Font Size
15px

Kaelen ngusap wajahnya, rasakan dinginnya keringat di pelipisnya. Dadanya naik turun, napasnya tersengal, seolah ia baru saja kembali dari jurang kehampaan. Namun, di dalam pikirannya, suara gadis itu masih terngiang, nolak untuk nghilang. Lyra dan Varrok nunggu dengan penuh perhatian, tetapi Kaelen hanya bisa nggenggam kepalanya. Ingatan itu—atau apa pun yang baru saja ia lihat—terasa begitu nyata, namun tetap kabur seperti bayangan yang tak dapat ia genggam.

"Kaelen," suara Lyra lembut, penuh kekhawatiran. "Apa yang kau ingat?"

Kaelen ngangkat kepalanya, natap api unggun yang nyala kecil di antara reka. "Aku lihat seseorang... seorang gadis. Tapi aku tidak tahu siapa dia."

Lyra dan Varrok bertukar pandang. Varrok kemudian bersandar ke dinding reruntuhan, ekspresinya berpikir dalam. "Gadis itu ngatakan sesuatu padamu?"

Kaelen ngangguk perlahan. "Dia bilang... aku kehilangan sesuatu setiap kali aku nggunakan kekuatanku. Dan jika aku terus seperti ini, aku akan kehilangan segalanya."

Suasana njadi lebih berat. Lyra nggenggam erat busurnya, matanya nunjukkan ketakutan yang ia coba sembunyikan. "Kaelen, kau tahu apa artinya itu, bukan? Jika kau terus makai kekuatanmu..."

"Aku tahu." Kaelen nyela, suaranya lebih dingin dari yang ia maksudkan. "Tapi apa pilihanku? Tanpa kekuatan ini, aku tidak akan bisa lawan Ordo Cahaya."

"Dan dengan kekuatan itu, kau tidak akan bisa tetap njadi dirimu sendiri."

Keheningan panjang nyelimuti reka. Hanya suara kayu terbakar yang terdengar, berderak pelan. Kaelen natap ke langit malam yang gelap, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

Tiba-tiba, angin bertiup lebih kencang, mbawa serta desiran aneh yang terdengar seperti bisikan. Api unggun reka bergetar, nyala apinya berkelip tak nentu. Dari kegelapan, terdengar gerisik halus, seperti langkah kaki yang ncoba bersembunyi. Lyra rapatkan pegangan busurnya, sentara Varrok nyipitkan mata ke arah bayangan pepohonan. Kaelen rasakan bulu kuduknya berdiri. Sesuatu—atau seseorang—sedang mperhatikan reka. Lyra langsung berdiri, matanya nyipit ke arah kegelapan. "Ada sesuatu di luar sana."

Varrok raih kapaknya, lalu langkah ke tepi reruntuhan. Kaelen bangkit dengan pedangnya terhunus. Dari balik bayangan pepohonan, terdengar langkah kaki pelan.

Seseorang ndekat.

Dari kegelapan, muncul seorang pria berjubah hitam dengan tudung yang nutupi sebagian wajahnya. Ia berhenti beberapa ter dari reka, kedua tangannya terangkat sebagai tanda bahwa ia tidak mbawa senjata.

"Kalian harus pergi," suaranya dalam, tetapi tak tergesa-gesa.

Kaelen negang. "Siapa kau?"

Saat pria itu nurunkan tudungnya, sesuatu dalam diri Kaelen bergetar. Ia tidak ngenali wajah itu, tetapi ada sesuatu—perasaan samar di dadanya, seolah pria ini pernah njadi bagian dari kehidupannya yang telah hilang. Namun, sekeras apa pun ia ncoba ngingat, yang tersisa hanyalah kehampaan. Rambut peraknya terurai di bawah cahaya bulan. Mata hitamnya natap langsung ke arah Kaelen.

"Kita pernah bertemu sebelumnya," katanya, suaranya rendah. "skipun kau mungkin tidak ngingatnya."

Jantung Kaelen berdetak lebih cepat. "Apa maksudmu?"

Pria itu tersenyum tipis. "Aku tahu apa yang terjadi padamu, Kaelen Draven. Aku tahu setiap keping ingatan yang telah hilang. Dan jika kau ingin jawaban... kau harus ikut denganku."

Lyra segera narik busurnya, mbidik pria itu. "Kenapa kami harus percaya padamu?"

Pria itu tetap tenang. "Karena jika kalian tetap di sini, kalian akan mati."

Seolah nguatkan kata-katanya, dari kejauhan terdengar suara terompet panjang—tanda peringatan dari pasukan Ordo Cahaya. Cahaya obor mulai terlihat di antara pepohonan.

Varrok nggeram. "reka nemukan kita."

Kaelen natap pria itu dengan curiga, tetapi di saat yang sama, firasatnya ngatakan bahwa orang ini ngetahui sesuatu yang penting.

"Cepat putuskan," desak pria itu. "Waktu kita tidak banyak."

Kaelen nggenggam pedangnya lebih erat. Ini mungkin jebakan, atau mungkin satu-satunya jalan untuk nemukan jawaban. Di sudut matanya, Lyra tampak nahan amarah, tetapi ia tidak ngatakan apa pun. Varrok, skipun ragu, ngangguk perlahan. 'Tidak ada jalan kembali,' pikir Kaelen saat ia langkah ngikuti pria itu, ninggalkan api unggun yang masih nyala dan bayangan masa lalu yang semakin jauh darinya. Matanya bertemu dengan Lyra, yang jelas tidak mpercayai orang asing itu. Varrok pun tampak ragu, tetapi suara pasukan yang semakin ndekat mbuat pilihan reka semakin terbatas.

Akhirnya, Kaelen ngambil keputusan.

"Kita pergi."

Pria itu ngangguk dan berbalik, berjalan nuju hutan tanpa nunggu. Kaelen, Lyra, dan Varrok segera ngikutinya, ninggalkan api unggun yang masih nyala.

Dan di belakang reka, cahaya obor semakin ndekat, bersama bayangan kehancuran yang ngejar reka.

You are reading The Shattered Light Chapter 62: – Bayang-Bayang Masa Lalu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.