Suara hujan yang nghantam dedaunan seperti simfoni alam yang kelam. Malam di hutan itu lebih sunyi dari biasanya, seolah nahan napas sebelum badai benar-benar datang. Serina Blackthorn narik napas dalam-dalam, matanya tak lepas dari Kaelen yang berdiri beberapa langkah di depannya, busur di tangannya tetap terangkat, siap manah kapan saja.
"Kita harus pergi sekarang, sebelum reka nemukan kita," desis Serina, suaranya lebih tajam dari biasanya. Rahangnya ngeras, matanya berkilat dengan ketegangan, sentara jemarinya ncengkeram erat tali busur. Napasnya cepat, hampir tersengal, seolah nahan ketakutan yang berusaha nerobos keluar. Ia lirik ke arah hutan yang gelap, matanya nyapu bayangan di antara pepohonan, setiap gerakan sekecil apa pun mbuat tubuhnya negang.
Kaelen noleh, matanya yang biasanya penuh dengan kemarahan kini nyimpan sesuatu yang lebih dalam—keraguan. Ia tahu, setiap langkah yang reka ambil ke depan semakin mperdekat reka pada bahaya yang tidak bisa dihindari.
"Tidak," Kaelen njawab lirih. "Kita tidak bisa terus lari."
Serina ngerutkan kening, ndekatkan diri ke arahnya. "Kaelen, kita sedang dikejar. Pasukan Eryon ada di belakang kita. Jika kita berhenti sekarang, reka akan nang."
Kaelen nggeleng, lempar pandangan sekilas ke arah Lyra, yang tengah rawat luka di lengannya. Tatapan reka bertemu sejenak, cukup lama untuk Serina nyadari sesuatu—Kaelen tidak hanya berjuang untuk dendamnya, tetapi juga untuk seseorang.
"Aku bisa rasakan reka," kata Kaelen. "reka sudah dekat."
Dari balik pepohonan, terdengar suara langkah berat. Serina langsung bersiaga, masang anak panah di busurnya. Begitu pula Lyra dan para prajurit yang tersisa. Dalam sekejap, bayangan hitam muncul dari kabut malam—pasukan Cahaya, dengan jubah emas reka yang berkilat ski dalam kegelapan. Dan di antara reka, berdiri Eryon Solveil, wajahnya dipenuhi percaya diri yang sombong.
"Akhirnya," Eryon berujar, suaranya ngalun dengan nada kenangan. "Aku sudah nunggu terlalu lama untuk saat ini, Kaelen."
Kaelen tidak njawab. Ia hanya ngangkat pedangnya, matanya penuh kebencian yang ditahan.
Eryon tersenyum tipis. "Serahkan diri, dan aku mungkin akan mpertimbangkan untuk mbiarkan reka hidup." Ia lirik ke arah Lyra dan Serina. "skipun aku lebih suka tidak ada saksi."
Serina ludah ke tanah. "Simpan bualanmu, Eryon."
Eryon terkekeh. "Baiklah, jika itu maumu." Dengan satu gerakan tangannya, pasukan Cahaya nyerbu seperti ombak yang nerjang karang. Derap langkah reka nggema di tanah yang basah, pedang reka berkilat saat terangkat di bawah sinar bulan yang terhalang awan. Beberapa prajurit lesat cepat, nebas ranting dan dedaunan di sepanjang jalan, sentara yang lain ngangkat perisai reka, mbentuk formasi yang dirancang untuk ngepung. Panah pertama lesat dari barisan belakang, nghujam udara dengan kecepatan matikan, maksa Kaelen dan yang lainnya bergerak cepat ncari perlindungan. Serina narik tali busurnya, matanya ngawasi setiap celah yang bisa dimanfaatkan untuk nyerang balik.
Pertempuran pecah dalam sekejap. Pedang beradu dengan dentingan tajam, panah lesat nembus udara, dan teriakan nyaring nggema di tengah hujan. Kaelen bertarung dengan liar, ngayunkan pedangnya dengan kekuatan yang hanya bisa datang dari dendam yang telah ndidih selama bertahun-tahun.
Serina berada di sisinya, lepaskan anak panah dengan ketepatan seorang pemanah yang telah lama berdamai dengan kematian. Setiap tembakannya ngenai sasaran, nembus armor musuh di titik-titik lemah, mbuat reka tumbang satu per satu.
