Font Size
15px

Kaelen terhuyung mundur, jantungnya masih berdetak kencang setelah ilusi orang tuanya lenyap. Rasa kehilangan kembali nghantamnya, tetapi ada sesuatu yang lebih ngerikan—dia tidak bisa ngingat suara ibunya lagi. Seolah bayangan masa lalunya perlahan-lahan terhapus, njadi abu yang tersapu oleh angin kegelapan di tempat ini.

Sentara itu, Lyra masih terduduk di tanah, wajahnya pucat saat sosok ayahnya nghilang di balik kabut pekat. Tangannya ngepal, kuku-kukunya hampir ncakar telapak tangannya sendiri. Ia ngangkat kepala dan bertatapan dengan Kaelen.

"Ini bukan sekadar tempat biasa," suaranya bergetar. "Jantung Kegelapan... bukan hanya nguji kita. Ia nghisap kita."

Kaelen ingin njawab, tetapi suara di sekeliling reka mulai berbisik, suara-suara asing yang tidak berasal dari reka sendiri.

'Kau sudah terlalu jauh...'

'Semakin dalam kau langkah, semakin kau akan kehilangan...'

Kaelen nggertakkan giginya. Dia tahu ini adalah bagian dari ujian, tetapi suara-suara itu terasa nyata, begitu dekat di telinganya. Dingin yang nusuk semakin rasuk ke dalam tulangnya, mbuatnya rasa seakan tubuhnya sendiri mulai larut dalam kegelapan.

Varrok akhirnya muncul dari balik kabut, wajahnya tegang. "Aku lihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini."

Veylan, yang berdiri beberapa langkah di depan reka, natap dengan tajam. "Itu bukan halusinasi. Ini cara tempat ini ngungkap siapa diri kita sebenarnya. Jika kalian tidak cukup kuat untuk nghadapinya, maka kalian tidak akan keluar dari sini dengan selamat."

Lyra berdiri, suaranya penuh kemarahan yang bercampur dengan ketakutan. "Dan kau tidak mberi tahu kami sebelumnya?"

Veylan tetap tenang. "Jika aku mberi tahu, kalian mungkin tidak akan berani masuk."

Kaelen natap sekeliling. Kabut yang nyelimuti reka bergerak perlahan, seperti makhluk hidup yang nunggu kesempatan untuk lahap mangsanya.

"Jadi apa yang kita cari di sini?"

Veylan langkah maju. "Kebenaran. Tentang dirimu, tentang kekuatanmu. Tapi ada sesuatu yang lebih."

Sebelum Kaelen bisa bertanya, tanah di bawah reka bergetar. Dari kegelapan yang lebih pekat di depan reka, sesuatu muncul—sesosok bayangan besar dengan mata berkilat rah darah. Ia tidak miliki bentuk yang jelas, hanya massa kegelapan yang terus berubah, tetapi aura yang dipancarkannya mbuat udara di sekitar reka negang.

'Kaelen Draven...'

Suara itu nggema di kepalanya, dalam, penuh ancaman sekaligus godaan. Kaelen narik pedangnya, bersiap bertarung, tetapi Veylan ngangkat tangan. "Jangan nyerang sembarangan."

Lyra negangkan busurnya. "Apa itu?"

Veylan natap makhluk itu dengan serius. "Itu bukan sekadar bayangan. Itu adalah Pantulan, manifestasi dari kegelapan yang ada dalam diri kita."

Makhluk itu tertawa rendah. 'Kau ingin tahu siapa dirimu sebenarnya, Kaelen? Maka lihatlah...'

Dalam sekejap, kabut di sekitar reka berputar, mbentuk pemandangan baru. reka tidak lagi berada di Jantung Kegelapan. Sebagai gantinya, reka lihat sebuah dan perang yang sudah berakhir—penuh dengan mayat-mayat berserakan, baju zirah hancur, dan tanah yang ternoda darah.

Di tengah dan perang itu, seorang pria berdiri dengan pedang berlumuran darah, tubuhnya dikelilingi bayangan yang sama seperti makhluk yang berdiri di hadapan reka.

Dan pria itu adalah Kaelen.

Kaelen mbeku. "Tidak mungkin..."

