Pintu batu tertutup di belakang reka dengan suara gemuruh berat, ninggalkan Kaelen, Lyra, Varrok, dan Veylan dalam kegelapan yang pekat. Tidak ada cahaya, tidak ada suara selain napas reka yang tertahan. Udara di dalam ruangan ini berbeda—lebih dingin, lebih berat, seakan dipenuhi sesuatu yang tak kasat mata tetapi dapat dirasakan.
Kaelen langkah perlahan ke depan, ngangkat tangannya. Cahaya redup berwarna kebiruan berkedip dari telapak tangannya, nerangi sekeliling reka. reka berada di dalam aula besar dengan dinding batu yang dihiasi ukiran-ukiran kuno. Simbol-simbol yang reka lihat tidak asing lagi—lambang Kegelapan, lambang yang selama ini reka lawan.
"Apa tempat ini?" bisik Lyra, matanya nyapu ukiran-ukiran yang tampak seperti nceritakan kisah kuno.
Veylan langkah ndekat dan nyentuh dindingnya. "Ini bukan sekadar ruang bawah tanah... Ini adalah inti dari Jantung Kegelapan."
Kaelen negangkan rahangnya. "Jika ini adalah intinya, maka di sinilah kita akan nemukan jawaban."
Langkah kaki reka nggema saat reka berjalan lebih dalam. Lantai di bawah reka tampak bersinar samar seiring langkah reka, seolah respons kehadiran reka. Semakin reka langkah ke dalam, semakin kuat bisikan itu—suara-suara yang seolah berasal dari masa lalu.
'Kau datang...'
'Kebenaran ada di sini...'
'Siapkah kau mbayar harganya?'
Kaelen berhenti sejenak, narik napas dalam. "Ini bukan hanya ilusi."
Seketika, aula yang tadinya kosong mulai berubah. Bayangan muncul di sekitar reka, berkumpul njadi sosok-sosok yang semakin nyata. Beberapa dari reka ngenakan jubah Ordo Cahaya, sentara yang lain terlihat seperti prajurit Kegelapan dari perang bertahun-tahun lalu. Mata reka kosong, tetapi ekspresi reka dipenuhi emosi—kemarahan, kesedihan, kebingungan.
Varrok ngangkat kapaknya. "Apa reka...?"
"Bukan makhluk hidup," jawab Veylan cepat. "reka adalah ingatan. Jejak dari reka yang telah binasa di tempat ini."
Lyra negangkan busurnya. "Tapi reka bergerak seperti nyata."
Kaelen natap salah satu dari reka, seorang prajurit muda dengan luka di dadanya, yang tampaknya ncoba berbicara tetapi suaranya hanya njadi bisikan kosong. Sejenak, Kaelen rasakan sesuatu yang dingin rayap di dadanya—kesadaran bahwa tempat ini bukan hanya nyimpan kenangan, tetapi juga rasa sakit yang tak pernah bisa pergi.
Lalu, reka ndengar suara lain.
Sebuah langkah yang lebih nyata, lebih berwujud dibanding bayangan-bayangan itu.
Dari kegelapan di depan reka, muncul sosok yang tak asing. Tubuhnya tegap, auranya begitu kuat hingga seakan nekan udara di sekitar reka.
Eryon.
Mata Kaelen najam. Ini bukan ilusi, bukan pantulan ingatan. Ini benar-benar dia.
Eryon berdiri dengan tangan di gagang pedangnya, tatapannya tertuju langsung pada Kaelen. "Akhirnya kau sampai di sini."
Kaelen nggenggam pedangnya erat. "Dan aku tidak akan mundur."
Eryon nghela napas, seolah apa yang akan ia katakan miliki beban lebih dari sekadar ancaman. "Kaelen... ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum kita bertarung."
Kaelen ngangkat dagunya. "Tak ada lagi yang perlu dikatakan."
Namun, sebelum ia bisa nyerang, Eryon berbicara lagi—dan kata-katanya mbuat waktu seakan berhenti.
"Aku bukan musuhmu."
Keheningan nyelimuti ruangan. Lyra dan Varrok saling berpandangan, sentara Veylan hanya nyipitkan mata.
Kaelen ngerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Eryon langkah maju. "Selama ini, kau nganggap aku sebagai lawan, seseorang yang ngkhianatimu. Tapi kebenaran yang kau cari... ada di balik semua ini." Ia layangkan tangannya ke sekeliling ruangan. "Aku datang ke sini bukan untuk nghalangimu. Aku datang karena aku juga ncari jawaban."
Kaelen ngendurkan cengkeramannya pada pedangnya, tetapi masih belum sepenuhnya percaya. "Jika kau ncari jawaban, kenapa kau terus berusaha nghancurkan kami?"
Eryon nggeleng. "Karena Ordo Cahaya tidak ngizinkanku bertindak sendiri. Jika aku tidak nunjukkan kesetiaan, aku akan dibunuh sebelum sampai sejauh ini."
Kaelen tidak bisa nahan diri untuk tidak ngingat kilasan-kilasan ingatan yang baru saja ia dapatkan kembali. Dulu, Eryon adalah teman seperjuangannya. reka miliki visi yang sama sebelum semuanya berubah.
Lyra berbicara, suaranya ngandung kecurigaan. "Lalu kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang kau ngungkap ini?"
Eryon natapnya dengan dingin. "Karena aku harus mastikan bahwa Kaelen cukup kuat untuk ngetahui kebenaran."
Kaelen ngatupkan rahangnya. "Dan apa kebenaran itu?"
Eryon terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbicara.
"Ordo Cahaya tidak hanya ingin nghancurkan Kegelapan. reka ingin nghapus keseimbangan. reka ingin nguasai segalanya."
Kaelen ngerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Eryon langkah lebih dekat. "Jantung Kegelapan tidak hanya nyimpan kegelapan. Ia juga nyimpan Cahaya yang telah disegel. Kegelapan yang selama ini kita lawan... hanyalah bagian dari permainan reka."
Lyra terkejut. "Itu tidak mungkin... Ayahku..."
Eryon ngangguk. "Grandmaster Elvior ngetahui ini. Itu sebabnya ia tidak ingin ada yang sampai sejauh ini."
Kaelen nghela napas panjang, pikirannya berputar. Jika yang dikatakan Eryon benar, maka perang ini bukan sekadar antara Cahaya dan Kegelapan. Ini adalah perebutan kekuasaan yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Dan reka semua adalah bidak dalam permainan itu.
Varrok nggeram. "Jadi apa yang harus kita lakukan?"
Eryon natap Kaelen dengan tajam. "Kau harus mbuat pilihan. Kau bisa nghancurkan Jantung Kegelapan dan nghapusnya selamanya... atau kau bisa mbebaskan kekuatan yang tersembunyi di dalamnya dan ngembalikan keseimbangan."
Kaelen natap ruangan di sekelilingnya. Kedua pilihan itu mbawa konsekuensi besar. Jika ia nghancurkan tempat ini, mungkin tak ada lagi perang. Tapi jika ia mbebaskannya, ia mungkin mbuka sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia kendalikan.
Dan ini adalah keputusan yang hanya bisa ia buat sendiri.
Ia narik napas dalam, sebelum akhirnya berkata, "Aku akan nemukan jalan."
Eryon tersenyum tipis. "Kalau begitu, bersiaplah. Karena apa pun pilihanmu... pertempuran terakhir sudah nunggu."
Reviews
All reviews (0)