Font Size
15px

Kabut tipis masih bergelayut di atas pos, namun ketenangan pagi itu terasa nipu. Kaelen berdiri di depan tenda komandonya, mandang ke arah hutan yang tak pernah benar-benar tidur. Pepohonan tua njulang dengan cabang-cabang yang tampak seperti tangan kurus raih ke udara. Angin dingin berdesir lewati dedaunan kering, nciptakan bisikan samar yang terdengar seperti suara makhluk-makhluk yang ngintai. Aroma tanah basah bercampur lumut nuhi hidungnya, sentara burung hantu lengking dari kejauhan, nambah nuansa suram pagi itu. Udara dingin nyelinap ke dalam pori-pori, nciptakan rasa waspada yang tak kunjung reda di dadanya.

Varrok nghampiri dengan langkah berat. "Malam panjang, Kaelen?"

Kaelen ngangguk. "Bayangan itu... Aku tak bisa ngusirnya dari pikiranku. Aku yakin itu bukan yang terakhir kali kita lihatnya."

Varrok nepuk bahu Kaelen. "Aku juga berpikir begitu. Prajurit kita gelisah. reka butuh kepastian, Kaelen. reka butuh tahu bahwa kau percaya kita bisa bertahan."

Kaelen narik napas dalam-dalam. "Aku tahu. Aku hanya... lelah."

Serina muncul dari balik tenda dengan wajah cemas. "Kaelen, Lyra ingin bicara denganmu. Penting, katanya."

Kaelen ngangguk dan segera nuju ke sudut pos di mana Lyra sedang berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya serius.

"Ada apa, Lyra?" tanya Kaelen.

Lyra lirik ke sekeliling sebelum berbicara pelan. "Aku nemukan jejak kaki asing di dekat sisi barat pagar. Jejak itu ngarah ke dalam pos kita, tapi tak ada jejak keluar. Seseorang masuk tadi malam... dan dia masih di sini."

Kaelen ngepalkan tangan, rahangnya ngeras dan matanya nyala penuh amarah. "Kita harus temukan dia. Kita tak bisa mbiarkan ancaman di dalam pagar. Kumpulkan Varrok, Rhal, dan beberapa orang kepercayaan. Jangan mbuat panik yang lain. Kita bergerak diam-diam."

Beberapa nit kemudian, Kaelen, Varrok, Lyra, Rhal, dan Serina berkumpul di dekat tenda komando.

Kaelen berbicara dengan nada rendah namun tegas. "Ada penyusup di antara kita. Kita cari dia, tapi tetap tenang. Jangan buat kekacauan. Varrok, kau awasi gerak-gerik Garel. Aku belum bisa mpercayainya sepenuhnya. Rhal, periksa sekitar tenda penyimpanan. Serina dan Lyra, patroli keliling pos. Aku akan riksa sekitar nara pengawas. Jika ada yang ncurigakan, beri tanda. Jangan bertindak sendiri."

reka berpencar. Jantung Kaelen berdegup lebih kencang. Setiap langkah di tanah becek terdengar lebih berat dari biasanya. Di dekat nara pengawas, ia nemukan kain robek tersangkut di pagar kayu. Kain itu gelap, dengan bercak darah kering.

"Kaelen!" suara lirih Rhal manggil.

Kaelen segera berlari nghampirinya. Di belakang tenda penyimpanan, Rhal berdiri di samping tubuh seorang prajurit yang tergeletak dengan leher tersayat.

"Ini Erdan... Prajurit baru yang kau bicarakan dengan Varrok kemarin..." bisik Rhal dengan nada terguncang.

Kaelen runduk, riksa luka di leher Erdan. Begitu rapi, begitu bersih. Bukan tangan sembarangan yang lakukan ini.

Serina dan Lyra muncul dengan wajah khawatir. "Apa yang terjadi?" tanya Serina.

Kaelen berdiri, suaranya dingin. "Penyusup itu... dia sudah mulai mbunuh. Kita harus berkumpul. Semua. Sekarang."

Dalam waktu singkat, seluruh pasukan berkumpul di tengah pos. Mata reka penuh ketakutan dan kebingungan.

