bebas dari dendam, hanya sebuah entitas yang mastikan dunia tetap berjalan sebagaimana stinya."

Kaelen natap Serina, dan kali ini, ia lihat sesuatu dalam mata temannya—kesedihan yang dalam.

"Jika kau milih ini," kata Serina lirih, "maka kau benar-benar akan kehilangan segalanya."

Kaelen ngepalkan tangannya. Pilihan ini lebih sulit dari yang ia bayangkan. nghapus semua rasa sakitnya berarti nghilangkan bagian dari dirinya yang telah mbentuknya. Tetapi mpertahankan semuanya berarti terus nanggung beban yang semakin berat.

Ia natap sosok dirinya yang lain. "Dan jika aku nolak?"

Sosok itu tersenyum tipis. "Maka keseimbangan akan tetap njadi ilusi. Dan kau akan kembali ke dunia yang tidak akan pernah benar-benar damai."

Kaelen nutup matanya. Dunia nunggu keputusannya.

Gambaran dari semua yang telah ia alami lintas di benaknya—Lyra yang tetap bertahan ski ia mulai lupakannya, Master Varrok yang selalu percaya padanya, Serina yang ngorbankan segalanya untuknya. Jika ia nghapus semua ini, apakah ia masih bisa disebut sebagai dirinya sendiri?

Tiba-tiba, lantai di bawahnya mulai retak, dan bayangan-bayangan muncul di sekelilingnya, mperlihatkan dua kemungkinan masa depan.

Di satu sisi, ia lihat dirinya yang baru—tanpa ingatan, tanpa rasa sakit, berdiri di atas dunia yang damai, tetapi kosong dari makna.

Di sisi lain, ia lihat dirinya yang tetap mbawa beban ini—berjuang, tetapi dengan tujuan yang masih nyala dalam hatinya.

Serina natapnya. "Kaelen... pilihanmu akan nentukan segalanya."

Kaelen narik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang penuh keteguhan, "Aku milih..."

You are reading The Shattered Light Chapter 78: – Jalan yang Tak Terduga on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.