Font Size
15px

Kaelen langkah lebih dalam ke lorong yang diterangi cahaya biru berpendar dari dinding-dindingnya. Udara di sini begitu sunyi, seolah ruang ini terputus dari dunia luar. Setiap langkah nggema, nciptakan kesan bahwa tempat ini tidak tersentuh oleh waktu.

Varrok nggenggam kapaknya lebih erat. "Aku tidak suka ini. Terlalu sepi. Terlalu... mati."

Lyra berjalan di samping Kaelen, matanya terus nyapu ke setiap sudut lorong. "Apa sebenarnya tempat ini?"

Veylan, yang berjalan paling depan, berhenti sejenak. "Lorong ini adalah batas antara Jantung Kegelapan dan sesuatu yang lebih dalam. Segel tadi bukan hanya ngunci kita di sini—tetapi juga njaga sesuatu agar tetap terkubur."

Kaelen natapnya tajam. "Dan kau tidak mberitahu kami sebelumnya?"

Veylan hanya tersenyum samar. "Jika aku mberitahu, apakah kau masih akan masuk?"

Kaelen ndengus, milih untuk tidak njawab. Ada sesuatu yang nariknya semakin dalam, sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia bisa rasakan denyutan samar di udara, seperti detak jantung yang perlahan beresonansi dengan langkah kakinya.

Lalu, lorong itu berakhir.

Di hadapan reka terbentang ruangan luas dengan pilar-pilar tinggi yang njulang ke langit-langit, seolah-olah ini adalah sisa-sisa sebuah kuil kuno. Cahaya biru dari lorong kini tergantikan oleh cahaya redup keunguan yang berasal dari kristal-kristal yang nempel di dinding.

Namun, yang narik perhatian reka bukanlah pilar-pilar itu, lainkan sosok yang berdiri di tengah ruangan.

Sosok itu tinggi, berselimut jubah gelap dengan simbol kuno yang berpendar samar. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan, tetapi mata peraknya bersinar tajam.

Kaelen rasakan dadanya sesak. Ada sesuatu tentang sosok ini yang terasa... akrab.

"Kaelen Draven," suara sosok itu dalam dan bergema, seolah berasal dari masa yang telah lama terlupakan. "Akhirnya kau datang."

Lyra langsung narik busurnya, sentara Varrok ngangkat kapaknya dengan siaga. Namun, sebelum reka bisa bergerak, sosok itu ngangkat satu tangan, dan seketika, reka mbeku. Bukan karena kekuatan fisik, lainkan sesuatu yang lebih dalam—sebuah tekanan yang langsung nekan jiwa reka.

Kaelen berusaha lawan, tetapi tubuhnya tidak mau bergerak.

Sosok itu berjalan ndekatinya, langkahnya nyaris tanpa suara. "Kau tidak ngenaliku, bukan?"

Kaelen ngerutkan kening. "Siapa kau?"

Senyum tipis muncul di wajah sosok itu. "Aku adalah bagian dari ingatanmu yang telah hilang. Aku adalah reka yang telah kau lupakan."

Kaelen rasakan sesuatu berputar dalam kepalanya—rasa sakit yang nusuk, kilasan bayangan yang seharusnya ada, tetapi kini hanya berupa kepingan yang retak.

Lalu, ia lihatnya.

Serina.

Bukan bayangan seperti sebelumnya. Tidak sekadar ilusi yang mudar. Ia berdiri di samping sosok itu, matanya penuh emosi yang tak dapat dijelaskan.

Kaelen terhuyung mundur. "Tidak... ini tidak mungkin."

Serina natapnya, lalu berbicara dengan suara yang lebih nyata dari yang pernah ia dengar sejak ia lupakannya. "Kaelen, kau telah datang terlalu jauh."

Jantung Kaelen berdetak kencang. "Aku... aku tidak ngerti. Aku lihatmu mati. Aku..."

Sosok berjubah itu ngangkat tangannya lagi, dan tiba-tiba ruangan di sekitar reka berubah. Pilar-pilar runtuh, lantai njadi retak, dan dari bayangan, sosok-sosok lain mulai muncul. Wajah-wajah samar, tetapi Kaelen bisa rasakan bahwa reka pernah miliki arti dalam hidupnya.

Darius. Elara. Orang-orang yang pernah ia kenal dan lupakan.

Kaelen rasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Apa ini?" bisiknya.

Sosok berjubah itu natapnya dengan mata peraknya yang dingin. "Ini adalah harga dari kekuatan yang kau gunakan. Setiap ingatan yang telah kau hilangkan... tidak benar-benar lenyap. reka ada di sini. Bersamaku."

Kaelen jatuh berlutut. Dadanya terasa berat, seolah dunia nekannya dari segala arah. Ia telah nerima kekuatan ini tanpa ngetahui dampaknya yang sebenarnya. Semua yang ia korbankan... reka tidak lenyap begitu saja. reka terkumpul di sini, di tempat ini.

Serina berlutut di depannya, natapnya dengan kelembutan yang milukan. "Kaelen... apakah kau masih ingin lanjutkan?"

Kaelen natap wajahnya yang pernah begitu akrab. Pilihan yang ada di depannya kini lebih sulit dari sebelumnya. Jika ia terus maju, apa lagi yang akan ia hilangkan? Tetapi jika ia berhenti di sini, apakah semuanya akan sia-sia?

Tangannya getar saat ia ngepalkan tinjunya.

Lalu, ia ngambil keputusan.

Ia ngangkat kepalanya, natap lurus ke dalam mata Serina.

"Aku akan nemukan jalan."

Sosok berjubah itu tersenyum. "Kita akan lihat... apakah kau benar-benar siap nghadapi kebenaran."

Tiba-tiba, cahaya keunguan di ruangan itu berpendar lebih terang. Pilar-pilar yang runtuh kembali mbentuk dirinya, dan bayangan yang sebelumnya layang di udara mulai bergerak, berputar ngelilingi reka. Ruangan ini tidak sekadar tempat ujian—ia adalah pintu gerbang nuju sesuatu yang lebih dalam.

Kaelen narik napas dalam. Langkah berikutnya akan nentukan segalanya.

Lalu, semuanya njadi gelap.

You are reading The Shattered Light Chapter 69: – Bayangan yang Terlupakan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.