Font Size
15px

Kabut pagi masih nyelimuti pos kecil itu. Udara dingin nggigit kulit, mbuat semua orang ngeratkan jubah reka lebih rapat. Kaelen berdiri di dekat gerbang, matanya nyapu sekeliling hutan yang diam mbisu. Malam tadi tak ada serangan, tapi ketegangan di udara terasa semakin tebal. Perasaan diawasi seolah terus nghantuinya.

Varrok nghampiri dengan langkah berat. Wajahnya dipenuhi garis lelah.

"Bagaimana kondisi penjagaan?" tanya Kaelen pelan.

"Semua tetap waspada. Tapi aku lihat beberapa prajurit mulai nunjukkan rasa takut yang berlebihan," jawab Varrok sambil lirik ke arah Balrik yang duduk di sudut, nggenggam pedangnya erat-erat. Matanya liar, seperti binatang yang terjebak.

Kaelen ngangguk. "Kita tak bisa mbiarkan rasa takut nguasai reka. Tapi aku juga tak bisa ngabaikan... ada sesuatu yang salah di sini."

"Garel?" tebak Varrok.

Kaelen natap Varrok lekat-lekat. "Dia ncatat segalanya. Bahkan hal-hal yang nurutku tak perlu. Dan tadi malam, aku lihatnya berbicara pelan dengan salah satu prajurit yang baru bergabung. Aku tidak bisa ndengar apa yang reka bicarakan. Tapi aku rasa itu bukan percakapan biasa. Dan sebelum itu, aku pernah lihat dia berkeliaran di sekitar tenda penyimpanan tengah malam. Saat aku ndekat, dia pergi begitu saja, seakan nghindar."

Varrok nghela napas berat. "Kalau begitu, kita harus hati-hati. Tapi jangan sampai kita salah langkah. Jika dia mang pengkhianat, kita akan bongkar kebusukannya. Tapi kalau tidak... perpecahan akan nghancurkan kita sebelum musuh sempat nyerang."

Kaelen ngangguk. Ia tahu Varrok benar. Namun, instingnya terus berteriak agar ia tidak ngabaikan ancaman itu.

Siang njelang, dan Kaelen ngumpulkan beberapa orang kepercayaannya: Varrok, Rhal, Serina, Lyra, dan Balrik.

"Aku ingin kita mulai ngamati Garel lebih dekat. Jangan terlalu ncolok. Kita butuh bukti, bukan sekadar kecurigaan. Rhal, kau tetap di dekatnya siang ini. Lihat apa saja yang dia lakukan. Varrok, aku ingin kau berbicara dengan prajurit baru yang kulihat bersama Garel semalam. Cari tahu apa yang reka bicarakan. Serina dan Lyra, kalian bantu ngawasi periter. Kita harus tetap waspada terhadap serangan ndadak."

Semua ngangguk. Namun, Lyra terlihat sedikit negang. Ia mandang sekilas ke arah Serina yang berdiri di samping Kaelen. Ada ketegangan di antara reka yang tak bisa diabaikan.

Saat semua bubar, Lyra ndekat pada Kaelen.

"Kaelen... aku hanya ingin mastikan... Kau baik-baik saja?" suaranya lembut, namun ada kecemasan terselip di sana.

Kaelen tersenyum samar. "Aku baik. Aku hanya ingin semuanya selamat. Termasuk kau."

Lyra tersipu, tapi segera ngalihkan pandangannya. Hatinya berdebar, namun ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mbicarakan perasaannya.

Di sudut pos, Rhal ngikuti Garel dari kejauhan. Garel tampak sibuk nulis di perkan, sesekali lihat ke arah utara, seakan nunggu sesuatu. Rhal berusaha terlihat biasa saja, tapi ia ncatat setiap gerak-gerik pria itu di benaknya.

Sentara itu, Varrok berhasil berbincang dengan prajurit baru, seorang pemuda bernama Edran. Awalnya Edran terlihat gugup, namun setelah beberapa nit, ia mulai berbicara lebih terbuka.

"Garel hanya nanyakan soal keluargaku dan dari mana aku berasal. Dia... ramah. Tapi, aku rasa dia terlalu ingin tahu. Bahkan dia bertanya hal-hal detail seperti bagaimana aku bisa masuk ke pasukan ini, siapa yang ngundangku..." Edran nunduk. "Jujur saja, aku rasa aneh."

Varrok nepuk bahu pemuda itu. "Tetap waspada, Edran. Jika ada yang ncurigakan, langsung lapor padaku atau Kaelen."

njelang sore, Kaelen berkumpul lagi dengan Varrok dan Rhal. reka berbagi informasi. Kecurigaan terhadap Garel semakin kuat.

"Kita masih belum punya bukti konkret, tapi pola ini terlalu ncurigakan," kata Kaelen.

"Aku rasa kita harus bicara langsung dengannya, tapi dengan cara yang mbuatnya rasa aman," usul Varrok.

"Aku akan lakukannya," kata Kaelen mantap.

Malam itu, Kaelen ndekati Garel yang duduk sendirian di dekat api unggun, masih ncatat di perkannya.

"Garel, bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Kaelen dengan nada ramah.

Garel ngangkat wajahnya, tersenyum tipis. "Tentu, Kaelen. Ada apa?"

Kaelen duduk di sampingnya. "Aku ingin tahu pendapatmu tentang situasi kita. Kau selalu ncatat banyak hal. Aku pikir, mungkin kau punya pandangan yang bisa mbantu kita."

Garel tersenyum lebih lebar, seakan rasa dihargai. "Aku hanya ncoba mahami semuanya, Kaelen. Aku ingin mbantu. Tapi... aku juga lihat ada ketegangan di antara kita. Aku khawatir, rasa curiga bisa mbuat kita runtuh dari dalam sebelum musuh nyerang."

Kaelen ngangguk, mperhatikan setiap ekspresi pria itu. Kata-katanya masuk akal, tapi tetap ada sesuatu yang janggal.

"Aku juga berpikir begitu. Itu sebabnya aku ingin mastikan semua baik-baik saja," balas Kaelen.

Obrolan itu berlangsung beberapa nit, tetapi Kaelen tahu, ini baru awal. Garel terlalu licin untuk mbuat kesalahan dalam satu percakapan.

Saat Kaelen kembali ke tendanya, Serina nunggunya di depan pintu.

"Kau bicara dengannya?" tanyanya pelan.

Kaelen ngangguk. "Dia tenang. Terlalu tenang. Aku tak tahu apakah aku semakin curiga atau hanya terlalu lelah."

Serina nggenggam tangan Kaelen. "Kau tak sendirian. Kami semua di sini bersamamu. Aku... aku di sini bersamamu."

Kaelen natap Serina dalam-dalam. Di balik kekhawatiran, ia rasakan sesuatu yang hangat. Namun, lagi-lagi, ia teringat Lyra. Hatinya kembali kacau.

Di kejauhan, Lyra mperhatikan mon itu dengan pandangan pilu, namun ia segera berpaling, nelan perasaannya dalam diam.

Malam semakin larut. Kabut turun lebih pekat dari biasanya. Dari kejauhan, terdengar suara gerisik di hutan, diikuti desiran samar seperti langkah kaki yang ngendap.

Kaelen terbangun dan keluar dari tendanya. Ia najamkan pandangan, namun tak lihat apa-apa.

Namun, perasaan itu... Perasaan diawasi itu tak pernah hilang.

Ia tahu, sesuatu akan segera terjadi. Dan ia harus siap nghadapinya.

You are reading The Shattered Light Chapter 54: – Kebenaran di Balik Bayangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.