Font Size
15px

Matahari mulai ninggi di ufuk timur, sinarnya yang hangat gagal ngusir hawa dingin yang nyelimuti rombongan kecil itu. Kaelen berjalan di depan, langkahnya berat, pikirannya kosong. Setiap jengkal tanah yang ia lalui terasa asing, seolah ia telah kehilangan arah—bukan hanya di dunia ini, tetapi juga dalam dirinya sendiri.

Di belakangnya, Lyra dan Varrok berjalan dalam diam. Hanya suara ranting patah dan desir angin yang nemani reka. Lyra sesekali lirik Kaelen dengan khawatir, tetapi ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata rasanya tidak akan cukup untuk njangkau Kaelen yang semakin tenggelam dalam bayangannya sendiri.

"Kita tidak bisa terus berjalan tanpa tujuan," akhirnya Varrok berbicara, cah keheningan. "Ordo Cahaya mungkin sedang nyusun kembali pasukannya. Kita harus nemukan tempat untuk berlindung dan nyusun strategi."

Kaelen tidak njawab. Sebuah denyut tajam nusuk kepalanya, mbuatnya ngernyit sesaat. Ia tetap natap lurus ke depan, seolah tidak ndengar, tetapi di dalam benaknya, ada sesuatu yang berusaha keluar—sebuah bayangan yang tidak bisa ia tangkap.

"Kaelen," Lyra manggil, suaranya lembut tetapi tegas. "Kita harus mbuat rencana. Serina... dia tidak akan mau kita bertindak tanpa arah."

Nama itu mbuat Kaelen berhenti sejenak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar, tetapi ketika ia ncoba nggali lebih dalam, yang ia temukan hanyalah kekosongan. Ia berbalik, natap Lyra dengan ekspresi datar.

"Kau nyebut nama seseorang yang tidak aku kenal," katanya, suaranya dingin.

Lyra negang. "Jangan bicara seperti itu. Serina—"

"Sudah cukup," Kaelen motong, ekspresinya berubah tajam. "Aku tidak ingin ndengar nama itu lagi. Jika aku tidak ngingatnya, maka dia bukan bagian dari hidupku lagi."

Lyra terdiam, rahangnya ngeras. Ia ingin berdebat, ingin mukul Kaelen agar dia sadar, tetapi yang bisa ia lakukan hanyalah ngepalkan tangannya. Varrok letakkan tangan di bahunya, ncoba nenangkan.

"Kita harus terus bergerak," kata Varrok. "Ada desa kecil di perbatasan hutan. Kita bisa ncari tempat berlindung di sana."

Kaelen ngangguk tanpa emosi dan kembali berjalan. Namun, di dalam dirinya, ada sesuatu yang nggelitik kesadarannya. Sebuah perasaan kehilangan yang ia tidak ngerti, seolah ada sesuatu yang berharga telah diambil darinya, tetapi ia tidak tahu apa.

Desa kecil itu tampak sunyi ketika reka tiba. Ada ketegangan di udara, seolah penduduknya tahu lebih banyak daripada yang reka tunjukkan. Beberapa orang ngintip dari balik jendela, ngawasi reka dengan curiga. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar di sepanjang jalan tanah, dan hanya beberapa penduduk yang terlihat, natap reka dengan waspada.

"Kita tidak boleh narik perhatian," bisik Varrok. "Ordo Cahaya bisa saja miliki mata-mata di sini."

Kaelen ngangguk, mbiarkan Varrok yang berbicara dengan kepala desa sentara ia dan Lyra nunggu di luar. Lyra natapnya dari samping, ncoba nemukan jejak emosi di wajahnya, tetapi yang ia lihat hanyalah kekosongan.

"Aku tahu kau masih bisa rasakan sesuatu," kata Lyra tiba-tiba. "skipun kau tidak ngingat Serina, aku tahu ada sesuatu di dalam dirimu yang nyadari kehilangannya."

Kaelen tidak noleh. "Kau salah."

"Kaelen, lihat aku," desak Lyra. "Aku tidak akan mbiarkanmu nghapus semuanya begitu saja. Ini bukan hanya tentang ingatanmu. Ini tentang siapa dirimu. Jika kau terus mbiarkan kekuatanmu nggerogotimu, kau tidak akan miliki apa pun yang tersisa."

Kaelen akhirnya natapnya, matanya penuh dengan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Dan jika aku mang kehilangan semuanya? Jika aku bukan lagi orang yang dulu kau kenal?"

Lyra tersenyum miris. "Maka aku akan terus ngingatmu, bahkan jika kau lupa segalanya."

Sebelum Kaelen bisa mbalas, Varrok keluar dari rumah kepala desa. "Kita bisa bermalam di sini, tapi kita harus pergi sebelum fajar. Kita terlalu dekat dengan wilayah yang dikuasai Ordo Cahaya."

Kaelen ngangguk, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata Lyra. Ia tidak bisa njelaskan kenapa, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang nginginkan agar ia bisa ngingat.

Saat malam tiba dan reka beristirahat, Kaelen duduk sendirian di bawah pohon. Tangannya tanpa sadar bergerak ke gagang pedangnya, jemarinya ngusap ukiran di sana. Ada sesuatu yang familiar dalam sentuhan itu, sesuatu yang ngingatkannya pada seseorang, tetapi semakin ia ncoba ngingat, semakin kuat sakit di kepalanya. Ia nutup matanya, ncoba rasakan apa pun yang bisa nghubungkannya dengan masa lalunya yang hilang.

Lalu, dalam bayangan pikirannya, suara lembut terdengar, samar dan jauh.

"Kaelen... jangan lupakan aku..."

Matanya terbuka dengan cepat, napasnya tersengal. Dadanya naik turun, keringat dingin mbasahi pelipisnya. Ia lihat sekeliling, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Namun, untuk sesaat, ia bisa bersumpah bahwa ia rasakan seseorang di dekatnya—kehadiran yang begitu akrab, begitu hangat, namun kini hanya ninggalkan kehampaan.

Namun, untuk pertama kalinya sejak kehilangan ingatannya, ia rasa ada sesuatu yang masih tersisa.

Dan itu mbuatnya takut.

You are reading The Shattered Light Chapter 58: – Perjalanan Tanpa Arah on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.