Font Size
15px

frёewebnoѵel.ƈo๓

Langit masih kelabu saat fajar perlahan nyapu kegelapan malam. Aroma hujan yang tersisa bercampur dengan bau darah dan tanah basah, nciptakan suasana yang ncekam. Di antara reruntuhan pertempuran, Kaelen berdiri terpaku, matanya natap kosong ke arah tubuh yang terbujur kaku di tanah.

Serina.

Namun, sesuatu terasa aneh. Ia tahu nama itu seharusnya berarti sesuatu baginya, tetapi semakin ia ncoba ngingat, semakin kosong pikirannya. Ia nggenggam pedangnya lebih erat, dadanya sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia pahami.

"Kaelen," suara Lyra manggil, getar. Ia berlutut di samping Serina, tangannya bergetar saat nyentuh wajah sahabatnya yang kini tak bernyawa. "Dia... dia ngorbankan dirinya untuk kita. Untukmu."

Kaelen rasakan denyut di pelipisnya semakin kuat. Setiap kali ia berusaha nggali ingatan, rasa sakit nusuk kepalanya seperti bilah pedang yang ncabik-cabik pikirannya. Nafasnya tercekat, tangannya getar saat ncoba nggenggam sesuatu yang tak kasat mata—bayangan Serina yang semakin mudar. "Aku... aku tidak ingat," suaranya parau, hampir tidak terdengar.

Lyra natapnya dengan kemarahan bercampur duka. "Bagaimana bisa kau tidak ingat? Serina selalu ada untukmu! Dia bertarung di sisimu!" Suaranya pecah di tengah emosi yang luap.

Kaelen mundur selangkah. "Aku tidak tahu... Aku tahu aku seharusnya ngingatnya, tapi namanya, wajahnya, semuanya—nghilang."

Lyra nggeleng, matanya berkaca-kaca. "Ini karena kekuatanmu. Setiap kali kau nggunakannya, kau kehilangan sesuatu yang berharga. Berapa banyak lagi yang akan hilang sebelum kau sadar, Kaelen?"

Keheningan yang berat lingkupi reka. Hanya suara angin yang berdesir lewati pepohonan. Kaelen nundukkan kepalanya, kegelapan dalam dirinya terasa lebih pekat dari sebelumnya.

Dari balik reruntuhan, Varrok muncul dengan langkah tertatih. "Pasukan Cahaya telah mundur, tapi reka tidak akan pergi lama-lama. Kita harus bergerak sebelum bala bantuan reka datang."

Lyra noleh padanya, suaranya nyaris berbisik. "Serina... Kita tidak bisa ninggalkannya begitu saja."

Varrok natap tubuh Serina, lalu kembali ke Lyra dan Kaelen. "Kita beri dia penghormatan yang layak. Tapi setelah itu, kita harus pergi."

Beberapa jam kemudian, di pinggir sungai yang ngalir tenang, reka nggali kuburan sederhana untuk Serina. Lyra nggenggam busur sahabatnya erat-erat sebelum letakkannya di atas gundukan tanah yang baru.

"Aku tidak akan lupakanmu," bisiknya.

Kaelen berdiri sedikit njauh, matanya terpaku pada busur Serina yang kini tergeletak di atas gundukan tanah. Jari-jarinya secara naluriah nelusuri gagang pedangnya, seolah ncari sesuatu yang hilang. Sesuatu dalam dirinya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang tidak bisa diisi, dan semakin ia ncoba ngingat, semakin dalam kehampaan itu ngakar. Ia ncoba ncari dalam pikirannya, tetapi yang tersisa hanyalah bayangan samar yang tak bisa ia jangkau.

Saat reka berbalik untuk pergi, Lyra narik napas dalam, nguatkan dirinya. Namun sebelum langkah, ia noleh ke Kaelen, suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku takut, Kaelen. Jika kau terus begini... akan tiba saatnya kau bahkan tidak ngingat siapa dirimu sendiri." Kaelen tidak njawab. Angin malam bertiup lembut, mbawa bisikan yang nyaris tak terdengar di telinganya.

"Jangan lupakan aku..."

Kaelen noleh, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya bayangan panjang yang bergerak di bawah cahaya bulan, ngingatkannya bahwa semakin besar kekuatannya, semakin banyak yang akan hilang.

Dan ia takut suatu hari nanti, ia akan lupakan segalanya.

You are reading The Shattered Light Chapter 57: – Bayangan yang Memudar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.