Kegelapan nyelimuti segalanya.
Kaelen rasakan tubuhnya layang dalam kehampaan, terombang-ambing di antara kesadaran dan ketiadaan. Tidak ada suara, tidak ada cahaya, hanya sensasi seolah dirinya sedang ditarik ke dalam sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kegelapan biasa.
Kemudian, perlahan, ia mulai rasakan pijakan di bawah kakinya.
Ia mbuka matanya.
Kaelen berdiri di tengah sebuah ruangan luas yang dikelilingi cermin-cermin tinggi. Namun, bayangannya tidak terpantul di dalamnya. Sebaliknya, cermin-cermin itu nampilkan pemandangan yang berbeda—fragn-fragn masa lalu yang telah lama hilang dari ingatannya.
Ia langkah ke depan, ndekati salah satu cermin. Di dalamnya, ia lihat dirinya yang lebih muda, berlari lewati ladang hijau dengan tawa kecil nggema di udara. Sosok seorang wanita berdiri di kejauhan, tersenyum kepadanya.
"Elara..." bisiknya.
Ibunya.
Tetapi sebelum ia bisa ndekat, cermin itu bergetar, gambarnya berubah njadi bayangan pekat, dan suara jeritan nggema di sekelilingnya. Kaelen tersentak mundur, dadanya naik turun. Ia tahu ini bukan sekadar ilusi. Ini adalah sesuatu yang telah lama ia lupakan.
"Kaelen."
Ia berbalik. Sosok Serina berdiri di tengah ruangan, wajahnya tenang, tetapi matanya nyiratkan sesuatu yang lebih dalam—sebuah kesedihan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Apa ini?" Kaelen bertanya, suaranya terdengar lebih kasar dari yang ia inginkan.
Serina langkah ndekatinya. "Ini adalah tempat di mana ingatan yang hilang tersimpan. Setiap kali kau nggunakan kekuatan itu, potongan dirimu terserap ke dalam Jantung Kegelapan. reka tidak benar-benar hilang, Kaelen. reka hanya nunggu untuk ditemukan."
Kaelen ngepalkan tangannya. "Kalau begitu, kembalikan reka padaku."
Serina natapnya dalam-dalam. "Kau yakin siap nghadapi semuanya?"
Kaelen terdiam. Ia tahu bahwa tidak semua ingatan itu indah. Ada rasa sakit, kehilangan, dan keputusan-keputusan yang telah ia lupakan. Tetapi jika ia ingin terus maju, ia tidak bisa lagi mbiarkan dirinya terpecah.
"Aku siap."
Serina nghela napas dan ngangkat tangannya. Cahaya biru mulai berpendar di sekeliling reka, dan satu per satu, cermin-cermin itu bergetar, bayangan di dalamnya bergerak dengan sendirinya.
Lalu, pecah.
Kilatan ingatan ngalir deras ke dalam kepala Kaelen. Ia lihat kembali wajah-wajah yang pernah hilang darinya—ayahnya, ibunya, Serina, rekan-rekan seperjuangannya. Ia rasakan kembali beban kehilangan, luka yang selama ini terkubur di dalam dirinya.
Namun, di antara semua itu, ada satu ingatan yang mbuatnya terpaku.
Eryon.
Kaelen lihat dirinya berdiri di dan perang, pedangnya berlumuran darah, dan di hadapannya berdiri Eryon, mantan sahabatnya yang kini njadi musuh. Mata Eryon dipenuhi kemarahan, tetapi ada sesuatu yang lain di baliknya—rasa sakit yang ndalam.
"Kau benar-benar tidak ngingatnya, bukan?" suara Serina berbisik di sampingnya.
Kaelen natapnya. "Apa maksudmu?"
Serina ngulurkan tangannya ke arah salah satu cermin yang tersisa, dan gambarnya berubah. Kali ini, ia lihat dirinya dan Eryon, jauh sebelum perang dimulai. reka berlatih bersama, bertukar tawa, berbicara tentang masa depan yang akan reka bangun.
"Kau dan dia pernah miliki tujuan yang sama," kata Serina pelan. "Tetapi sesuatu berubah. Sesuatu yang mbuatnya berbalik lawanmu."
Kaelen nggertakkan giginya. "Lalu kenapa aku lupakannya?"
Serina natapnya penuh makna. "Karena kau milih untuk lupakan."
Kaelen rasakan sesuatu ncengkeram dadanya. Jika itu benar, maka ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perang di antara reka. Sesuatu yang telah ia tutupi dari dirinya sendiri.
Cahaya di ruangan itu mulai redup. Serina langkah mundur, ekspresinya mulai mudar.
"Kaelen, kau harus nemukan kebenaran sendiri. Tetapi ingatlah satu hal..."
Suaranya njadi semakin samar.
"Jangan biarkan kegelapan ngambil lebih dari yang sudah ia ambil."
Lalu semuanya nghilang.
Kaelen mbuka matanya dengan napas tersengal. Ia tidak lagi berada di ruangan cermin—sebaliknya, ia berdiri di depan pintu batu besar yang tampaknya njadi akhir dari lorong yang reka lalui sebelumnya. Udara di sekelilingnya terasa lebih berat, seolah tempat ini tahu bahwa ia telah ngambil sesuatu yang bukan miliknya.
Lyra, Varrok, dan Veylan natapnya dengan ekspresi penuh tanya.
"Kaelen?" suara Lyra manggil, nada khawatir dalam suaranya.
Kaelen ngangkat kepalanya, matanya kini lebih tenang, tetapi juga lebih tajam dari sebelumnya.
"Aku ngingatnya."
Veylan natapnya dalam. "Apa yang kau ingat?"
Kaelen tidak langsung njawab. Sebaliknya, ia langkah maju dan letakkan tangannya di pintu batu. Energi bergetar dari permukaannya, dan dengan suara gemuruh, pintu itu mulai terbuka perlahan. Dari baliknya, hembusan angin gelap nerpa wajah reka, mbawa serta bisikan samar yang sulit dingerti.
Di dalamnya, hanya ada kegelapan.
Namun, kali ini, Kaelen tidak rasa takut.
Ia berbalik natap rekan-rekannya dan ngangguk. "Ayo. Kita akhiri ini."
reka langkah masuk bersama, nuju babak terakhir dari perjalanan reka.
Reviews
All reviews (0)