Beberapa hari setelah kejadian di desa Elden, Kaelen mulai rasakan perubahan dalam dirinya. Setiap pagi ia terbangun dengan perasaan ganjil—bukan ketakutan, lainkan kehampaan yang perlahan bergeser njadi rasa lapar. Lapar akan kekuatan yang ia rasakan malam itu. Setiap kilatan pedang di latihannya bersama Varrok mbangkitkan kembali sensasi ketika pisaunya robek daging musuh. Namun, di balik rasa lapar itu, terselip kegelisahan yang tak ia pahami. Apakah ini kekuatan, atau awal kehancurannya?
Varrok nyadari perubahan muridnya, tetapi ia milih diam. Ia tahu jalan yang ditempuh Kaelen tidak lagi bisa dibalikkan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia khawatir Kaelen langkah terlalu cepat nuju jurang yang sama seperti banyak pejuang sebelumnya—njadi budak amarah dan haus darah. Rasa bangga bercampur cemas. Ia lihat potensi besar dalam diri Kaelen, tetapi juga bibit kehancuran.
Suatu pagi yang berkabut, Varrok mbawa Kaelen ke sebuah gua tersembunyi di pinggiran hutan. Dedaunan basah berjatuhan di sepanjang perjalanan, nciptakan suara gerisik halus. Di dalam gua, terdapat lambang kuno Kegelapan yang terukir pada batu hitam, diselimuti debu dan lumut. Udara gua terasa lembap, bercampur bau tanah basah dan sisa-sisa masa lalu yang terlupakan. Bayangan obor reka nari di dinding, nciptakan ilusi sosok-sosok yang ngintai dalam kegelapan. Varrok nyentuh simbol itu dengan hormat, jari-jarinya getar tipis.
"Ini adalah lambang kaum kita dulu, sebelum Cahaya rampas segalanya," ucap Varrok lirih, suaranya berat oleh kesedihan yang telah lama dipendam. "Dulu, Kegelapan bukan berarti kejahatan. Ia adalah penyeimbang. Tapi sekarang... kita dipaksa njadi iblis. Karena reka ingin kita takut. Karena reka tahu... kita lebih kuat jika kita ingat siapa kita."
Kaelen raba ukiran itu. Permukaan batu terasa dingin, namun seketika, sensasi hangat njalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuh. Sebuah desiran halus seperti arus listrik nyelusup ke nadinya—diikuti bisikan samar yang nyaris tak terdengar. nyebut namanya. "Kaelen....".
Suara itu dalam, rendah, seolah berasal dari dasar bumi. Ia tersentak, narik tangannya sejenak, tetapi rasa penasaran mbuatnya kembali nyentuh lambang itu. Jantungnya berdegup lebih cepat, entah karena takut atau tertarik. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia rasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, lebih kuno. Dalam kilasan singkat, ia lihat bayangan sosok berjubah hitam berdiri di atas lautan mayat. Mata sosok itu bersinar rah.
Namun, sebelum ia bisa ncerna lebih jauh, suara langkah kuda ndekat dari kejauhan. Varrok segera nariknya ke balik batu besar. Dari celah sempit, reka lihat tiga prajurit Cahaya berhenti di depan gua. Salah satu dari reka mbawa bendera berwarna emas dengan lambang matahari bersinar—tanda pasukan elit.
"Kita ditemukan?" bisik Kaelen, suaranya nyaris tak terdengar.
Varrok nggeleng. "Belum. Tapi reka ncari sesuatu... atau seseorang. Tetap tenang."
Ketegangan muncak. Salah satu prajurit turun dari kudanya, berjalan perlahan ndekati mulut gua. Suara sepatu besinya beradu dengan bebatuan, nggema samar ke dalam. Kaelen nahan napas, jari-jarinya kembali nggapai pisaunya. Varrok nggeleng halus, tetapi sorot matanya tegang. Prajurit itu berhenti di ambang pintu gua, micingkan mata natap ke dalam kegelapan. Sebuah langkah lagi—hanya satu langkah—akan mbuat reka terlihat. Napas Kaelen tertahan, dan ia bisa rasakan detak jantung Varrok di sampingnya.
Namun, tiba-tiba, suara panggilan dari prajurit lain nghentikan ketegangan itu.
"Kapten! Kami nemukan jejak di arah barat!"
Prajurit itu nghela napas, berbalik, lalu naik ke kudanya. reka berlalu, ninggalkan debu tipis yang perlahan ngendap di udara.
Kaelen nghela napas panjang. Varrok nepuk bahunya pelan.
"Kita belum waktunya mati hari ini," bisiknya.
reka duduk diam sejenak di kegelapan gua. Namun, di hati Kaelen, sesuatu telah berubah. Sentuhan lambang tadi, bisikan samar itu, dan bayangan sosok berjubah hitam mbuatnya sadar bahwa perjuangannya mungkin lebih besar dari sekadar dendam. Mungkin... ini adalah panggilan takdir. Namun, di balik panggilan itu, tersembunyi sesuatu yang lebih kelam—sesuatu yang mulai ngakar di dalam dirinya.
Reviews
All reviews (0)