Kaelen berdiri diam di tengah reruntuhan, pikirannya masih berputar setelah pertemuannya dengan Serina. Suara bisikan dari Jantung Kegelapan terus nggema, nyelinap ke dalam benaknya seperti racun yang perlahan rayap ke dalam kesadarannya.
'Kebenaran yang kau cari... akan njadi beban yang tak bisa kau tanggung.'
Sosok bermata rah masih bersembunyi dalam bayangan, mperhatikan reka. Udara semakin berat, dan kegelapan di sekitar reka terasa seperti makhluk hidup yang siap nelan segalanya.
Varrok rapatkan cengkeramannya pada kapaknya, matanya tajam nyapu area sekitar. "Kita tidak bisa terus diam di sini. Apa pun yang ngintai kita, ia sedang nunggu kita lakukan kesalahan."
Lyra ngangguk setuju, skipun tatapannya masih penuh dengan kecemasan saat lihat Kaelen. "Kita harus bergerak. Kau baik-baik saja?"
Kaelen narik napas dalam dan ngangguk, skipun rasa bimbang masih nghantuinya. "Ya. Kita lanjutkan."
Veylan langkah maju, mimpin reka lebih dalam ke dalam reruntuhan. "Tempat ini dulunya adalah benteng terakhir sebelum Jantung Kegelapan benar-benar nelan segalanya. Tapi sekarang, ia hanya nyisakan bayangan dari masa lalu." Ia berhenti sejenak dan noleh ke Kaelen. "Dan mungkin, juga masa depan."
reka berjalan lewati jalan berbatu yang retak, diapit oleh bangunan yang telah roboh. Sesekali, bayangan bergerak di sudut-sudut gelap, tetapi tak ada yang muncul untuk nyerang reka. Namun, suasana tegang semakin nekan, seolah sesuatu yang besar sedang nunggu reka di depan.
Tiba-tiba, langkah reka terhenti.
Di tengah lapangan terbuka, sebuah sosok berdiri dengan tenang. Jubahnya panjang dan hitam, berkibar pelan skipun tak ada angin. Wajahnya tersembunyi di balik tudung, tetapi matanya bersinar rah darah, seperti bara yang nyala di dalam kegelapan.
"Kau akhirnya datang, Kaelen Draven."
Suara itu bergema di sekeliling reka, dalam dan penuh kewibawaan. Namun, ada sesuatu yang familiar di dalamnya—sesuatu yang mbuat darah Kaelen berdesir.
"Siapa kau?" Kaelen negakkan tubuhnya, tangannya nggenggam pedangnya erat.
Sosok itu langkah maju perlahan, dan saat ia ngangkat tangannya, bayangan di sekitar reka mulai bergerak, rayap seperti makhluk hidup.
"Aku adalah apa yang akan kau jadi. Aku adalah takdir yang nunggumu."
Kaelen rasakan sesuatu yang dingin rambat ke punggungnya. Sosok ini bukan sekadar ilusi seperti yang lain. Ada sesuatu yang lebih nyata tentangnya—seolah ia benar-benar hidup.
Veylan nggeram. "Ini bukan sekadar ujian. Ini adalah penguasa tempat ini."
Sosok itu tersenyum tipis. "Penguasa? Tidak. Aku hanya penjaga. Dan tugasku adalah mastikan bahwa hanya reka yang benar-benar layak yang bisa keluar dari tempat ini."
Lyra naikkan busurnya. "Dan jika kami tidak lulus ujianmu?"
Sosok itu noleh ke arahnya, dan seketika, bayangan di tanah lesat seperti tombak hitam, nyerang ke arahnya. Lyra lompat mundur, tetapi salah satu bayangan itu berhasil ncakar lengannya, mbuatnya jatuh tersungkur.
"Lyra!" Kaelen bergerak cepat, nebas bayangan yang ndekatinya. Namun, saat pedangnya ngenai sosok itu, pedangnya hanya nembus udara kosong.
Sosok itu tertawa kecil. "Kau tidak bisa lawan bayangan dengan senjata biasa, Kaelen. Kau harus nerima apa yang telah njadi bagian dari dirimu."
