Pusaran kegelapan masih ngamuk di langit, seolah nertawakan kekalahan Kaelen. Tanah di sekelilingnya masih berdenyut dengan sisa-sisa energi hitam, tanda bahwa sesuatu yang lebih besar telah terjadi. Serina berdiri di sampingnya, masih terengah-engah, pedangnya terangkat seakan siap nghadapi bahaya lain yang mungkin muncul.
Kaelen natap titik terakhir tempat Darius nghilang. "Aku tidak akan kehilangan dia lagi," katanya lirih, tetapi ada tekad mbara dalam suaranya.
Pria bertudung ndekat, jubahnya berkibar diterpa angin. "Kalau begitu, kau harus masuk ke dalam kegelapan itu. Tapi ketahuilah, ini bukan sekadar perjalanan biasa."
Serina noleh dengan alis berkerut. "Apa maksudmu?"
"Darius bukan lagi dirinya sendiri," pria itu lanjutkan. "Jika kau ingin nyelamatkannya, kau harus siap nghadapi kenyataan bahwa dia mungkin tidak ingin diselamatkan."
Kaelen ngepalkan tinjunya. "Aku tidak peduli. Aku sudah terlalu lama lupakan, mbiarkan semuanya nghilang begitu saja. Kali ini, aku akan bertarung untuknya."
Pria bertudung ngangguk pelan, lalu natap pusaran kegelapan yang masih terbuka di depan reka. "Baiklah. Tapi kita tidak bisa sembarangan masuk. Ada jalan yang harus diikuti. Dan kita harus bergerak cepat."
Serina letakkan pedangnya di bahunya. "Lalu, apa rencananya?"
Pria itu nutup matanya sesaat, lalu ngangkat tangannya. Cahaya biru pucat mulai berkumpul di telapak tangannya, mbentuk sebuah simbol yang perlahan layang di udara.
"Gerbang ini bukan sekadar celah dalam dinsi. Ini adalah jalur nuju ranah yang terhubung dengan ingatan dan emosi terdalam seseorang. Jika kita ingin nemukan Darius, kita harus masuk dengan pikiran yang jernih."
Kaelen natap pusaran itu. Energi dari dalamnya berdenyut, nyeretnya lebih dalam ke dalam kesadarannya sendiri. Ia tahu, begitu ia masuk, tidak ada jaminan bahwa ia bisa keluar dengan selamat.
Tetapi pilihan itu bukanlah sesuatu yang bisa ia hindari.
"Ayo masuk," katanya, lalu tanpa ragu, langkah ke dalam pusaran kegelapan.
Dunia yang nyambut reka tidak seperti yang reka harapkan. Kaelen ndapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang tidak asing—reruntuhan desa lamanya. Angin dingin bertiup, mbawa suara bisikan yang familiar, seolah masa lalu yang telah ia lupakan kini berusaha berbicara kepadanya.
Serina muncul di sampingnya, wajahnya tegang. "Apa tempat ini?"
Pria bertudung langkah maju, riksa sekeliling reka. "Ini bukan dunia nyata. Ini adalah ingatan yang terdistorsi. Darius masih ada di sini, tetapi pikirannya telah bercampur dengan kegelapan."
Kaelen natap reruntuhan di sekelilingnya. Setiap batu, setiap bekas luka di tanah, adalah bagian dari sejarah yang telah ia buang begitu saja. Dan di tengah semua itu, sosok berdiri di atas sebuah pilar batu yang retak—Darius.
Ia tampak berbeda. Matanya yang rah kini berkilauan dengan api gelap yang lebih kuat, dan armornya tampak lebih kokoh, lebih nyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Pedangnya nancap di tanah, dan dari bilahnya, retakan energi hitam nyebar ke seluruh tanah di bawahnya.
"Kau datang..." suara Darius dalam, bergema di seluruh area. "Tapi apakah kau benar-benar ingin nyelamatkanku, Kaelen? Atau kau hanya ingin nebus rasa bersalahmu sendiri?"
Kaelen nelan ludah, lalu langkah maju. "Aku datang untuk nebus segalanya. Aku tidak akan mbiarkanmu tenggelam lebih jauh."
Darius tertawa kecil. "Kau berpikir masih ada sesuatu yang bisa diselamatkan dariku? Lihatlah aku! Aku bukan lagi orang yang kau kenal. Aku telah njadi bagian dari kegelapan, dan kau tahu apa yang lebih nyakitkan? Aku tidak nyesalinya."
Serina bergerak maju, tetapi Kaelen ngangkat tangannya untuk nghentikannya. "Darius... jika kau benar-benar tidak ingin kembali, ngapa kau masih berbicara denganku?"
Darius terdiam sejenak, lalu natap Kaelen dengan tajam. "Karena ada bagian dari diriku yang masih ingin percaya. Tetapi itu semakin terkikis setiap kali aku ngingat bagaimana kau ninggalkanku."
Kaelen rasakan sakit di dadanya. "Aku tidak akan ninggalkanmu lagi."
Darius ncabut pedangnya dari tanah. "Kalau begitu, buktikan."
Dalam sekejap, ia lesat ke depan, pedangnya berkilau dengan energi gelap. Kaelen ngangkat pedangnya tepat waktu untuk nangkis serangan itu, tetapi kekuatannya hampir mbuatnya terdorong ke belakang.
Serina bersiap untuk mbantu, tetapi pria bertudung nahannya. "Tidak. Ini adalah pertarungan Kaelen. Hanya dia yang bisa mbawanya kembali."
Kaelen dan Darius saling natap, lalu nyerang lagi.
Setiap kali pedang reka bertemu, riak energi luas ke sekeliling, mbuat reruntuhan desa berguncang dan bergetar. Langit di atas reka mulai berubah warna, dari hitam pekat njadi rah darah. Udara njadi lebih berat, seolah dunia ini semakin tak stabil.
Kaelen mulai rasa perubahan dalam serangan Darius. Ada mon-mon kecil di mana ayunannya lambat, seolah ada sesuatu yang nahannya. Namun, setiap kali itu terjadi, energi gelap di sekelilingnya berdenyut lebih kuat, maksanya kembali ke jalur kehancuran.
"Kau masih bisa lawan ini, Darius!" Kaelen berteriak sambil nangkis tebasan lain. "Kau masih bisa kembali!"
Darius ndesis, tetapi ada getaran dalam suaranya. "Diam! Kau tidak tahu apa yang telah kulalui!"
Tiba-tiba, langit di atas reka retak, dan dari celah yang nganga, sesuatu yang lebih besar mulai turun. Bayangan hitam yang lebih pekat dari kegelapan itu sendiri, dengan mata yang nyala seperti bara api.
Pria bertudung terkejut. "Ini buruk... kita tidak hanya lawan Darius. Sesuatu yang lebih kuat berusaha rebutnya sepenuhnya."
Kaelen natap ke atas dengan rahang ngatup. Jika reka tidak bertindak cepat, bukan hanya Darius yang akan hilang—tetapi seluruh dunia bisa terseret dalam kehancuran.
"Aku tidak akan mbiarkan itu terjadi." Kaelen mpererat cengkeramannya pada pedang. "Kali ini, aku akan lawannya sampai akhir."
Duel reka masih berlanjut, tetapi pertarungan sebenarnya baru saja dimulai.
Reviews
All reviews (0)