Namun, ski reka bertarung sebaik mungkin, jumlah musuh terlalu banyak. Kaelen ncoba ngarahkan pertempuran ke dan yang lebih sempit, manfaatkan pohon-pohon besar untuk nghambat pergerakan lawan. Serina mberikan aba-aba kepada para pejuang agar mbentuk formasi bertahan, manfaatkan celah antara bebatuan untuk berlindung dari panah musuh. Lyra, ski terluka, nggunakan kecepatan dan kelincahannya untuk nyerang titik lemah di armor pasukan Cahaya. Namun, ski strategi reka cukup efektif untuk mperlambat musuh, gelombang serangan tak kunjung berhenti, mbuat reka semakin terdesak.
Serina lihat sudut matanya—Lyra terkepung oleh tiga prajurit Cahaya, pedangnya hampir terlepas dari genggaman. Tanpa berpikir, Serina nerjang, lepaskan anak panah cepat yang nembus tenggorokan salah satu prajurit, lalu narik belati sebagai senjata terakhirnya.
"Pergi dari sini!" Serina berteriak, matanya mbelalak marah.
"Tapi—"
"Sekarang, Lyra!"
Kaelen noleh saat ndengar suara itu, tepat pada saat Serina ngangkat busurnya untuk serangan terakhir. Namun, Eryon lebih cepat. Dengan satu gerakan licik, ia nusukkan pedangnya ke perut Serina.
Waktu seakan lambat.
Serina terhuyung, darah hangat ngalir dari luka di tubuhnya. Namun, alih-alih mundur, ia justru raih lengan Eryon, nahannya di tempat.
Kaelen berteriak, langkah maju, tetapi Serina natapnya dengan ekspresi yang hanya bisa diartikan sebagai perpisahan.
"Gunakan kekuatanmu, Kaelen," bisiknya, darah netes dari sudut bibirnya.
Kaelen rasakan sesuatu di dalam dirinya ledak. Kegelapan yang selama ini ia takuti, yang selama ini ia kendalikan, nyeruak keluar. Bayangan di sekitar reka mulai bergerak, lilit prajurit-prajurit Cahaya, nelan reka ke dalam kehampaan.
Eryon terbelalak saat rasakan bayangan itu rayap ke kulitnya. Ia ncoba lepaskan diri dari cengkeraman Serina, tetapi terlambat—kegelapan itu lahapnya.
Namun, di saat yang sama, Kaelen rasakan sesuatu nghilang dari benaknya.
Ia jatuh berlutut, kepalanya terasa kosong. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang penting. Ia maksa dirinya untuk ngingat, tetapi semakin ia berusaha, semakin ingatan itu kabur.
Ia natap tubuh Serina yang terbujur di tanah, tetapi ski ia tahu ia harus rasa sesuatu, ia tidak bisa ngingat kenapa.
Lyra berlutut di sampingnya, air mata ngalir di pipinya. "Serina..." suaranya pecah di tengah isakan. "Kaelen, dia... dia mati untuk kita. Untukmu.""
Kaelen ncoba ngingat namanya, tetapi suaranya terasa asing, seperti gema dari masa lalu yang tak bisa dijangkau. Rasa panik mulai njalar dalam dirinya. Ia tahu ada sesuatu yang penting, sesuatu yang seharusnya ia ingat, tetapi sekeras apa pun ia ncoba, itu semakin nghilang. Rasa panik rayapi pikirannya saat ia ncoba nggali ingatan yang seharusnya ada, tetapi hanya kekosongan yang tersisa.
Pertempuran telah usai. Pasukan Cahaya hancur, banyak yang larikan diri dalam kegelapan. Sisa-sisa pasukan Kaelen berdiri dalam kelelahan dan kehilangan. Beberapa dari reka berlutut di tanah, terengah-engah, sentara yang lain lihat ke arah Serina dengan tatapan kosong. Namun, Kaelen tidak rasakan kenangan.
Ia telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan. Bukan hanya Serina, tetapi bagian dari dirinya sendiri. Dan yang lebih nakutkan, ia tahu ini bukan yang terakhir.
Reviews
All reviews (0)