Retakan di langit-langit aula semakin lebar, nyebarkan cahaya rah pekat yang berdenyut seperti jantung yang berdetak kencang. Udara di sekeliling reka semakin berat, seperti ada sesuatu yang berusaha narik reka ke dalam kehampaan yang terbuka di atas sana. Rasa panas dan dingin bercampur dalam gelombang aneh yang nusuk kulit, seolah dunia itu sendiri tidak bisa lagi mpertahankan bentuknya.
Kaelen berdiri tegak, pedangnya masih dalam genggamannya, matanya terpaku pada altar yang kini bergetar hebat. Cahaya dan kegelapan berputar di sekelilingnya, seolah-olah bertarung untuk mpertahankan eksistensi reka. Suara gemuruh semakin keras, seperti jeritan makhluk-makhluk tak kasat mata yang terperangkap di dalamnya selama berabad-abad.
Lyra raih lengan Kaelen, suaranya penuh kepanikan. "Kaelen, kita harus keluar dari sini! Tempat ini akan runtuh!"
Eryon, yang masih gang pedangnya erat, natap altar dengan ekspresi keras. "Tidak. Kita belum selesai. Ada sesuatu yang terjadi di dalamnya."
Veylan ngamati cahaya rah yang semakin nyebar di langit-langit. "Aku bisa rasakan kekuatan ini... Ini bukan sekadar energi yang terbebas. Ini adalah sesuatu yang telah disegel selama berabad-abad."
Kaelen narik napas dalam, lalu natap altar di depannya. "Jika ini adalah segel yang seharusnya tetap terkunci, kenapa sekarang terbuka?"
Sebelum ada yang bisa njawab, suara lain nggema di seluruh aula. Dalam, bergema, dan mbawa rasa dingin yang resap ke tulang. Sebuah tekanan tak terlihat nekan dada reka, mbuat napas njadi berat.
"Kalian telah langgar batas."
Dari dalam altar yang retak, muncul sesosok makhluk yang tampak seperti perpaduan antara bayangan dan cahaya. Sosoknya tinggi, tanpa wajah yang jelas, hanya dua mata nyala yang natap reka tanpa emosi. Seiring dengan kehadirannya, retakan di aula semakin lebar, dan dinding-dindingnya tampak seperti ncair ke dalam kehampaan.
Varrok langsung ngangkat kapaknya, bersiap nyerang. "Apa itu?"
Sosok itu layang ndekat, suaranya bergema di dalam pikiran reka, bukan hanya di telinga. "Aku adalah keseimbangan yang telah ditinggalkan. Aku adalah penjaga yang dilupakan."
Kaelen ngangkat pedangnya. "Penjaga apa?"
Makhluk itu tidak bergerak, tetapi aura di sekitarnya semakin nekan. "Ketika manusia pertama kali bermain dengan Cahaya dan Kegelapan, reka nciptakan perang yang tak berujung. Maka, aku diciptakan untuk njaga keseimbangan. Namun, aku disegel oleh reka yang takut akan kekuatan sejati."
Lyra nggigit bibirnya, suaranya nyaris berbisik. "Jika kau penjaga keseimbangan... kenapa kau disegel?"
Makhluk itu noleh ke arahnya, cahaya di matanya berdenyut. "Karena reka tidak nginginkan keseimbangan. reka ingin kekuasaan."
Kaelen rasakan sesuatu ncengkeram dadanya. Apakah ini alasan perang tidak pernah berakhir? Karena keseimbangan yang sebenarnya telah dipenjara selama ini?
Eryon natap makhluk itu dengan rahang ngatup. "Dan sekarang kau bebas."
Makhluk itu ngangguk perlahan. "Aku bebas. Tapi keseimbangan belum kembali."
Kaelen nyadari bahwa semua mata kini tertuju padanya. Apakah ia harus bertarung lawan makhluk ini? Atau justru bekerja sama dengannya?
Sebelum ia bisa ngambil keputusan, tanah di bawah reka mulai retak lebih dalam. Aula ini tidak akan bertahan lebih lama. Dari celah yang terbuka, muncul tangan-tangan bayangan yang ncakar lantai, bergerak seperti makhluk kelaparan yang baru terbangun dari tidurnya yang panjang.
Lyra tersentak mundur, matanya dipenuhi ketakutan. "Kaelen... ini bukan hanya tentang kita. Jika keseimbangan terganggu, apa yang akan terjadi pada dunia luar?"
Veylan berbicara cepat. "Kita harus mutuskan sekarang. Apakah kita akan nghancurkannya, atau mbantunya?"
Kaelen ndengar suara-suara lain dalam pikirannya. Suara dari masa lalu—Serina, Master Varrok, bahkan suara Lyra yang dulu yakinkannya untuk tidak kehilangan dirinya sendiri.
Ia natap makhluk itu sekali lagi. Pilihan ini akan nentukan segalanya.
Ia narik napas panjang dan akhirnya berkata, "Aku akan..."
Reviews
All reviews (0)