Kaelen berdiri diam di tengah aula kuno itu, pikirannya berpacu dengan kata-kata Eryon. Pilihan yang ada di depannya bukan hanya nentukan nasibnya sendiri, tetapi juga keseimbangan dunia. Di sekelilingnya, bayangan terus berputar, seakan nunggu keputusannya.
Udara di dalam ruangan berubah. Dinding-dinding batu bergetar halus, simbol-simbol kuno di lantai mulai bercahaya dalam warna keemasan dan hitam pekat. Angin dingin berputar di sekitar reka, mbawa bisikan samar dari masa lalu.
Lyra nggenggam busurnya lebih erat, matanya penuh kecemasan. "Kau tidak harus mpercayainya, Kaelen."
Eryon nghela napas. "Aku tahu sulit mpercayaiku. Tapi jika kita tidak bertindak sekarang, Ordo Cahaya akan nguasai segalanya."
Varrok nggeram. "Dan bagaimana kami tahu ini bukan jebakan lain?"
Eryon natapnya tajam. "Jika aku ingin njebak kalian, aku sudah lakukannya sejak lama."
Kaelen akhirnya angkat bicara. "Jika Jantung Kegelapan benar-benar nyimpan Cahaya, bagaimana cara kita ngaksesnya?"
Veylan, yang selama ini diam, langkah maju. "Ada segel terakhir. Yang nyatukan kegelapan dan cahaya. Itu yang harus dihancurkan atau dibuka."
Eryon ngangguk. "Dan hanya Kaelen yang bisa lakukannya."
Kaelen ngepalkan tangannya. Ia sudah ngorbankan begitu banyak. Jika ini adalah jalannya, maka ia akan nempuhnya sampai akhir. "Tunjukkan jalannya."
Eryon langkah ke tengah ruangan dan nghunus pedangnya. Cahaya biru berpendar dari permukaannya, nyatu dengan simbol-simbol kuno di lantai. Getaran hebat ngalir di udara, dan perlahan, lantai di bawah reka mulai terbuka.
Dari celah yang muncul, altar kuno mulai naik, diselimuti cahaya hitam dan putih yang saling bertarung. Cahaya itu berkedip liar, seolah nolak keberadaan satu sama lain, namun tetap terikat dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kaelen langkah maju, rasakan gelombang energi yang begitu kuat ngalir dari altar itu. Detak jantungnya berirama dengan denyutan cahaya di depannya.
Eryon berbicara pelan, suaranya penuh makna. "Ini adalah inti dari semuanya. Tempat di mana Cahaya dan Kegelapan pertama kali dikurung."
Kaelen natap altar itu, rasakan jantungnya berdetak kencang. Pilihan ada di tangannya.
Varrok nggeram pelan. "Apapun yang kau lakukan, Kaelen, lakukan dengan hati-hati. Aku tidak percaya kekuatan seperti ini bisa begitu saja dikendalikan."
Lyra natapnya, ragu-ragu, lalu ngulurkan tangan dan nggenggam pergelangan tangannya. Sentuhannya dingin, getar. "Kaelen... Kau yakin ini yang harus kau lakukan?"
Kaelen nelan ludah. Ia natap Lyra, lalu natap altar di depannya. "Aku tidak yakin... tapi aku tidak bisa mundur sekarang."
Saat ia ngangkat pedangnya, cahaya di altar mulai bereaksi. Namun, sebelum ia sempat nebaskan pedangnya, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Dari dalam cahaya yang berputar di atas altar, sebuah bayangan muncul. Sosok manusia, atau setidaknya sesuatu yang nyerupai manusia, langkah keluar. Wajahnya tidak terlihat jelas, seakan tertutup oleh kabut kegelapan dan cahaya keemasan.
Suara dalam, berlapis dengan gema yang nggetarkan ruangan, berbicara.
"Kau ingin mbebaskan kami... atau nghancurkan kami?"
Kaelen negangkan tubuhnya. "Siapa kau?"
Sosok itu tidak njawab langsung. Ia langkah maju, dan seketika ruangan di sekitar reka berubah. Pilar-pilar runtuh, simbol-simbol kuno di dinding terbakar dalam api tak kasat mata. reka tidak lagi berada di aula kuno, tetapi di sebuah ruang yang lebih luas, tanpa ujung.
Lyra tersentak. "Ini... ini bukan dunia nyata."
Eryon nghunus pedangnya. "Kita ada dalam perbatasan antara eksistensi dan kehampaan."
Sosok itu berbicara lagi, kali ini lebih pelan, lebih tajam. "Kaelen Draven. Pengorbananmu telah mbawamu ke titik ini. Tetapi apakah kau siap nghadapi harga sebenarnya?"
Kaelen nggertakkan giginya. Ia telah kehilangan terlalu banyak. Ia telah lupakan terlalu banyak. Tetapi jika semua ini miliki tujuan, maka ia akan nghadapinya.
"Apa yang harus kulakukan?"
Sosok itu ngangkat tangannya. Cahaya dan kegelapan di altar semakin liar, berputar cepat di sekeliling reka. "Pilihlah. Keseimbangan... atau kehancuran."
Kaelen ngangkat pedangnya, cahaya biru nyelimuti bilahnya. Ia bisa rasakan tatapan Lyra, Varrok, dan Veylan padanya, nunggu keputusannya.
Ia narik napas dalam.
"Aku akan ngakhirinya."
Dengan satu tebasan, ia nghantam altar itu dengan seluruh kekuatannya, bersiap nghadapi konsekuensi yang nanti.
Reviews
All reviews (0)