Dua bulan setelah Kaelen bersumpah di tebing itu, Varrok mulai ngajaknya turun gunung, ndekati desa-desa kecil di perbatasan yang dikuasai Ordo Cahaya. Bukan untuk nyerang, lainkan ngamati. Varrok nanamkan satu prinsip penting: ngenali musuh sebelum ngayunkan pedang.
Suatu sore, reka tiba di desa Luthar, tempat yang baru saja dijarah oleh pasukan Cahaya. Rumah-rumah gosong, aroma kematian masih pekat, bercampur dengan bau daging yang hangus. Angin sore mbawa bisikan lirih seperti tangisan samar, dan tiap langkah di atas abu munculkan suara renyah yang nyerupai tulang rapuh. Kaelen nahan napas, kenangan desanya sendiri rayap di benaknya. Namun, Varrok nepuk bahunya pelan.
"Jangan biarkan amarah nguasaimu. Lihat. Dengarkan. Rasakan."
Kaelen berjalan di antara puing-puing, mperhatikan wajah-wajah yang selamat. Tatapan kosong, tangis lirih anak-anak, tubuh-tubuh terbungkus kain lusuh. Amarahnya ndidih, tetapi ia nelannya.
Di sudut desa, Kaelen lihat seorang prajurit Cahaya yang tertinggal—terluka, tergeletak di dekat sumur dengan tombak nancap di pahanya. Pemuda itu mohon belas kasihan. Mata Kaelen nyala. Tangan kanannya raba gagang pedang, siap nebas. Namun, Varrok muncul.
"Kaelen," suaranya tegas. "Tidak hari ini. Kita belum siap. mbunuh tanpa tujuan hanya akan mbakar kita lebih cepat."
Kaelen ngepalkan tangan, tetapi ia mundur, ski seluruh tubuhnya njerit untuk nyerang. Napasnya mburu, matanya panas oleh amarah dan air mata yang tertahan. Kekecewaan nusuk dadanya—ia rasa lemah, seolah ngkhianati keluarganya yang telah mati. Namun, di balik frustrasi itu, ada rasa takut. Takut pada konsekuensi pertama kali ia ncabut nyawa. Untuk pertama kalinya, ia rasakan kekuatan nahan diri lebih berat daripada ngayunkan pedang.
Saat reka kembali ke hutan, Varrok berbicara, suaranya pelan namun tegas. "Ada saatnya kau ngayunkan pedang. Dan ada saatnya kau nyarungkannya. Satu tebasan yang tepat lebih berarti daripada seratus yang sia-sia. Aku pernah lihat seorang sahabat, seorang pejuang yang hebat, terbunuh karena terburu-buru dalam amarahnya. Dia nyerang tanpa rencana, dan hanya butuh satu kesalahan untuk mbuat nyawanya layang. Jangan ulangi kesalahan itu, Kaelen."
Kaelen terdiam. Ia ngerti. Perjuangannya bukan sekadar mbantai. Ini adalah permainan kesabaran—perang yang akan nghabiskan waktu, darah, dan mungkin, jiwanya sendiri.
Reviews
All reviews (0)