Kaelen berdiri tegak di tengah reruntuhan, napasnya mburu. Darius, yang kini sepenuhnya dikuasai oleh kegelapan, natapnya dari seberang dan pertempuran. Aura hitam pekat yang nyelimutinya berdenyut kuat, seolah-olah dunia ini sendiri ncoba nolaknya.
Serina nggenggam pedangnya erat. "Kaelen, kita harus segera bertindak! Dunia ini tidak akan bertahan lebih lama."
Kaelen natap mata Darius yang bersinar rah gelap. "Aku tahu," gumamnya. "Tapi aku tidak bisa nghabisinya."
Darius ngangkat pedangnya, suaranya bergema seperti badai yang nerjang. "Jika kau tidak bisa mbunuhku, maka kau akan mati di sini, adikku. Tidak ada jalan lain."
Kaelen ncengkeram gagang pedangnya lebih kuat. "Aku akan nemukan jalan lain!"
Darius nyerang, dan pertarungan kembali berlanjut dengan sengit. Setiap tebasan reka nggetarkan dunia di sekitar reka. Retakan energi mulai nyebar di langit, nandakan bahwa benteng realitas ini semakin rapuh.
Pria bertudung mperhatikan dengan cermat. "Jika Kaelen tidak segera mbuat keputusan, reka berdua bisa lenyap bersama dunia ini."
Serina tak bisa lagi hanya nonton. Ia berlari ke sisi Kaelen dan nangkis serangan Darius yang hampir ngenai Kaelen. "Kaelen! Jika kau ingin nyelamatkannya, lakukan sekarang! Jangan biarkan kegelapan ini ngambil semuanya darimu lagi!"
Kaelen ngatupkan rahangnya. Ia tahu Serina benar. Setiap detik yang berlalu, Darius semakin tenggelam dalam kegelapan. Jika ia tidak bertindak, ia akan kehilangan kakaknya selamanya.
Kaelen nutup matanya sesaat, lalu mbuka lagi dengan tekad yang lebih kuat. "Darius, aku tahu kau masih ada di dalam sana! Aku tidak akan mbiarkan kegelapan ini renggutmu!"
Darius nggeram, tetapi kali ini ada jeda dalam gerakannya. Seolah-olah kata-kata Kaelen nusuk sesuatu yang tersisa di dalam dirinya.
lihat peluang itu, Kaelen nurunkan pedangnya dan ndekat. "Aku tidak akan lawanmu lagi, kakak. Aku tidak akan ngangkat pedangku kepadamu."
Darius mbeku. Cahaya rah di matanya bergetar. Energi hitam di sekelilingnya mulai bergolak tak nentu.
Pria bertudung ngangkat tangannya, muram. "Jika Darius tidak milih dalam hitungan detik, kegelapan akan makan segalanya."
Kaelen langkah lebih dekat, ngulurkan tangan. "Kembalilah padaku. Kembali njadi kakakku. Aku berjanji, aku tidak akan pernah ninggalkanmu lagi."
Dunia di sekitar reka bergetar hebat. Darius berteriak, suara kesakitan bercampur kemarahan. Cahaya dan kegelapan bertarung di dalam tubuhnya. Hingga akhirnya—
Ledakan besar terjadi, ndorong Kaelen dan Serina ke belakang.
Saat debu ngendap, Darius tergeletak di tanah, napasnya tersengal. Cahaya rah di matanya mudar, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia terlihat seperti dirinya sendiri.
Kaelen rangkak ndekat, nggenggam tangan kakaknya. "Darius...?"
Darius tersenyum lemah. "Kau nang, Kaelen. Kau nyelamatkanku..."
Namun, sebelum reka bisa rayakan kenangan itu, suara ngerikan bergema dari langit. Celah hitam di atas reka semakin mbesar. Kegelapan belum nyerah.
Pria bertudung natap ke atas dengan wajah serius. "Kita harus keluar dari sini. Sekarang juga."
Kaelen natap Darius. "Bisakah kau berdiri?"
Darius ngangguk lemah. "Aku akan ncoba."
Serina ngulurkan tangannya. "Ayo pergi. Kita belum selesai."
Kaelen, Darius, dan Serina berlari nuju gerbang yang mulai mudar, berharap bahwa di luar sana, reka masih punya kesempatan untuk benar-benar ngakhiri semua ini.
Reviews
All reviews (0)