Angin malam berhembus pelan, mbawa aroma tanah basah dan dedaunan busuk. Kaelen, Lyra, dan Varrok lanjutkan perjalanan reka dalam diam, hanya suara langkah kaki reka yang terdengar samar di antara pepohonan tinggi. Setelah pertarungan lawan serigala bayangan, sesuatu dalam diri Kaelen berubah. Rasa kosong itu semakin dalam, dan dia tahu—ada sesuatu yang telah hilang lagi.
"Kita hampir sampai," ujar Varrok, suaranya rendah namun penuh kepastian. "Reruntuhan itu seharusnya tak jauh dari sini."
Kaelen tidak njawab. Kepalanya masih berdenyut, sisa dari kekuatan yang ia gunakan sebelumnya. Namun, bukan hanya sakit fisik yang ngganggunya, tetapi juga perasaan aneh yang ngendap di dalam benaknya. Setiap kali ia nggunakan kekuatan itu, ia kehilangan sesuatu. Tetapi apa? Siapa?
Lyra berjalan di sampingnya, sesekali liriknya dengan cemas. "Kaelen... aku tahu kau rasakannya," katanya akhirnya. "Kau kehilangan sesuatu lagi, bukan?"
Kaelen ngerjap, seakan baru sadar bahwa Lyra berbicara padanya. Ia mbuka mulutnya untuk njawab, tetapi kata-katanya tertahan. Dia tidak tahu jawaban yang tepat.
"Entah apa yang hilang, tapi aku rasa lebih kosong," akhirnya ia berbisik. "Dan itu nakutkan."
Lyra nggenggam tangannya dengan lembut. "Kita akan nemukannya. Aku tidak akan mbiarkan kau kehilangan semuanya."
Kaelen ingin percaya, tetapi semakin ia ncoba ngingat, semakin besar kehampaan yang nelannya.
Setelah satu jam perjalanan, reka akhirnya tiba di tujuan—reruntuhan kuil tua yang tersembunyi di balik pepohonan lebat. Pilar-pilar batu yang retak njulang di antara semak-semak liar, dan patung-patung usang yang dipenuhi lumut berdiri seperti penjaga bisu di kegelapan malam. Udara di tempat itu terasa lebih dingin dari hutan di sekitarnya, mbawa bisikan samar yang nyaris tidak terdengar.
Varrok langkah maju, ngamati struktur yang runtuh dengan sorot mata tajam. "Tempat ini seharusnya aman untuk sentara waktu."
"Terlalu sepi," gumam Lyra, tangannya masih nggenggam busurnya dengan kuat. "Aku tidak suka perasaan ini."
Kaelen rasakan hal yang sama. Ada sesuatu di tempat ini yang mbuat bulu kuduknya berdiri, tetapi dia tidak bisa njelaskan apa. Dia langkah ke depan, nyentuh salah satu pilar batu yang berlumut.
Saat itu juga, hawa dingin njalar dari jari-jarinya ke seluruh tubuhnya. Angin tiba-tiba berhenti, dan dalam keheningan yang ncekam itu, suara berbisik terdengar di kepalanya.
"...Kaelen..."
Matanya mbelalak. Ia noleh, ncari sumber suara itu, tetapi yang ia temukan hanyalah reruntuhan yang sunyi. Napasnya mburu.
"Kaelen?" Lyra gang lengannya, ekspresinya khawatir.
"Aku ndengar sesuatu."
"ndengar apa?"
Kaelen nelan ludah, ncoba nenangkan dirinya. "Seseorang... atau sesuatu... manggil namaku."
Lyra dan Varrok saling berpandangan. "Mungkin tempat ini miliki jejak energi lama," ujar Varrok akhirnya. "Kuil ini mungkin pernah digunakan oleh para Penyihir Bayangan di masa lalu."
Kaelen tidak yakin, tetapi suara itu begitu nyata.
reka akhirnya mutuskan untuk bermalam di dalam reruntuhan, nyalakan api kecil untuk nghangatkan diri. Lyra duduk di dekat Kaelen, tetapi dia bisa rasakan jarak yang semakin lebar di antara reka.
"Kau tidak akan tidur?" tanya Lyra lembut.
Kaelen nggeleng. "Aku tidak bisa."
Dia tidak ingin bermimpi lagi. Tidak ingin ndengar suara itu lagi.
Namun, saat malam semakin larut, Kaelen mulai rasa kantuk nguasainya. Ia nutup matanya sejenak, mbiarkan pikirannya tenggelam dalam kelelahan.
Dan saat itulah, ia lihatnya.
Seorang gadis berdiri di hadapannya, sosoknya samar, nyaris transparan. Rambutnya panjang, tergerai lembut seperti helaian kabut. Matanya penuh kesedihan.
"Kaelen..."
Kaelen tersentak, ndapati dirinya berdiri di tengah reruntuhan yang kini tampak utuh, seperti kembali ke masa lalu. Api obor nerangi dinding batu, dan suara langkah kaki nggema di kejauhan. Udara dipenuhi aroma dupa yang asing, mberikan sensasi yang tak bisa dijelaskan.
"Apa... ini?"
Gadis itu langkah ndekat. "Kau tidak ngingatku, bukan?"
Kaelen ncoba berbicara, tetapi suaranya tersangkut di tenggorokannya.
"Setiap kali kau nggunakan kekuatanmu, kau kehilangan bagian dari dirimu sendiri," lanjut gadis itu, suaranya lembut namun penuh kepedihan. "Dan pada akhirnya, kau akan kehilangan segalanya."
Kaelen nggenggam kepalanya, rasa sakit nyerangnya seperti gelombang besar. Sebuah kilasan wajah lain muncul di pikirannya—wajah yang hampir dikenalnya, tetapi begitu cepat nghilang.
"Aku... aku tidak ingin lupakan..."
"Lalu berhentilah sebelum terlambat."
Cahaya terang nyilaukan mbanjiri penglihatannya, dan dalam sekejap, semuanya nghilang.
Kaelen terbangun dengan napas terengah-engah. Keringat dingin mbasahi pelipisnya. Lyra dan Varrok natapnya dengan waspada.
"Apa yang terjadi?" tanya Lyra.
Kaelen natap ke tangannya, masih bisa rasakan dinginnya kehadiran gadis itu. Dadanya berdegup kencang, seolah ada sesuatu yang ingin dia ingat tetapi terhalang oleh kabut tebal.
"Aku ingat sesuatu," katanya pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, dia rasa lebih takut daripada sebelumnya.
Reviews
All reviews (0)