Font Size
15px

Perjalanan nuju Jantung Kegelapan dimulai sebelum fajar nyingsing. Langit masih pekat dengan warna malam saat Kaelen, Lyra, Varrok, dan Veylan ninggalkan gua persembunyian reka. Suara hutan terdengar sunyi, seolah nahan napas sebelum bencana datang. Di kejauhan, kilatan cahaya oranye dari api unggun pasukan Ordo Cahaya masih terlihat, ngingatkan reka bahwa bahaya terus ngintai.

reka bergerak dalam diam, hanya suara langkah kaki di atas tanah lembab yang nemani. Kaelen lirik Lyra, yang ski terlihat ragu, tetap langkah di sisinya. Varrok berjalan dengan kapak besar tergantung di punggungnya, selalu siaga. Sentara itu, Veylan mimpin reka dengan percaya diri, seolah jalanan nuju Jantung Kegelapan telah terpatri di benaknya.

"Berapa jauh lagi?" tanya Kaelen akhirnya, cah kesunyian.

Veylan noleh sedikit. "Sehari perjalanan jika kita terus bergerak tanpa henti. Tapi jalan yang akan kita tempuh bukan sekadar perjalanan fisik. Ada sesuatu di sana yang akan nguji kita, lebih dari sekadar kekuatan."

Lyra ngerutkan dahi. "Ujian seperti apa?"

Veylan terdiam sejenak sebelum njawab, "Bayangan masa lalu. Setiap orang yang masuki Jantung Kegelapan akan dihadapkan pada sesuatu yang paling reka takutkan—atau sesuatu yang paling reka inginkan."

Kaelen ngepalkan tangannya. Ia tahu bahwa bagi dirinya, ujiannya bukanlah sekadar ketakutan... lainkan kebenaran yang telah lama terkubur.

Saat matahari mulai naik, reka ncapai perbatasan hutan yang ngarah ke wilayah terlarang. Di hadapan reka terbentang daratan tandus dengan kabut hitam pekat yang bergolak seperti ombak. Kabut itu tidak hanya bergerak—ia berdenyut, seolah miliki nyawa sendiri. Suara bisikan samar terdengar di dalamnya, bukan suara yang jelas, tetapi lebih seperti gema pikiran yang berdesakan di kepala Kaelen. Aroma tanah basah bercampur dengan sesuatu yang lebih tajam—seperti logam dan asap, seperti darah yang telah lama ngering. Udara di sini lebih berat, seolah nekan dada reka dengan ketidakterlihatan yang nyesakkan.

"Ini dia," gumam Veylan. "Jantung Kegelapan."

Kaelen langkah maju, rasakan aura nyesakkan dari tempat itu. Bayangan di tanah tampak lebih panjang, lebih pekat dari biasanya. reka seperti rayap ke arahnya, ncoba nariknya ke dalam kehampaan.

Lyra nyentuh lengannya. "Kau yakin ingin lakukan ini?"

Kaelen natapnya dalam-dalam. "Aku harus. Jika aku tidak tahu kebenaran sekarang, aku mungkin tidak akan pernah ndapatkannya."

Varrok nghela napas. "Baiklah, kalau begitu kita tidak punya pilihan lain."

Veylan ngangkat tangannya, dan udara di sekitar reka mulai bergetar. Lambang-lambang kuno muncul di tanah, mbentuk lingkaran yang bersinar redup. "Ketika kita langkah ke dalam, tidak ada jalan kembali sampai kita nemukan jawaban kita masing-masing," katanya dengan nada serius. "Apapun yang terjadi, tetap ingat siapa diri kalian."

Satu per satu, reka langkah ke dalam kabut.

Dunia di dalam Jantung Kegelapan tidak seperti yang reka bayangkan. Begitu reka masuki kabut, kelompok reka langsung terpisah. Kaelen ndapati dirinya berdiri di tempat yang aneh—sebuah dataran luas dengan langit kelabu, tetapi yang lebih ngerikan adalah sosok-sosok yang berdiri di sekelilingnya.

