Font Size
15px

Malam itu, setelah kejadian di gua, Kaelen tidak bisa tidur. Bisikan dari lambang Kegelapan masih terngiang di telinganya. Sosok berjubah hitam dengan mata rah terus mbayangi pikirannya. Ia rasa seolah ada kekuatan yang mulai rayap ke dalam dirinya, perlahan namun pasti.

Fajar njelang. Varrok bersiap untuk lanjutkan perjalanan. reka ninggalkan gua dengan hati-hati, mastikan tak ada jejak yang tertinggal. Hutan masih berselimut kabut, nciptakan suasana sunyi yang negangkan. Setiap langkah terasa seperti gema di telinga Kaelen. Ia rasa diawasi, ski tidak ada siapa pun.

Di tengah perjalanan, suara ranting patah mbuat reka berhenti. Varrok mberi isyarat agar Kaelen bersiap. Dari balik pepohonan, muncul seorang perempuan muda dengan jubah kelabu. Rambut hitam panjang tergerai di punggungnya, matanya tajam seperti elang. Ia mbawa busur di punggung, dengan anak panah yang sudah siap ditarik. Belati tergantung di pinggangnya.

"Siapa kalian?" suaranya dingin, penuh kewaspadaan.

Kaelen rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya bergerak perlahan ke gagang pisau di pinggang. Varrok langkah maju, tangannya terangkat tanda damai.

"Kami bukan musuh. Kami hanya pengelana yang larikan diri dari kekejaman Cahaya," ujar Varrok dengan tenang.

Perempuan itu natap reka beberapa detik. Matanya ngawasi tiap gerakan reka. Kaelen bersiap—sedetik saja tanda bahaya muncul, ia akan nyerang. Namun akhirnya, perempuan itu nurunkan busurnya sedikit.

"Namaku Serina. Aku juga lawan Cahaya. Jika kalian berbohong, aku tidak akan ragu mbunuh kalian. Aku sudah kehilangan terlalu banyak untuk dikhianati lagi."

Kaelen lihat keteguhan dalam mata Serina. Ada luka di sana, luka yang mirip dengan yang ia rasakan. Sekilas, ia teringat wajah ibunya yang berlumuran darah. Ia rasa sedikit lebih tenang, namun tetap waspada.

Varrok ngangguk. "Kami punya tujuan yang sama. Mungkin takdir mpertemukan kita di sini."

Serina nghela napas. "Ada tempat persembunyian di dekat sini. Aku bisa mbawa kalian, tapi jangan coba-coba berbuat macam-macam. Aku akan mbunuh kalian dalam tidur jika perlu."

reka berjalan bersama nuju sebuah pondok kecil yang tersembunyi di balik semak belukar. Pondok itu tampak sederhana, dindingnya lapuk dan atapnya bocor di beberapa sudut. Bau kayu lembap bercampur abu sisa perapian. Di sudut, ada cawan tanah liat pecah dan sisa panah patah—jejak perlawanan yang telah lewat.

Di dalam pondok, reka duduk lingkar. Serina mulai bercerita. Ia adalah bagian dari kelompok perlawanan yang disebut "Bayangan Malam"—sekelompok penyintas yang bersembunyi dan lancarkan serangan gerilya terhadap pasukan Cahaya. Namun, kelompok itu baru saja diserang, dan hanya sedikit yang selamat.

"Aku kehilangan semuanya... keluarga, teman-teman, dan saudara seperjuangan. Cahaya tidak pernah berhenti mburu kami," kata Serina dengan suara bergetar. Matanya berkilat, antara kesedihan dan kebencian.

Kaelen rasakan luka itu. Ia tahu betul rasa sakit karena kehilangan. Rasa itu mbentuknya hingga njadi dirinya yang sekarang.

"Kami akan bertarung bersamamu," kata Kaelen, suaranya mantap.

Varrok natap Kaelen dengan sedikit kaget, tetapi ia tahu, inilah langkah berikutnya. reka tidak bisa terus bersembunyi selamanya.

Serina natap Kaelen. Ada kilatan harapan di matanya yang dingin. "Kalau begitu, mulai sekarang kita adalah sekutu. Tapi ingat, di jalan ini, hanya ada darah dan kematian. Jika kalian takut, lebih baik pergi sekarang."

Kaelen tersenyum tipis. "Aku sudah kehilangan segalanya. Yang tersisa hanya perlawanan."

Varrok nghela napas pelan. "Tidak ada jalan kembali setelah ini. Kalian paham?"

Serina natapnya lekat. "Aku sudah lama langkah di jalan itu. Aku tahu harganya. Kau?"

Varrok nunduk sejenak, lalu natap reka. "Aku kehilangan lebih banyak dari yang kalian kira. Tapi aku masih berdiri di sini. Itu jawabanku."

Hening sejenak.

Kaelen cah keheningan. "Apa rencana kita selanjutnya? Apa kita akan ncari Bayangan Malam yang tersisa?"

Serina ngangguk. "Ya. Aku punya informasi tentang dua orang yang mungkin masih hidup. Tapi perjalanan ke sana berbahaya. Banyak patroli Cahaya di sekitar. Kita harus bergerak saat malam."

Varrok natap Kaelen dan Serina bergantian. "Kalau begitu, kita mulai malam ini. Kita bergerak sebagai satu. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada pengkhianatan."

Kaelen dan Serina saling berpandangan, lalu ngangguk.

Malam itu, aliansi baru terbentuk di antara bayangan. Kaelen, Varrok, dan Serina—tiga jiwa yang terluka, bersatu dalam dendam, nuju perang yang akan nentukan nasib reka dan dunia yang telah direnggut Cahaya. Di balik cahaya perapian yang redup, reka tidak nyadari bahwa kepercayaan yang mulai tumbuh di antara reka akan diuji dengan darah dan pengkhianatan di masa depan.

You are reading The Shattered Light Chapter 7: – Pertemuan di Antara Bayangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.