Kaelen nggertakkan giginya. Dia tahu maksud dari kata-kata itu. Jika dia ingin nang, dia harus nggunakan kekuatan kegelapannya sendiri.
Varrok lompat ke depan dengan kapaknya, ncoba nebas makhluk itu dari samping, tetapi sekali lagi, serangannya hanya nembus kehampaan. Veylan natap Kaelen tajam. "Kau harus nghadapinya sendiri. Kami tidak bisa nyentuhnya."
Kaelen natap sosok itu, hatinya dipenuhi oleh konflik. Jika dia nggunakan kekuatan itu, apa yang akan hilang darinya kali ini? Berapa banyak lagi yang harus dia korbankan?
Namun, ketika dia lihat Lyra yang masih terduduk dengan darah netes dari lengannya, dia tahu dia tidak punya pilihan.
Kaelen nutup matanya, mbiarkan dirinya rasakan energi gelap yang selalu ngintai di dalam dirinya. Bayangan di sekelilingnya mulai bergetar, seolah respons panggilannya.
Sosok itu tersenyum puas. "Itu dia... sekarang tunjukkan padaku, apakah kau cukup kuat untuk ngendalikan kegelapan? Ataukah kegelapan yang akan ngendalikanmu?"
Kaelen mbuka matanya, dan untuk sesaat, warna hitam pekat nggantikan irisnya. Bayangan di tanah respons, mbentuk bilah tajam yang bergerak ngikuti kehendaknya.
Tanpa ragu, dia nyerang.
Pedang bayangan bertemu dengan kegelapan lawannya, nciptakan dentuman yang ngguncang tanah di sekitar reka. Sosok bermata rah itu nangkis serangan pertama dengan mudah, tetapi Kaelen terus nekan, setiap ayunan pedangnya semakin selaras dengan kekuatan barunya.
Namun, dengan setiap serangan yang ia lancarkan, ada sesuatu yang perlahan terasa mudar dalam dirinya.
Ingatan. Emosi. Diri.
Lyra nyadari ini dan berteriak, "Kaelen! Jangan biarkan dia nguasaimu!"
Kaelen ngertakkan giginya. Dia harus ngendalikan kekuatan ini. Dia tidak boleh mbiarkannya ngambil lebih dari yang seharusnya.
Sosok itu tertawa. "Kau rasa itu, bukan? Kehilangan? Itulah harga kekuatan, Kaelen. Jika kau ingin nang, kau harus ngorbankan segalanya."
Kaelen ngayunkan pedangnya ke arah sosok itu, tetapi di detik terakhir, dia nahan serangannya. Tidak. Ini bukan caranya.
Dia harus nemukan keseimbangan.
Alih-alih nyerang lagi, Kaelen musatkan pikirannya, ngendalikan bayangan yang telah njadi perpanjangan dirinya. Bukan dengan amarah, bukan dengan ketakutan—tetapi dengan kesadaran.
Bayangan itu mulai nyusut, tidak lagi bergerak liar, tetapi mbentuk perisai yang lindunginya. Sosok lawannya tampak terkejut.
"narik...," gumamnya.
Kaelen natapnya dengan penuh tekad. "Aku tidak akan njadi seperti dirimu."
Seketika, energi di sekitar reka ledak, dan sosok bermata rah itu mulai retak, seperti kaca yang pecah perlahan.
Sebelum dia nghilang, dia tersenyum. "Kita akan lihat... apakah kau benar-benar bisa lepas dari bayanganmu sendiri."
Lalu, dia lenyap.
Kaelen jatuh berlutut, tubuhnya lelah, tetapi kesadarannya tetap utuh. Lyra berlari nghampirinya, sentara Varrok dan Veylan ngawasi sekeliling dengan siaga.
Jantung Kegelapan masih belum selesai nguji reka. Tetapi untuk pertama kalinya, Kaelen rasa ia telah nemukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kekuatan.
Dirinya sendiri.
Reviews
All reviews (0)