Font Size
15px

Cahaya dan kegelapan ledak bersamaan saat pedang Kaelen nebas altar, nciptakan gelombang energi yang nghempaskan semua orang ke belakang. Kaelen rasakan tubuhnya layang sesaat sebelum ia jatuh nghantam lantai keras. Telinganya berdenging, matanya berusaha nyesuaikan diri dengan cahaya yang berkedip-kedip liar di sekitar reka.

Saat ia bangkit dengan susah payah, ia lihat altar itu retak, ngeluarkan cahaya nyilaukan yang bergemuruh seperti badai. Udara di sekeliling reka mbeku, dan angin yang berputar nciptakan suara gemuruh yang bergema di aula. Dari tengah altar, sosok itu masih berdiri, tetapi kini lebih jelas. Ia miliki dua wajah—satu sisi bercahaya keemasan, sisi lainnya diselimuti bayangan pekat.

"Kaelen Draven..." suara itu nggema, lebih tajam dari sebelumnya. "Kau telah ngambil keputusan. Namun, apakah kau mahami akibatnya?"

Lyra rintih saat ia berdiri di dekat Kaelen, matanya masih berusaha fokus. "Apa yang terjadi?"

Veylan natap altar yang semakin goyah. "Kita telah mbangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tersegel."

Eryon ncengkeram pedangnya lebih erat. "Ini belum selesai."

Kaelen langkah maju, nahan debaran kuat di dadanya. "Aku sudah siap nerima konsekuensi."

Sosok dua wajah itu tersenyum, tetapi bukan senyuman yang nenangkan. "Jika kau benar-benar siap, maka hadapilah ujian terakhir."

Tiba-tiba, bayangan dari sisi gelap sosok itu lesat cepat, mbentuk sosok yang nyerupai Kaelen sendiri. Mata makhluk itu kosong, tetapi wajahnya adalah refleksi sempurna dari Kaelen—tanpa emosi, tanpa ragu, tanpa batasan.

"Ini adalah dirimu... tanpa ingatan. Tanpa beban," kata sosok itu.

Kaelen natap bayangan dirinya dengan rahang ngatup. "Jika itu ujianmu, aku akan nghancurkannya."

Bayangan Kaelen langkah maju, pedang hitam terbentuk di tangannya dari pusaran kegelapan di sekelilingnya. Tanpa peringatan, ia nyerang.

Pertarungan Kaelen vs. Dirinya Sendiri

Kaelen nangkis serangan pertama dengan cepat, tetapi dampaknya nggetarkan seluruh lengannya. Makhluk itu lebih cepat, lebih kuat, dan tidak nunjukkan emosi sedikit pun.

Pedang reka saling beradu dalam percikan energi. Kaelen lancarkan tebasan dari samping, tetapi bayangan itu nghilang dan muncul di belakangnya, ngayunkan pedangnya tanpa suara. Kaelen hanya nyaris nghindar, rasakan udara dingin nyayat kulitnya. Setiap kali reka bertukar serangan, lantai di bawah reka mulai retak, simbol-simbol di dinding bergetar seiring intensitas pertarungan.

"Dia tidak seperti lawan biasa!" seru Varrok, bersiap mbantu.

Veylan ngangkat tangan. "Tidak! Ini adalah pertarungan Kaelen sendiri."

Lyra nggigit bibirnya, tetapi tetap mpersiapkan anak panah, berjaga jika sesuatu terjadi. Matanya penuh kekhawatiran, tetapi ia tahu Kaelen harus nghadapi ini sendirian.

Kaelen ngerang saat bayangannya nyerang tanpa henti, tidak mberinya waktu untuk berpikir. Namun, ia mulai nyadari sesuatu—makhluk itu niru setiap gerakannya, seperti cermin.

'Aku tidak bisa ngalahkannya dengan kekuatan saja,' pikir Kaelen. 'Aku harus lakukan sesuatu yang tidak ia duga.'

Saat bayangan itu nyerang lagi, Kaelen berpura-pura nangkis, tetapi justru njatuhkan pedangnya dengan sengaja. Bayangan itu ikut bereaksi, dan dalam sepersekian detik itulah Kaelen lancarkan serangan dari sudut lain—nggunakan kekuatan cahaya dan kegelapan sekaligus.

Serangan itu nembus tubuh bayangan tersebut. Untuk pertama kalinya, makhluk itu ngeluarkan suara—raungan yang ngguncang udara. Suaranya bukan hanya teriakan kesakitan, tetapi seperti suara Kaelen sendiri yang berteriak dari dalam kepalanya.

Sosok dua wajah itu ngangguk. "Kau mulai mahami."

Bayangan itu mulai pudar, tetapi sebelum lenyap, ia berbicara dengan suara yang sama seperti Kaelen.

"Tanpa aku... kau tidak akan lengkap."

Kaelen natap sosok itu dengan napas mburu. "Apa maksudmu?"

Bayangan itu tersenyum samar, lalu perlahan berubah njadi pecahan-pecahan cahaya dan kegelapan, kembali ke altar yang kini berdenyut lemah. Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya, tetapi Kaelen tahu sesuatu dalam dirinya telah berubah.

Tiba-tiba, tanah mulai bergetar. Celah-celah terbuka di sekeliling altar, nyemburkan cahaya rah pekat. Langit-langit aula perlahan retak, nampakkan kehampaan yang tak berujung.

Lyra tersentak. "Kaelen, cepat! Ini semakin tidak stabil!"

Kaelen natap altar itu sekali lagi, tahu bahwa apa pun yang terjadi setelah ini, dunia tidak akan pernah sama lagi. Ia negakkan tubuhnya, ncengkeram pedangnya lebih erat, dan bersiap nghadapi apa yang akan datang.

You are reading The Shattered Light Chapter 73: – Ketika Kegelapan dan Cahaya Bertemu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.