Kaelen masih berlutut, napasnya mburu setelah konfrontasi dengan bayangan dirinya sendiri. ski pertarungan telah berakhir, bekasnya masih tertinggal dalam dadanya. Dia tahu ini belum selesai. Jantung Kegelapan belum selesai ngujinya.
Lyra tetap berada di sisinya, jemarinya masih nggenggam tangan Kaelen erat. "Kau yakin bisa lanjutkan?" tanyanya dengan suara yang ngandung kekhawatiran.
Kaelen ngangguk perlahan. "Aku tidak punya pilihan."
Veylan langkah maju, sorot matanya tajam. "Ini baru permulaan. Apa yang kau hadapi tadi adalah bagian dari dirimu sendiri. Tapi Jantung Kegelapan tidak hanya nguji hati—ia juga nguji tujuan."
Varrok nyilangkan tangan di dadanya. "Kalau begitu, ayo lanjutkan. Aku tidak suka berlama-lama di tempat seperti ini."
Tanpa nunggu lebih lama, reka kembali langkah ke dalam kabut yang semakin pekat. Setiap langkah terasa berat, seolah ada sesuatu yang nahan reka. Udara dingin nusuk hingga ke tulang, dan suara-suara samar masih terus berbisik di sekeliling reka.
'Kau tidak akan nemukan apa yang kau cari...'
'Setiap langkahmu hanya mbawa kehancuran...'
Kaelen nutup matanya sejenak, ncoba ngabaikan suara-suara itu. Namun, ketika dia mbuka matanya lagi, dia nyadari sesuatu yang salah.
reka tidak lagi berjalan di jalur yang sama.
reka kini berdiri di tengah reruntuhan kota yang asing. Bangunan-bangunan batu hitam njulang tinggi, beberapa di antaranya telah runtuh. Api berkobar di kejauhan, sentara langit di atas reka dipenuhi awan gelap berputar, seakan badai besar akan datang.
"Di mana kita?" Lyra bertanya, matanya mbelalak.
Veylan mperhatikan sekeliling dengan ekspresi waspada. "Ini bukan dunia nyata. Ini ingatan."
Kaelen natap reruntuhan di hadapannya, jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang akrab tentang tempat ini. Sebuah perasaan yang nggelitik di balik pikirannya.
Kemudian, dia lihatnya.
Sebuah bayangan bergerak di antara reruntuhan. Tidak seperti Pantulan sebelumnya, sosok ini lebih nyata, lebih manusiawi. Dan ketika dia langkah lebih dekat, wajahnya njadi jelas.
Itu adalah Serina.
Kaelen mbeku. Dadanya terasa sesak, seolah-olah waktu berhenti seketika. Serina berdiri di sana, ngenakan baju zirah tempur yang berlumuran darah, busurnya masih tergenggam erat. Mata hijaunya natap lurus ke arahnya—penuh dengan emosi yang tidak bisa Kaelen pahami.
"Serina..." suaranya nyaris tak terdengar.
Serina tersenyum, tetapi ada kepedihan dalam ekspresinya. "Akhirnya kau datang."
Lyra negang di sampingnya. "Kaelen... ini bukan nyata."
Kaelen tahu itu. Dia tahu bahwa Serina telah mati. Dia tahu bahwa dia telah kehilangan ingatan tentangnya karena kekuatannya sendiri. Tapi sekarang, lihatnya di sini, dengan begitu nyata, mbuatnya rasa seolah semua itu belum terjadi.
Dia langkah maju, tetapi Serina ngangkat tangannya untuk nghentikannya.
"Kau tidak bisa nyentuhku," katanya lirih. "Aku bukan lagi bagian dari dunia yang kau kenal."
Kaelen ngepalkan tangannya. "Apa ini? Kenapa kau ada di sini?"
Serina natapnya dalam. "Karena ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum kau langkah lebih jauh. Aku adalah bagian dari apa yang telah kau lupakan. Dan aku datang untuk nanyakan satu hal padamu, Kaelen."
Dia ndekat sedikit, suaranya berubah njadi bisikan. "Apakah kau masih ngingat kenapa kau bertarung?"
Kaelen terdiam. Pertanyaan itu nghantamnya lebih keras dari serangan mana pun yang pernah ia terima.
"Apakah ini tentang balas dendam?" Serina lanjutkan. "Atau tentang sesuatu yang lebih besar?"
Kaelen ingin njawab, tetapi kata-kata itu terasa macet di tenggorokannya. Dia telah kehilangan begitu banyak. Dia telah ngorbankan dirinya sendiri untuk kekuatan ini, untuk mbalas kematian orang-orang yang ia sayangi. Tapi sekarang, ia tidak yakin lagi.
Varrok dan Lyra tetap diam, mbiarkan Kaelen nghadapi pertanyaannya sendiri. Veylan, yang biasanya penuh dengan jawaban, hanya ngamati dari kejauhan.
Serina nunggu, tetapi ketika Kaelen masih belum bisa njawab, ekspresinya berubah njadi lebih sedih. "Jika kau tidak tahu untuk apa kau bertarung, Kaelen... maka kau akan jatuh lebih dalam ke dalam kegelapan."
Kaelen rasakan sesuatu ncengkeram dadanya. Dia tidak ingin kehilangan dirinya sendiri, tetapi bagaimana jika dia sudah terlambat?
Serina mulai nghilang, tubuhnya mudar njadi serpihan cahaya. Namun sebelum dia lenyap sepenuhnya, dia berkata satu hal terakhir.
"Kau harus nemukan jawaban itu... sebelum semuanya terlambat."
Lalu dia nghilang, ninggalkan Kaelen sendirian dengan pikirannya.
Jantung Kegelapan semakin dalam nghisap reka, dan Kaelen tahu... ini belum berakhir.
Dari kejauhan, sesuatu bergerak di dalam bayangan reruntuhan. Sebuah sosok lain yang ngamati reka. Mata rah nyala di dalam kegelapan, dan bisikan yang lebih dalam terdengar.
'Kebenaran yang kau cari... akan njadi beban yang tak bisa kau tanggung.'
Tanpa disadari oleh reka, Jantung Kegelapan telah nyiapkan ujian terakhirnya.
Reviews
All reviews (0)