Orang-orang yang seharusnya tidak ada lagi di dunia ini.

Kaelen mundur selangkah, matanya mbesar saat lihat dua sosok yang sangat dikenalnya: Darius dan Elara Draven. Ayah dan ibunya.

Napasnya tercekat. "Tidak... ini tidak mungkin."

Elara tersenyum lembut, matanya penuh kasih sayang. "Kaelen, anakku..."

Darius natapnya dengan bangga. "Kau telah tumbuh njadi pria yang kuat."

Kaelen rasakan lututnya lemah. Kenangan tentang reka telah lama mudar, tetapi lihat reka sekarang—seolah semuanya nyata—mbuat dadanya sesak.

"Kalian... kalian seharusnya sudah mati," katanya dengan suara parau.

Elara langkah ndekat, ngulurkan tangannya. "Kami tidak pernah pergi, Kaelen. Kau hanya lupakan kami."

Kaelen rasa pikirannya berkabut. Keraguan mulai nyelinap. Apa jika... reka mang benar? Jika selama ini ia hanya mbangun dinding pertahanan untuk nghindari rasa sakit? Tangan ibunya yang terulur tampak begitu nyata. Hangat. Ia bisa rasakan desir emosinya sendiri saat hampir nggapainya... tetapi sesuatu di dalam dirinya nolak. Tidak. Ini tidak nyata. Namun, bagaimana jika dia salah? Ingin nyerah pada kehangatan yang telah lama hilang dari hidupnya. Namun, di sudut lain pikirannya, sebuah suara mperingatkannya.

Ini bukan nyata.

Ia ngerjapkan mata, ncoba fokus. "Tidak... ini hanya ilusi. Kalian bukan orang tuaku."

Ekspresi Elara berubah, senyumnya mudar. Darius nggelengkan kepala dengan kecewa. "ngapa kau nolak kami, Kaelen? Kami keluargamu."

Kaelen nggertakkan giginya. "Tidak... kalian hanyalah bayangan yang ncoba nyesatkanku."

Saat itu juga, udara di sekitar reka bergetar, dan bayangan sosok kedua orang tuanya mulai retak seperti kaca. Suara reka berubah njadi bisikan nyeramkan yang bergema di dalam pikirannya.

"Kau akan kehilangan segalanya, Kaelen... seperti yang selalu terjadi..."

Kemudian, reka lenyap, ninggalkan kehampaan yang nusuk hati Kaelen. Saat bayangan itu pecah seperti kaca yang hancur, Kaelen rasakan gelombang dingin nyapu dirinya. Napasnya tersengal. Tubuhnya seolah kehilangan keseimbangan, dan kepalanya berdenyut hebat. Ketika ia ncoba ngingat wajah ibunya—bukan ilusi tadi, tetapi kenangan aslinya—ia nyadari sesuatu yang ngerikan. Dia tidak bisa ngingat suaranya lagi.

Ia jatuh berlutut, keringat dingin mbasahi dahinya. Nafasnya berat, tetapi ia tahu satu hal—ia telah berhasil lewati ujian pertamanya.

Namun, di dalam Jantung Kegelapan, masih banyak yang nunggunya... dan tidak semuanya akan mudah untuk dihadapi.

Di tempat lain, Lyra jatuh terduduk, tangannya ncengkeram tanah. Bayangan di sekitarnya mbentuk sosok yang tidak pernah ingin ia lihat kembali—ayahnya, Grandmaster Elvior.

'Kau tidak bisa lari dari siapa dirimu sebenarnya, Lyra,' suaranya terdengar ngancam.

Ia rasakan ketakutan ncengkeram dirinya. Tetapi jauh di dalam kegelapan, ia juga ndengar suara lain—suara Kaelen. Dan ia tahu bahwa reka harus bertahan.

You are reading The Shattered Light Chapter 64: – Bayangan di Ambang Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.