Font Size
15px

Udara mbeku seiring dengan munculnya entitas dari dalam retakan di langit-langit. Cahaya dan kegelapan berputar ngelilinginya, mbentuk sosok yang sukar didefinisikan, seolah-olah ia adalah perpaduan dari dua kekuatan yang telah bertarung selama berabad-abad. Ruangan bergetar hebat, nciptakan celah-celah baru di dinding yang retak, seakan bangunan ini sendiri nolak kehadiran makhluk itu.

Kaelen, masih berdiri di tengah aula yang porak-poranda, rasakan tekanan luar biasa nekan tubuhnya. Kekuatan ini jauh lebih besar dari yang pernah ia hadapi sebelumnya. Napasnya terasa berat, dan jari-jarinya mati rasa di sekitar gagang pedangnya. Matanya nyipit saat natap entitas tersebut—sosok yang perlahan mulai terbentuk.

Sebuah suara bergema dari dalam kehampaan. "Kau telah milih keseimbangan, tetapi apakah kau siap nghadapi konsekuensinya?"

Lyra nelan ludah, tangannya masih erat nggenggam busurnya. "Apa itu?" bisiknya, hampir tak bersuara.

Eryon langkah maju, pedangnya siap siaga di tangannya. "Aku tidak tahu... tetapi kehadirannya terasa... berbeda."

Dari dalam pusaran cahaya dan bayangan itu, sesosok tinggi muncul. Matanya bersinar dalam warna keemasan dan kelam sekaligus, tubuhnya seolah terbuat dari pecahan realitas itu sendiri. Wajahnya tidak nampilkan emosi apa pun, tetapi begitu ia mbuka mulutnya, suaranya terdengar dalam dan nggema di seluruh aula.

"Aku adalah yang pernah dikurung. Aku adalah yang pernah dilupakan."

Kaelen mpererat genggaman pada pedangnya. "Siapa kau?"

Makhluk itu natapnya tajam, seolah nembus pikirannya. "Aku adalah perwujudan keseimbangan yang kau cari. Aku adalah awal dan akhir. Dan kini, karena kau telah milih, aku telah bangkit."

Getaran hebat ngguncang ruangan. Batu-batu berjatuhan dari langit-langit yang retak. Varrok nggeram dan lindungi dirinya dengan kapaknya, sentara Veylan mundur, natap makhluk itu dengan mata waspada. Lyra berusaha tetap tegak, tetapi Kaelen bisa lihat jari-jarinya yang nggenggam busur mulai getar.

"Keseimbangan bukan hanya tentang nyatukan Cahaya dan Kegelapan," lanjut makhluk itu, suaranya semakin berat. "Keseimbangan adalah kehancuran dan penciptaan. Apa yang telah terpecah tidak bisa sekadar disatukan kembali tanpa pengorbanan."

Kaelen rasa dadanya sesak. "Pengorbanan?"

Makhluk itu ngangguk perlahan. "Kau telah milih jalan yang lebih sulit. Jika kau benar-benar ingin negakkan keseimbangan, maka dunia lama harus dihancurkan untuk mbentuk yang baru."

Lyra negang. "Tidak! Itu bukan keseimbangan, itu adalah pemusnahan!"

Eryon langkah maju, wajahnya nunjukkan amarah yang jarang terlihat. "Kau ingin kami nghancurkan dunia ini hanya untuk nciptakan dunia baru? Itu gila."

Makhluk itu tetap diam sejenak, lalu ngangkat tangannya. Dalam sekejap, retakan di sekeliling reka lebar, mperlihatkan gambaran dunia di luar. Kota-kota yang hancur akibat perang, ladang-ladang yang terbakar, dan lautan yang ngamuk akibat konflik abadi antara Cahaya dan Kegelapan.

"Kau nyebut ini dunia yang layak dipertahankan?" tanya makhluk itu.

Kaelen nggertakkan giginya. Di matanya, kehancuran itu bukan sekadar konsekuensi perang, tetapi juga bukti dari ketidakseimbangan yang dibiarkan berlarut-larut. Namun, skipun dunia ini terluka, bukan berarti dunia ini harus dihancurkan.

"Dunia ini mang penuh luka, tetapi nghancurkannya bukanlah solusi."

Makhluk itu natapnya lebih dalam. "Lalu apa solusimu, Penjaga Keseimbangan?"

Suasana njadi semakin ncekam. Kaelen tahu, kata-katanya berikutnya akan nentukan segalanya. Ia lihat ke arah Lyra, Eryon, Varrok, dan Veylan—orang-orang yang telah berjuang bersamanya, yang telah kehilangan begitu banyak, tetapi masih bertahan. reka semua nunggu jawabannya.

Kaelen ngangkat kepalanya dan berbicara dengan suara penuh tekad. "Aku tidak akan mbiarkan dunia ini musnah. Jika keseimbangan harus dijaga, maka biarkan aku njadi penjaganya. Aku tidak akan mbangun dari kehancuran, aku akan mbangun dari harapan."

Makhluk itu tetap diam, seakan nimbang-nimbang kata-katanya. Cahaya dan kegelapan di tubuhnya berputar semakin cepat, hingga akhirnya ia berkata, "Jika itu yang kau pilih, maka kau harus mbuktikan bahwa dunia ini pantas diselamatkan."

Tiba-tiba, cahaya nyelimuti Kaelen, mbungkusnya dalam pusaran energi yang semakin pekat. Ia ncoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa tertarik ke dalam ketiadaan.

"Kaelen!" Lyra berteriak, berusaha nggapainya, tetapi kekuatan itu terlalu kuat.

Eryon ncoba langkah maju, tetapi retakan di lantai nghalanginya. "Kaelen! Bertahanlah!"

Varrok nggeram, berusaha nghantam energi itu dengan kapaknya, tetapi usahanya sia-sia.

Kaelen hanya sempat lihat wajah reka sekejap sebelum semuanya njadi putih. Suara Lyra mudar, begitu pula suara teman-temannya.

Dalam sekejap, ia tidak lagi berada di aula yang hancur.

Ia berdiri di tempat lain—tempat yang asing, tetapi terasa akrab.

Ujiannya belum berakhir.

You are reading The Shattered Light Chapter 76: – Kebangkitan yang Tak Terduga on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.