Font Size
15px

Kaelen berdiri di tengah aula yang runtuh, dikelilingi oleh energi yang bergejolak. Cahaya rah dari retakan langit-langit semakin nyebar, sentara tangan-tangan bayangan rayap keluar dari celah di lantai. Suara retakan batu bercampur dengan desisan makhluk-makhluk gelap yang baru terbangun dari tidurnya. Makhluk bercahaya dan berbayang di depannya nunggu jawabannya, tatapan tanpa emosi nembus jiwanya.

Udara di sekelilingnya negang, seakan nunggu keputusan Kaelen. Lyra nahan napas, tangannya ngepal erat. Eryon tampak gelisah, matanya nyipit penuh kecurigaan. Varrok berdiri tegang, kapaknya siap siaga di tangannya.

"Aku akan... mbantu ngembalikan keseimbangan."

Begitu kata-kata itu keluar dari bibirnya, gemuruh keras ngguncang aula. Energi di sekitar reka lonjak liar, dan cahaya rah di langit-langit berkedip seperti detak jantung raksasa yang mulai kehilangan iramanya. Makhluk itu natap Kaelen lebih dalam, seolah-olah sedang ngukur niatnya.

Lyra terkejut, tetapi tidak ngatakan apa-apa. Eryon nggertakkan giginya, tampak tidak yakin dengan keputusan itu, sentara Varrok hanya ngawasi dengan waspada. Namun, sesuatu dalam sorot mata reka nunjukkan bahwa reka sadar tidak ada jalan untuk mundur.

"Jika itu yang kau pilih," suara makhluk itu bergema, lebih dalam dari sebelumnya, "maka kau harus mbuktikan kesetiaanmu pada keseimbangan."

Kaelen rasakan tekanan luar biasa di dadanya. Seolah-olah seluruh kekuatan di ruangan itu nekannya dari segala arah. Tubuhnya tertarik ke depan oleh kekuatan yang tak terlihat, dan tiba-tiba, pikirannya terhempas ke dalam kehampaan.

Ia tidak lagi berada di aula yang runtuh—ia berada dalam ruang tanpa batas, di mana Cahaya dan Kegelapan berputar seperti dua matahari yang bertabrakan. Udara di sekelilingnya bergelombang, mbentuk pusaran yang nariknya ke berbagai arah.

Di sekelilingnya, kilasan masa lalu bermunculan. Ia lihat perang yang telah berlangsung selama berabad-abad, lihat orang-orang yang telah jatuh karena konflik yang tak berujung. Ia lihat ayah dan ibunya, terbunuh di depan matanya. Ia lihat Serina, tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum ia nghilang dari ingatannya. Wajah-wajah yang ia lupakan kembali muncul satu per satu, natapnya dengan ekspresi penuh harapan... atau kesedihan.

Suara makhluk itu bergema dalam benaknya. "Keseimbangan tidak bisa ditegakkan tanpa pengorbanan. Apakah kau siap mbayar harganya?"

Kaelen ngepalkan tangannya. "Jika itu yang diperlukan untuk nghentikan perang ini, maka aku siap."

Tiba-tiba, rasa sakit yang nusuk nghantam kepalanya. Ingatan-ingatan masa lalunya berguncang, seakan sedang diurai satu per satu. Ia berusaha bertahan, tetapi semakin ia lawan, semakin banyak potongan dirinya yang terasa hilang. Ia rasakan namanya sendiri mulai terdengar asing di telinganya.

Ia berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Di dunia nyata, tubuh Kaelen layang di udara, dikelilingi cahaya dan kegelapan yang saling berputar. Aura di sekelilingnya berkedip-kedip liar, nciptakan semburan energi yang nghempaskan serpihan batu ke segala arah.

"Kaelen!" teriak Lyra, tetapi ia tidak bisa ndekat lebih jauh.

Eryon nghunus pedangnya. "Jika makhluk itu ncoba nghancurkannya, kita harus nghentikannya sekarang!"

"Jangan!" Veylan nahan Eryon. "Ini adalah ujiannya! Jika kita ngganggu, dia mungkin tidak akan kembali."

reka semua hanya bisa nyaksikan, nahan napas dalam ketegangan yang semakin ncekam.

Di dalam pikirannya, Kaelen lihat dua jalan terbuka di hadapannya. Satu jalan adalah kehancuran Jantung Kegelapan, nghapus keberadaan makhluk itu dan ngakhiri siklus perang dengan cara yang drastis. Jalan lainnya adalah nerima keseimbangan, mbiarkan Cahaya dan Kegelapan tetap ada dan njaganya agar tidak kembali njadi alat perang.

Ia narik napas panjang. Tiba-tiba, bayangan Serina muncul di sampingnya.

"Kaelen," katanya lembut. "Kau sudah cukup berjuang. Tapi ini adalah jalan yang hanya bisa kau pilih."

Kaelen natapnya, dada terasa sesak oleh beban keputusannya. Jika ia milih keseimbangan, apa lagi yang akan ia korbankan? Jika ia nghancurkan semuanya, apa yang tersisa dari dunia yang ia perjuangkan?

Matanya natap ke langit kehampaan di atasnya, ke bayangan orang-orang yang ia cintai, dan ke wajah Serina yang natapnya dengan penuh keyakinan.

Kaelen nutup matanya, lalu ngangkat kepalanya dengan tekad. Ia telah ngambil keputusan.

Di dunia nyata, cahaya dan kegelapan di sekelilingnya ledak, nghempaskan semua orang ke belakang. Ledakan energi itu ngguncang seluruh aula, cahkan sisa-sisa reruntuhan yang masih berdiri. Lyra terjatuh ke tanah, nutupi wajahnya dari pancaran cahaya yang nyilaukan. Varrok ngangkat kapaknya, bersiap nghadapi apa pun yang akan terjadi.

Saat debu ngendap, sosok Kaelen turun ke tanah perlahan, dikelilingi aura yang telah berubah. Matanya bersinar dengan cahaya yang bukan hanya Cahaya, dan bukan hanya Kegelapan—tetapi sesuatu yang lebih besar dari keduanya.

Makhluk itu natapnya, dan untuk pertama kalinya, ia berbicara dengan nada yang bukan hanya gema kosong.

"Kau telah milih."

Kaelen berdiri tegak, rasakan kekuatan baru ngalir dalam dirinya. Namun, sebelum ia bisa ngatakan lebih lanjut, langit-langit aula terbuka sepenuhnya. Dari dalam retakan yang nganga, sesuatu muncul.

Cahaya dan kegelapan berputar di sekeliling entitas itu, mbentuk wujud yang belum pernah reka lihat sebelumnya. Udara ndadak mbeku, dan dari dalam kehampaan, terdengar bisikan ribuan suara yang bercampur—nangis, berteriak, dan tertawa dalam nada yang ngerikan.

Sesuatu yang lebih besar dari Cahaya dan Kegelapan telah bangkit.

You are reading The Shattered Light Chapter 75: – Keputusan Kaelen on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.