Fajar baru nyingsing ketika Kaelen mbuka matanya, dadanya masih naik turun akibat mimpi aneh yang nghantuinya semalam. Suara itu, suara yang terasa begitu familiar, terus nggema di kepalanya. Ia nggenggam pedangnya erat, seolah ncoba ncari kenyataan di tengah pikirannya yang kacau.
Lyra mperhatikannya dari dekat. "Kau tidak tidur dengan nyenyak."
Kaelen nghela napas. "Aku baik-baik saja."
"Kau tidak terlihat baik."
Ia tidak njawab, hanya natap horizon yang perlahan disinari matahari. Ada sesuatu yang ngusiknya, sebuah perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan sekadar rasa lelah atau kehampaan, tetapi sesuatu yang lebih ndalam—sebuah kerinduan yang tidak ia pahami.
Varrok ndekati reka dengan ekspresi serius. "Kita harus bergerak sekarang. Kepala desa ngatakan ada patroli Ordo Cahaya di sekitar perbatasan. Jika kita tinggal lebih lama, kita bisa narik perhatian."
Kaelen ngangguk. "Kita pergi sekarang."
reka lanjutkan perjalanan nyusuri jalur hutan yang semakin rapat, cahaya matahari hanya sedikit nembus celah pepohonan. Langkah reka cepat, tetapi penuh kewaspadaan. Lyra tetap di samping Kaelen, sesekali ncuri pandang ke arahnya, seolah nunggu sesuatu dari dirinya.
"Kaelen..." Lyra akhirnya berbicara. "Apa yang kau impikan tadi malam?"
Kaelen terdiam sejenak, sebelum akhirnya njawab dengan suara pelan. "Aku tidak tahu... Tapi ada seseorang yang berbicara kepadaku. Aku berada di padang rumput yang diselimuti kabut. Angin bertiup lembut, mbawa bisikan yang nyaris tak terdengar. 'Kaelen... ingatlah aku...' Suara itu akrab, tetapi wajah yang berbicara tetap kabur, seolah ditelan oleh cahaya dan bayangan yang saling bertabrakan."
Lyra narik napas dalam. "Mungkin itu bukan sekadar mimpi."
Kaelen natapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika... bagian dari dirimu yang hilang ncoba kembali?"
Kaelen nggeleng. "Aku tidak ingin mbicarakan ini."
Lyra nghela napas, tetapi milih untuk tidak ndesak lebih jauh. reka terus berjalan dalam diam hingga sebuah suara di kejauhan nghentikan langkah reka. Derap kaki kuda.
Varrok mberi isyarat agar reka bersembunyi di balik pepohonan. Dari balik dedaunan, reka lihat sekelompok pasukan Ordo Cahaya nunggangi kuda dengan bendera khas reka berkibar di angin.
"Jumlah reka lebih banyak dari yang kita perkirakan," bisik Varrok. "Jika reka nemukan kita, kita tidak akan bisa lawan secara langsung."
Kaelen ngepalkan tangannya. Sebuah denyut nyeri ndadak nusuk kepalanya, mbuatnya sedikit goyah. Ada dorongan dalam dirinya untuk nyerang, untuk nghabisi reka dengan kekuatan yang ia miliki. Tetapi rasa sakit itu semakin nyata, seolah pikirannya sedang terkikis, ncakar-cakar kesadarannya. Tetapi, di sudut pikirannya, ada suara lain yang berbisik—peringatan bahwa setiap kali ia nggunakan kekuatannya, sesuatu dalam dirinya akan hilang lagi.
Lyra nyadari perubahan ekspresi Kaelen. "Jangan lakukan ini."
Kaelen noleh padanya. "Kita bisa nghabisi reka sebelum reka nemukan kita."
"Kita tidak tahu apakah reka benar-benar ncari kita," ujar Lyra dengan suara tegas. "Dan kau tahu apa yang akan terjadi jika kau nggunakan kekuatanmu lagi."
Kaelen rasakan perlawanan dalam dirinya sendiri. Ada amarah yang berkecamuk, tetapi juga ketakutan yang tumbuh di dalam hatinya. Ia narik napas panjang, berusaha nenangkan diri.
Akhirnya, ia berbisik, "Kita bersembunyi."
reka tetap diam di balik bayangan hutan, mbiarkan pasukan Ordo Cahaya lewati reka tanpa nyadari kehadiran reka. Salah satu prajurit nghentikan kudanya, kepalanya noleh tajam ke arah semak tempat reka bersembunyi. Kaelen nahan napas, ndengar suara langkah kaki ndekat. Jika prajurit itu hanya langkah sedikit lebih dekat...
Tiba-tiba, seekor burung hantu terbang dari pohon di dekatnya, ngejutkan sang prajurit. Ia nggelengkan kepala dan kembali ke barisan. Kaelen natap Lyra, yang jelas-jelas juga nahan napas. Saat suara kuda mulai njauh, Kaelen rasakan tubuhnya sedikit rileks. Namun, ada perasaan aneh yang tersisa dalam dirinya—perasaan bahwa keputusan ini bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga tentang mpertahankan jati dirinya yang tersisa.
Saat reka lanjutkan perjalanan, Lyra berjalan lebih dekat ke Kaelen dan nggenggam pergelangan tangannya dengan lembut. "Aku tahu kau berjuang untuk ngingat. Aku tahu betapa sakitnya kehilangan sesuatu yang penting. Tapi aku tidak akan mbiarkanmu jatuh lebih dalam. Aku akan ada di sini, sampai kau nemukan dirimu kembali." Matanya berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap tegas.
Kaelen tidak njawab, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia rasa ada sesuatu yang masih layak diperjuangkan.
Reviews
All reviews (0)