Cahaya nyelimuti Kaelen, lalu mudar perlahan, mperlihatkan pemandangan di sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di aula yang runtuh, tidak lagi ndengar suara Lyra atau Eryon. Udara di sekelilingnya hangat, angin lembut berhembus mbawa aroma tanah basah dan rerumputan. Ia berdiri di tengah hamparan perbukitan yang disinari cahaya keemasan matahari senja.
Namun, ada sesuatu yang salah.
Dunia ini terasa terlalu tenang.
Kaelen langkah perlahan, matanya nyapu sekeliling. Langit di atasnya bersih, tidak ada tanda-tanda perang, tidak ada retakan dinsi atau kekuatan yang berputar liar. Namun, perasaan di dadanya negang. Ia tahu ini bukan kenyataan. Ini adalah ujian.
Suara lembut datang dari belakangnya. "Kaelen."
Ia berbalik, dan jantungnya hampir berhenti.
Serina berdiri di sana.
Ia tampak seperti dulu—pakaian tempurnya masih bersih, rambutnya yang panjang tergerai tertiup angin. Mata dinginnya natap Kaelen dengan ketenangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Namun, ada sesuatu yang kosong dalam sorot matanya, seolah ia adalah bayangan dari masa lalu yang telah lama hilang.
"Serina..." bisik Kaelen, langkahnya terhenti.
Serina tersenyum kecil. "Aku sudah lama nunggumu."
Kaelen rasakan tenggorokannya ngering. "Ini tidak nyata."
Serina ngangguk. "Benar. Tapi bukan berarti ini tidak penting."
Kaelen ngepalkan tangannya. "Apa ini bagian dari ujianku?"
Serina ndekatinya, suaranya tetap lembut. "Ya. Ini adalah ujian terakhir sebelum kau bisa benar-benar mahami keseimbangan."
Kaelen natapnya tajam. "Apa yang harus kulakukan?"
Serina nghela napas dan natap horizon. "Keseimbangan bukan hanya tentang Cahaya dan Kegelapan, tetapi juga tentang nerima kehilangan. Kau telah berjuang begitu lama, tetapi apakah kau benar-benar nerima pengorbanan yang telah terjadi?"
Kaelen terdiam. Kenangan tentang Serina lintas di benaknya—saat-saat reka bertarung bersama, canda tawa yang jarang terjadi, dan akhirnya, mon ketika ia nghilang dari ingatannya karena kekuatan kegelapan yang ia gunakan.
Serina langkah lebih dekat, lalu nyentuh bahunya dengan lembut. "Kaelen, aku tidak ada di sini untuk nghakimimu. Aku ada di sini agar kau bisa nerima kenyataan."
Kaelen nggeleng, matanya berkilat marah. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa nerima bahwa aku telah lupakanmu."
Serina tersenyum tipis, tetapi di balik senyumnya ada kesedihan. "Tapi itulah harga yang kau bayar. Dan kini, kau harus mbuat pilihan."
Tiba-tiba, dunia di sekeliling reka mulai berubah. Langit mulai terbelah, dan dua jalan terbuka di hadapan Kaelen. Satu jalan dipenuhi cahaya keemasan yang nenangkan, dengan suara lembut yang manggil namanya. Sentara jalan lainnya adalah kegelapan pekat yang tampak berputar liar, berbisik dengan suara-suara yang akrab—suara pengorbanan, kemarahan, dan kekuatan yang telah mbentuknya hingga saat ini.
Suara Serina berubah njadi lebih tegas. "Jika kau milih jalan cahaya, kau akan nghapus semua kegelapan dari dalam dirimu. Kau akan kembali njadi seseorang yang murni, tanpa beban kegelapan yang telah nemanimu selama ini."
Kaelen natap jalan itu dengan rahang ngatup. Cahaya itu terasa nenangkan, tetapi juga asing. Ia tidak lagi bisa mbayangkan dirinya tanpa luka, tanpa beban yang telah ia tanggung selama ini.
Serina lanjutkan, "Jika kau milih jalan kegelapan, kau akan nerima semua bagian dirimu, termasuk kekuatan yang telah mbuatmu kehilangan ingatan tentang orang-orang yang kau cintai. Kau akan njadi penjaga keseimbangan yang sejati, tetapi kau juga akan nanggung beban itu selamanya."
Kaelen noleh ke arahnya. "Dan jika aku tidak milih?"
Serina tersenyum, kali ini lebih lembut. "Maka keseimbangan tidak akan pernah ada dalam dirimu. Dan tanpa keseimbangan, kau tidak akan bisa lindungi apa pun."
Kaelen terdiam. Suara-suara dari masa lalunya berputar di kepalanya—Lyra, Master Varrok, bahkan suara dirinya sendiri yang penuh keraguan.
"Kaelen, kau tidak perlu nanggung semua ini sendirian."
"Kekuatan datang dengan harga. Kau tahu itu lebih dari siapa pun."
"Jangan biarkan reka nentukan jalanmu, Kaelen. Kau yang milih nasibmu sendiri."
Ia natap kedua jalan itu. Cahaya atau kegelapan. Jalan yang selalu ia perjuangkan, atau jalan yang mbuatnya kehilangan begitu banyak. Apakah ia siap nerima siapa dirinya sebenarnya? Atau ia akan nghapus beban itu untuk selamanya?
Ia narik napas dalam, lalu langkah.
Namun, sebelum kakinya nyentuh salah satu jalan, sesuatu terjadi.
Tanah bergetar, dan di antara cahaya serta kegelapan, muncul retakan ketiga—jalur yang tidak pernah disebutkan oleh Serina. Jalur yang berkilauan perak, berdenyut dengan rit yang sama seperti detak jantungnya sendiri.
Serina natap jalur itu dengan mata lebar. "Ini... ini tidak seharusnya ada."
Kaelen natapnya, lalu kembali lihat jalur itu. "Mungkin ini bukan pilihan antara Cahaya dan Kegelapan. Mungkin ini tentang nemukan jalanku sendiri."
Ia langkah ke depan, nuju jalur ketiga.
Dan dalam sekejap, dunia di sekelilingnya berubah sekali lagi.
Reviews
All reviews (0)