Font Size
15px

Kaelen masih rasakan denyut kekuatan yang ngalir lalui tubuhnya. Debu hitam dari sosok bermata rah yang baru saja dikalahkannya perlahan nghilang, tersapu oleh angin pekat yang berembus dari Jantung Kegelapan. Namun, skipun ia nang, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan yang tak kunjung reda.

Lyra raih lengannya, ekspresi cemas di wajahnya. "Kau baik-baik saja?"

Kaelen narik napas dalam, ncoba ngendalikan gejolak dalam dirinya. "Aku... tidak tahu. Rasanya seperti sesuatu telah berubah."

Veylan ngamati Kaelen dengan tajam. "Kau berhasil lawannya, tapi ini bukan akhir. Ini baru awal dari perubahan yang akan kau hadapi."

Varrok nggeram, matanya tajam nyapu sekeliling. "Kita harus bergerak. Aku tidak percaya tempat ini akan mbiarkan kita pergi dengan mudah."

reka lanjutkan perjalanan lewati lorong reruntuhan yang kini tampak lebih berubah dari sebelumnya. Dinding yang tadinya runtuh kini tampak tersusun kembali dengan cara yang aneh, dan bayangan yang sebelumnya hanya bergerak dalam kegelapan kini lebih nyata—nyatu dengan struktur batu yang terasa hidup. Kaelen bisa rasakan tatapan tak kasat mata ngawasi reka dari setiap sudut.

Saat reka berjalan lebih jauh, langkah reka terhenti di hadapan sebuah pintu gerbang raksasa. Di tengahnya terdapat simbol berbentuk lingkaran dengan coretan yang tampak seperti nadi bercahaya rah gelap, berdenyut pelan seolah miliki kesadaran sendiri.

"Ini... bukan sekadar pintu," gumam Lyra, matanya nyipit curiga.

Kaelen natap Veylan. "Apa ini?"

Veylan ndekati gerbang, nyentuh permukaannya dengan hati-hati. "Ini adalah Segel Kegelapan. Gerbang yang nghalangi kita untuk keluar... atau mungkin sesuatu agar tidak bisa masuk."

"Dan bagaimana kita mbukanya?" tanya Varrok, suaranya ngandung ketidaksabaran yang samar.

Veylan berbalik natap Kaelen. "Kau."

Kaelen ngerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Veylan narik napas dalam. "Gerbang ini respons energi dari reka yang telah nghadapi ujian kegelapan dan nerimanya. Kaelen, kau yang harus mbuka segel ini."

Kaelen natap gerbang itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu apa artinya nerima kegelapan, ia tahu harganya. Setiap kali ia nggunakannya, ia kehilangan sesuatu yang berharga. Tapi ia juga tahu bahwa jika reka tidak maju, reka akan terjebak selamanya di dalam Jantung Kegelapan.

Kaelen nutup matanya dan mbiarkan kekuatan itu rayapi tubuhnya. Ia ngangkat tangannya perlahan, nyentuh segel di gerbang dengan ujung jarinya. Seketika, rasa dingin yang luar biasa nyelimuti dirinya.

Gambaran-gambaran bermunculan dalam pikirannya—wajah orang-orang yang telah ia lupakan, suara-suara yang dahulu ia kenal tetapi kini hanya njadi gema samar. Setiap ingatan yang mudar terasa seperti luka yang terus nganga.

Kemudian, ia lihatnya.

Serina.

Ia berdiri di antara bayangan, tidak berbicara, hanya natapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada kesedihan di matanya, tetapi juga sesuatu yang lain—sebuah peringatan.

"Kaelen."

Suara itu bergema di dalam kepalanya.

"Kau masih bisa mundur."

Kaelen ngerjap, rasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia ingin berbicara, ingin ngatakan sesuatu, tetapi Serina sudah nghilang, nyatu kembali dengan kegelapan.

Tiba-tiba, segel di gerbang mulai bersinar dengan cahaya rah pekat. Pintu batu itu bergemuruh sebelum akhirnya terbuka perlahan, mperlihatkan lorong panjang yang dipenuhi dengan cahaya biru berpendar. Udara di dalamnya terasa berbeda—lebih sunyi, lebih padat, seolah ada sesuatu yang nunggu di ujung sana.

reka telah mbukanya.

Kaelen nurunkan tangannya, tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda dalam dirinya. Ia natap Lyra dan Varrok yang masih lihatnya dengan waspada. Veylan tidak ngatakan apa-apa, tetapi matanya nyiratkan pemahaman yang dalam.

"Ayo," katanya dengan suara lebih tenang dari yang ia rasakan. "Kita tidak punya banyak waktu."

Saat reka langkah masuk ke dalam lorong, suara bisikan di sekeliling reka semakin mudar, tetapi Kaelen tahu bahwa sesuatu sedang nunggu reka di ujung jalan ini.

Dan kali ini, ia tidak yakin apakah ia siap nghadapinya.

You are reading The Shattered Light Chapter 68: – Titik Balik on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.