Pria itu noleh, mperlihatkan wajahnya yang sama persis dengannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Matanya kosong, tidak nunjukkan emosi selain kegelapan yang ndalam.

'Ini kau, Kaelen,' suara Pantulan itu kembali berbicara. 'Bukan masa lalu, bukan masa depan. Tapi kemungkinan. Jika kau terus langkah ke dalam kegelapan, inilah yang akan terjadi padamu.'

Kaelen nelan ludah. Dia tidak bisa nyangkal bahwa kekuatan kegelapan dalam dirinya semakin bertambah setiap kali dia nggunakannya. Tapi apakah ini benar-benar takdirnya?

Lyra letakkan tangannya di bahunya, suaranya penuh keteguhan. "Kaelen, kau bisa milih jalan lain."

Kaelen natap bayangannya sendiri. "Bagaimana jika aku tidak bisa?"

Pantulan itu tersenyum sinis. 'Maka kau akan njadi aku.'

Sebelum ada yang bisa bergerak, sosok Kaelen yang lain ngangkat pedangnya dan nyerang.

Kaelen dengan sigap ngangkat pedangnya untuk nangkis, tetapi dampaknya mbuat tangannya mati rasa. Serangan itu lebih kuat dari yang ia perkirakan. Bayangannya sendiri tidak hanya niru kekuatannya, tetapi juga wakili sesuatu yang lebih dalam—keinginan tersembunyi untuk lepaskan semua beban yang selama ini ia pikul.

Varrok bergerak untuk mbantu, tetapi Veylan nahan lengannya. "Ini adalah ujian yang harus dia selesaikan sendiri."

Lyra ncengkeram busurnya dengan gelisah, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa nyaksikan Kaelen bertarung lawan versi tergelap dari dirinya sendiri.

Pedang reka saling beradu dalam kilatan cahaya hitam yang berdesing tajam di udara. Kaelen berusaha nyerang balik, tetapi setiap kali ia ngayunkan pedangnya, bayangan itu nangkisnya dengan mudah, seolah ngetahui setiap gerakannya.

'Kau tidak bisa nang,' kata bayangan itu tanpa ekspresi. 'Karena aku adalah dirimu yang sebenarnya.'

Kaelen nggeram. "Aku bukan dirimu."

Bayangan itu tersenyum tipis. 'Lalu buktikan.'

Kaelen tahu bahwa pertarungan ini bukan hanya soal kekuatan fisik. Ini adalah pertempuran lawan dirinya sendiri. Jika ia terus ncoba lawan dengan pedangnya, ia tidak akan pernah nang. Ia harus nemukan cara lain.

ngambil napas dalam, ia nurunkan pedangnya dan natap lurus ke mata bayangannya. "Aku nerima bahwa kau adalah bagian dari diriku. Tapi aku tidak akan mbiarkanmu ngendalikan siapa aku."

Seketika, bayangan itu mbeku.

Kaelen langkah maju. "Aku telah kehilangan terlalu banyak karena kegelapan ini. Aku tidak akan mbiarkan diriku njadi monster."

Bayangan itu mulai retak, seperti kaca yang pecah.

'Tanpa aku, kau akan njadi lemah,' bisiknya.

Kaelen nggeleng. "Tanpa diriku, kau tidak akan pernah ada."

Dengan kata-kata itu, bayangan itu runtuh njadi debu hitam yang lenyap ditiup angin. Keheningan nyelimuti dan perang ilusi tersebut, dan perlahan, dunia kembali ke Jantung Kegelapan.

Kaelen jatuh berlutut, napasnya mburu.

Lyra segera nghampirinya, nggenggam tangannya erat. "Kau berhasil."

Kaelen natapnya, kelelahan tercermin di matanya. "Untuk sekarang."

Dari kegelapan di sekeliling reka, suara bisikan samar masih terdengar, seolah ngingatkan bahwa ujian reka belum berakhir.

You are reading The Shattered Light Chapter 65: – Kegelapan yang Berbisik on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Warlock Apprentice cover
Similar genre

Warlock Apprentice

牧狐 ·Fantasy

Thestatusofawizardistranscendentinallcontinentsandintheuniversalplane. Mysterious,wise,cruelandbloodthirstyaresynonymouswithwizards.Butwhatdoesarea...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.