Font Size
15px

reka berlari nembus hutan, ngikuti pria berjubah hitam yang bergerak dengan langkah cepat dan ringan. Cahaya obor di belakang reka semakin dekat, suara pasukan Ordo Cahaya terdengar nggema di antara pepohonan. Kaelen rasakan denyut adrenalinnya ningkat, tetapi pikirannya tetap tertuju pada satu hal—siapa pria ini dan bagaimana dia tahu tentang ingatan yang hilang? Di belakangnya, suara derap kaki semakin dekat. Cahaya obor nari di antara pepohonan, dan tiba-tiba, sebuah anak panah lesat, nghantam batang pohon hanya beberapa inci dari kepalanya. Napasnya tercekat, tapi ia maksa dirinya untuk terus berlari.

"Ke mana kau mbawa kami?" Kaelen bertanya, suaranya terdengar tajam ski terengah-engah.

Pria itu tidak njawab, hanya mberi isyarat agar reka terus ngikutinya. Lyra, yang masih gang busurnya dengan siaga, lirik Kaelen dengan waspada. "Aku tidak suka ini," bisiknya. "Dia bisa saja njebak kita."

"Aku tahu," Kaelen mbalas. "Tapi kita tidak punya pilihan lain."

reka terus bergerak hingga akhirnya ncapai sebuah gua tersembunyi di antara bebatuan besar. Pria itu langkah masuk tanpa ragu, dan setelah saling pandang sesaat, Kaelen, Lyra, dan Varrok ngikutinya.

Di dalam, gua itu lebih luas dari yang terlihat dari luar. Dindingnya berkilat samar, seolah ngandung mineral yang mantulkan cahaya redup. Udara terasa lebih dingin, tetapi ada sesuatu yang lebih dari itu—sesuatu yang mbuat bulu kuduk Kaelen berdiri.

Pria itu berhenti di tengah gua dan berbalik nghadap reka. "Kalian aman di sini untuk sentara. Pasukan Ordo Cahaya tidak akan nemukan kita."

Kaelen natapnya tajam. "Sekarang jelaskan. Siapa kau sebenarnya? Dan bagaimana kau tahu tentang aku?"

Pria itu nghela napas, lalu mbuka jubahnya, mperlihatkan pakaian dalam yang gelap dengan sulaman simbol-simbol kuno. "Namaku Veylan," katanya. "Aku adalah salah satu dari reka yang selamat dari perburuan Penyihir Bayangan."

Varrok ngangkat alis. "Penyihir Bayangan? reka seharusnya sudah musnah bertahun-tahun lalu."

Veylan tersenyum tipis. "Itulah yang ingin dipercayai oleh dunia. Tapi kenyataannya, beberapa dari kami masih bertahan, tersembunyi di tempat-tempat seperti ini." Ia natap langsung ke Kaelen. "Dan kau, Kaelen, kau lebih dari sekadar prajurit biasa. Kekuatan yang ada dalam dirimu adalah bagian dari warisan yang sama yang coba dimusnahkan oleh Ordo Cahaya."

Kaelen mundur selangkah, dadanya naik turun. "Tidak. Aku bukan bagian dari kalian. Aku bukan monster." Veylan tetap tenang. "Tapi kekuatanmu berkata sebaliknya, bukan?" Kaelen ngepalkan tinjunya. Ia ingin mbantah, tetapi di lubuk hatinya, ia tahu ada kebenaran dalam kata-kata itu. "Aku tidak peduli dengan warisan," katanya akhirnya, suaranya bergetar. "Aku hanya ingin tahu kenapa aku kehilangan ingatanku."

Veylan natapnya lama sebelum berbicara lagi. "Kekuatanmu tidak hanya renggut ingatanmu, Kaelen. Itu juga ngubah siapa dirimu. Semakin sering kau nggunakannya, semakin jauh kau langkah nuju kegelapan yang tidak bisa kau kembalikan."

Lyra nggeleng, suaranya penuh kemarahan yang tertahan. "Lalu bagaimana cara nghentikannya? Bagaimana kita bisa mbuatnya kembali seperti semula?"

Veylan natapnya dengan ekspresi berat. "Kau tidak bisa hanya nghentikannya begitu saja. Kegelapan tidak dapat dihapus—hanya dapat diarahkan. Dan satu-satunya cara untuk ngendalikan kekuatan itu... adalah dengan nghadapi asal-usulnya."

Kaelen rasakan hatinya ncelos. "Apa maksudmu?"

Veylan berjalan ke bagian terdalam gua, lalu nyentuhkan tangannya ke dinding. Seketika, simbol-simbol kuno yang terukir di batu mulai bersinar redup. "Ada tempat di mana semuanya dimulai. Sebuah tempat yang telah lama disegel oleh Ordo Cahaya. Tempat itu nyimpan jawaban yang kau cari—tentang kekuatanmu, tentang ingatanmu, tentang siapa dirimu sebenarnya."

Kaelen nelan ludah. "Dan di mana tempat itu?"

Veylan noleh, sorot matanya penuh keseriusan. "Di Jantung Kegelapan."

Kaelen rasakan hawa dingin rayap di kulitnya. Nama itu terdengar seperti kutukan. Tempat yang disebut hanya dalam bisikan oleh reka yang cukup berani untuk ngakuinya. "Jantung Kegelapan bukan sekadar tempat terlarang," lanjut Veylan, suaranya rendah. "Di dalamnya, bayangan njadi hidup. Waktu tidak berjalan seperti yang kau pahami. Dan hanya sedikit yang pernah lihatnya... reka yang kembali tidak lagi njadi diri reka sendiri."

Keheningan nyelimuti gua itu. Bahkan Lyra, yang biasanya selalu siap untuk berbicara, tampak kehilangan kata-kata.

Varrok akhirnya angkat suara. "Itu bunuh diri. Tak ada yang bisa masuk ke Jantung Kegelapan dan kembali hidup-hidup."

"Mungkin," kata Veylan tenang. "Tapi jika Kaelen ingin tahu kebenaran, dia harus pergi ke sana. Sebelum kekuatannya ngambil segalanya darinya."

Kaelen natap tangannya sendiri, rasakan kegelapan yang ngalir dalam darahnya. Lyra natapnya dengan mata yang penuh dengan kecemasan. "Kaelen, kau tidak harus lakukan ini," suaranya nyaris berbisik. "Kita bisa ncari cara lain."

"Tidak ada cara lain," kata Kaelen, natapnya dalam. "Aku harus tahu kebenarannya."

Varrok nyilangkan tangan, matanya penuh pertimbangan. "Jika kau pergi ke sana, kau harus siap kehilangan lebih banyak lagi, Kaelen. Pertanyaannya... apakah kau siap mbayar harganya?" Ia telah kehilangan begitu banyak, dan jika ada cara untuk nghentikannya sebelum semuanya hilang... mungkin ini satu-satunya pilihan.

Ia narik napas dalam, lalu ngangkat kepalanya, matanya penuh dengan tekad.

"Kalau begitu, tunjukkan jalannya."

You are reading The Shattered Light Chapter 63: – Menuju Kedalaman yang Tak Dikenal on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.