Font Size
15px

Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan, ninggalkan langit berwarna jingga keemasan yang perlahan mudar njadi kelam. Kaelen, Lyra, dan Varrok terus berjalan nyusuri jalan setapak di hutan, setiap langkah reka penuh kewaspadaan setelah hampir tertangkap oleh pasukan Ordo Cahaya sebelumnya.

"nurut kepala desa, ada sebuah reruntuhan di selatan yang bisa kita gunakan sebagai tempat berlindung," ujar Varrok sambil lirik peta usang di tangannya. "Tapi kita harus sampai sebelum malam semakin larut."

Kaelen ngangguk tanpa berkata apa-apa. Namun, ada sesuatu yang ngusiknya. Bayangan di bawah pepohonan tampak lebih pekat, lebih hidup. Ia noleh sekilas, dan untuk sepersekian detik, ia rasa bayangan itu bergerak ngikuti langkahnya. Dalam dirinya, konflik batin terus berkecamuk. Rasa sakit di kepalanya belum hilang sepenuhnya, dan suara samar dari mimpinya terus bergema di benaknya. Apakah benar bagian dari dirinya ncoba kembali, seperti yang dikatakan Lyra?

"Kaelen," Lyra manggilnya lembut, nyadari keheningan yang semakin panjang di antara reka. "Kau tidak baik-baik saja."

Kaelen nghela napas. "Aku hanya lelah."

"Kita semua lelah," sahut Lyra cepat. "Tapi ini bukan hanya karena perjalanan ini, bukan?"

Kaelen berhenti langkah, tatapannya dingin. "Apa yang kau ingin aku katakan, Lyra? Bahwa aku ketakutan? Bahwa aku rasa seperti kehilangan diri sendiri setiap hari? Bahwa aku bahkan tidak tahu apakah aku masih manusia atau hanya bayangan yang tersisa?"

Lyra terpaku. Ia tidak pernah ndengar Kaelen berbicara dengan nada seputus asa ini.

"Kau bukan bayangan," kata Lyra dengan tegas. "Kau masih Kaelen. Aku tidak peduli berapa banyak yang telah kau lupakan—aku akan tetap berada di sini untuk ngingatkanmu siapa dirimu."

Sebelum Kaelen sempat mbalas, Lyra nggenggam busurnya lebih erat. 'Aku rasa kita sedang diawasi,' bisiknya pelan. Varrok nyipitkan mata, mperhatikan gerakan di semak-semak. Lalu, tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara geraman rendah, seperti sesuatu yang lapar nunggu mon yang tepat untuk nyerang. Varrok segera ngangkat tangannya, mberi isyarat agar reka waspada. Dalam sekejap, bayangan-bayangan mulai bermunculan dari kegelapan. Mata kuning bersinar di antara pepohonan, ngintai reka.

"Serigala bayangan," bisik Varrok. "Makhluk pemburu yang biasanya hanya berkeliaran di daerah terlarang."

Kaelen segera narik pedangnya, dan Lyra nyiapkan busurnya. Serigala-serigala itu perlahan bergerak maju, ngelilingi reka. Jumlah reka lebih banyak dari yang diduga.

"Jangan buat gerakan tiba-tiba," ujar Varrok perlahan. "reka nyerang jika rasa terancam."

Salah satu serigala lompat ke arah Kaelen dengan kecepatan luar biasa. Refleksnya langsung bekerja—ia ngayunkan pedangnya, nebas makhluk itu dalam satu gerakan cepat. Namun, begitu darah serigala nyentuh tanah, makhluk lain ngeluarkan raungan ganas, dan dalam hitungan detik, reka nyerang serempak.

Pertempuran pun pecah.

Kaelen bergerak dengan cepat, nebas serigala yang nerjangnya. Namun, tiba-tiba, rasa nyeri ndadak nusuk kepalanya, mbuatnya sedikit goyah. Pikirannya terasa terkikis, seolah ada sesuatu yang sedang dicabut paksa dari ingatannya. Lyra lepaskan anak panah bertubi-tubi, nargetkan titik lemah di tenggorokan dan mata makhluk-makhluk itu. Varrok, dengan kapaknya yang besar, nahan serangan dari dua serigala sekaligus.

Namun, semakin reka bertarung, semakin Kaelen rasakan sesuatu di dalam dirinya berubah. Gerakannya njadi lebih cepat, matanya nangkap pergerakan lawan dengan presisi yang tak biasa. Ia bisa rasakan bayangan di sekitarnya bergerak, seolah respons keberadaannya.

Saat salah satu serigala lompat ke arahnya, ia secara naluriah ngulurkan tangannya—dan tiba-tiba, bayangan di tanah rayap, ncengkeram makhluk itu di udara sebelum nghancurkannya dalam kegelapan.

Kaelen terengah-engah, natap tangannya yang bergetar. Saat bayangan ncengkeram serigala itu dan nelannya ke dalam kegelapan, rasa nyeri yang luar biasa nusuk kepalanya. Ia tersentak, seolah ada sesuatu yang direnggut darinya. Dalam benaknya, ada kilasan wajah seseorang—seorang gadis dengan mata tajam dan senyum samar. Tapi sebelum ia bisa ngingatnya, gambaran itu lenyap, tersapu ke dalam kehampaan.

"Apa yang kau lakukan?" suara Lyra terdengar panik. "Kaelen, kau nggunakan kekuatan itu lagi!"

Kaelen tidak njawab. Ia hanya natap ke arah serigala yang kini lenyap dalam kehampaan. Tetapi lebih dari itu, ada sesuatu yang lain yang kini nghilang dari benaknya. Sebuah ingatan. Sebuah nama.

Ia nggertakkan giginya, kepalanya terasa semakin berat. Lyra ndekatinya, ekspresi cemas tergambar jelas di wajahnya.

"Katakan sesuatu," desaknya. "Kaelen, apa yang kau ingat?"

Kaelen nggeleng perlahan. "Aku... aku tidak tahu."

Varrok nghela napas berat. "Kita tidak bisa tinggal di sini. Kita harus pergi sebelum lebih banyak makhluk datang."

reka lanjutkan perjalanan, tetapi kini Kaelen rasa lebih kosong dari sebelumnya. Saat reka langkah lebih jauh ke dalam kegelapan hutan, Kaelen rasakan sesuatu yang ngawasinya dari dalam bayangan. Bukan serigala, bukan pasukan Ordo Cahaya. Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam. Dan untuk pertama kalinya, ia rasa takut pada dirinya sendiri. Semakin ia bertarung, semakin banyak yang nghilang. Namun, ada satu hal yang kini ia sadari sepenuhnya.

Bayangan bukan hanya kekuatannya.

Bayangan kini adalah dirinya.

You are reading The Shattered Light Chapter 60: – Langkah Menuju Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.