Kaelen berdiri di depan reka, berusaha terlihat kuat ski jiwanya dihantui rasa bersalah. Wajah Erdan yang tergeletak dengan leher tersayat terus nghantui pikirannya. Ia rasa gagal lindungi prajurit itu, dan ketakutan bahwa yang lain bisa bernasib sama mulai nggerogoti hatinya. Namun, ia tahu, nunjukkan kelemahan di hadapan pasukannya hanya akan mperburuk keadaan. "Erdan ditemukan tewas pagi ini. Seseorang telah nyusup ke dalam pos kita. Dia ada di antara kita. Aku tahu ini sulit, aku tahu kalian takut. Tapi kita tak boleh saling ncurigai. Kita harus tetap bersatu. Jika kita tercerai-berai, reka nang. Kita akan mperketat penjagaan. Tidak ada yang keluar sendirian. Semua bergerak dalam kelompok."

Balrik ngangkat tangan. "Tapi bagaimana jika penyusup itu benar-benar ada di sini? Bagaimana kita tahu siapa yang bisa dipercaya?"

Kaelen natap Balrik tajam. "Kepercayaan adalah satu-satunya senjata yang tersisa bagi kita sekarang. Jika kita kehilangan itu, kita sudah kalah sebelum pedang kita terhunus."

Suasana semakin tegang. Varrok ndekati Kaelen setelah pertemuan bubar.

"Aku ngamati Garel. Dia gelisah, tapi bukan karena takut. Dia seperti... nunggu sesuatu," bisik Varrok.

Kaelen natap hutan di luar pagar pos. Bayangan hitam semalam seolah masih ada di sana, ngintip di antara pepohonan.

"Kita awasi dia terus. Jika dia mbuat satu kesalahan saja, kita tangkap," ujar Kaelen tegas.

Malam kembali nyelimuti pos. Kabut semakin tebal. Kaelen berjaga bersama Serina kali ini. reka berdiri berdampingan di nara, mata ngamati kegelapan.

"Kau percaya kita bisa keluar dari semua ini?" tanya Serina pelan.

Kaelen diam sejenak. "Aku harus percaya. Jika tidak, aku sudah nyerah sejak lama."

Serina remas tangan Kaelen pelan, jari-jarinya bergetar sedikit, seolah takut kehilangan genggaman itu. Sejenak, reka terdiam. Hanya suara angin yang berdesir di antara reka. Kaelen rasakan ketulusan di genggaman itu, dan untuk sesaat, beban di hatinya terasa lebih ringan. "Aku percaya padamu. Apa pun yang terjadi, aku akan di sini bersamamu."

Kaelen noleh, natap Serina. Ada kehangatan di sana, ski dikepung dingin dan kegelapan.

Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar dari arah timur. Kaelen dan Serina negakkan tubuh. Mata Kaelen nyipit, ncoba nembus kabut.

Bayangan itu muncul lagi. Kali ini lebih dekat. Sosoknya bergerak perlahan di balik pepohonan, seperti sengaja mperlihatkan dirinya tanpa rasa takut. Dahan kering yang diinjaknya patah, nciptakan bunyi geretak tajam yang nggema di tengah keheningan. Daun-daun semak bergetar pelan, seakan nyaksikan langkah sosok itu yang semakin ndekat, dan samar-samar terdengar napas berat dari arah bayangan tersebut. Mata rah itu natap langsung ke arah reka.

Kaelen ncengkeram gagang pedangnya. "Dia kembali. Kali ini... dia tak hanya ngawasi."

Serina ngangguk. "Mungkin ini malam yang reka tunggu."

Kaelen ngangguk pelan. "Kalau begitu... kita juga harus siap. Apa pun yang datang, kita hadapi bersama."

Malam itu njadi awal ketegangan baru. Setiap langkah, setiap nafas, setiap gerakan njadi pertaruhan antara hidup dan mati. Dan di dalam hati Kaelen, ia tahu—permainan kegelapan baru saja dimulai.

You are reading The Shattered Light Chapter 55: – Serangan Dalam Gelap on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.