Font Size
15px

Beberapa minggu setelah kejadian di desa Luthar, Kaelen dan Varrok lanjutkan perjalanan reka. Kali ini, tujuan reka adalah desa Elden, sebuah perkampungan kecil yang sering njadi jalur patroli pasukan Cahaya. Di sana, reka berencana ngamati pergerakan musuh lebih dekat.

Setibanya di Elden, suasana lebih hidup dibandingkan Luthar, namun ketakutan tetap tergurat di wajah penduduk. Pasukan Cahaya terlihat berpatroli, bersikap seperti penguasa, mandang rakyat jelata layaknya budak. Kaelen nahan gemuruh amarah di dadanya, tapi ia ingat pelajaran Varrok: kesabaran.

Saat malam tiba, reka ngintai dari balik gudang tua di pinggir desa. Dua prajurit Cahaya terpisah dari kelompok utama, mabuk setelah njarah anggur penduduk. reka berbincang sombong tentang bagaimana reka mbakar desa Luthar dan nebas kepala seorang ayah di depan anaknya. Darah Kaelen ndidih.

"Ini waktunya," bisik Varrok. "Tapi ingat, tenang. Tebasan pertama harus tepat. Jangan biarkan amarah nguasai tanganmu."

Kaelen ngangguk. Napasnya teratur skipun hatinya bergemuruh. Ia bergerak seperti bayangan, langkahnya perlahan, namun setiap pijakan terasa seperti dentuman keras di telinganya. Jantungnya berdetak kencang, peluh dingin mbasahi tengkuknya. Tangan yang nggenggam pisau berkeringat, dan bilah itu terasa licin. Ia bisa ndengar derak kecil batu tergeser di bawah kakinya—ia nahan napas, takut prajurit itu noleh. Namun, pria itu tetap mabuk, nggumam pelan. Pisau di tangannya terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah nguji tekadnya sekali lagi.

Ia ndekati prajurit pertama. Suara napas berat pria itu terdengar jelas di telinganya, bercampur bau alkohol dan keringat. Dalam satu ayunan cepat, pisaunya nusuk leher musuh. Tangan Kaelen sedikit getar saat rasakan darah hangat ngalir mbasahi jarinya. Prajurit itu terkapar tanpa suara, namun tatapan kosong matanya tertuju pada Kaelen, seakan ngutuknya dalam kematian.

Prajurit kedua sempat tersadar, matanya mbelalak, namun sebelum teriakan lolos dari bibirnya, Varrok telah ngayunkan pedangnya. Tebasan itu mbelah bahu ke dada, darah nyembur mbasahi tanah. Tubuh itu jatuh dengan suara tumpul, seperti karung gandum yang dilemparkan ke tanah. Bau amis darah bercampur bau alkohol nusuk hidung Kaelen.

Sunyi.....

Kaelen berdiri kaku di tempatnya. Tangannya bergetar lebih hebat. Jantungnya masih berpacu, namun bukan karena takut, lainkan karena ia baru saja renggut nyawa manusia untuk pertama kalinya.

Ia lihat darah di tangannya. Perasaan puas bercampur jijik rayapi dadanya. Bukan kenangan yang ia rasakan, lainkan kesadaran bahwa ia telah langkah ke jalan yang tak bisa ia tinggalkan. Sekilas, wajah ibunya terlintas di pikirannya—wajah yang dipenuhi ketakutan di malam pembantaian itu. Untuk sesaat, ia rasa seperti orang yang telah nebas keluarganya sendiri. Namun, yang lebih ngerikan, jauh di relung hatinya, ada sebersit rasa tenang. Tenang karena ia telah rasakan kekuatan yang sesungguhnya. Ketenangan itu ngerikan. Apakah ini awal mula dirinya njadi seperti musuh yang ia benci?

"Kau baik-baik saja?" tanya Varrok, nada suaranya datar, namun matanya neliti Kaelen dengan cermat.

Kaelen natapnya. Bibirnya ingin berkata jujur—bahwa ia rasa hampa, takut. Namun, yang keluar hanyalah, "Aku... baik. Aku siap untuk lebih."

Varrok tersenyum tipis, tetapi tatapannya ngeras. Namun, di balik senyumnya ada sorot khawatir yang tak dapat sepenuhnya ia sembunyikan. Kaelen lihat sekilas tangan gurunya yang nggenggam pedang—ada getaran halus di sana sebelum genggamannya kembali kukuh. "Kau baru mulai. Ingat, ini bukan tentang mbunuh. Ini tentang mbebaskan," ucapnya. Tapi di telinga Kaelen, kata 'mbebaskan' terdengar lebih seperti 'mbiasakan'."

Malam itu, Kaelen tidur dengan mata terbuka. Bau darah masih nempel di tangannya skipun ia telah ncucinya berkali-kali. Tetesan darah pertama terasa lebih berat dari yang ia bayangkan. Ia tahu—ini baru awal dari banyak darah yang akan tertumpah. Namun, yang mbuatnya ngeri, bukan lagi rasa jijik, lainkan ketakutan bahwa ia mungkin mulai nyukai ini. Ketenangan yang njalar setelah darah tumpah, rasa miliki kendali atas hidup dan mati seseorang—semua itu nakutkan karena terasa terlalu muaskan.

You are reading The Shattered Light Chapter 5: – Tetesan Darah Pertama on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.