ƒrēewebnoѵёl.cσm
Lima tahun berlalu sejak malam kelam itu. Di bawah bimbingan Varrok, Kaelen tumbuh njadi pemuda yang tangguh, namun di balik ketegaran fisiknya, jiwanya mulai diliputi kekosongan. Dendam yang njadi bahan bakarnya perlahan ngikis kepolosan masa kecilnya, digantikan oleh kewaspadaan dan kecurigaan terhadap siapa pun yang ditemuinya. Tubuhnya yang dahulu kurus dan rapuh, kini ngeras oleh latihan berat. Tangannya telah akrab dengan gagang pedang, dan langkah kakinya tak lagi getar di hadapan bahaya.
Setiap hari dimulai sebelum fajar nyingsing. Varrok mbangunkannya dengan suara keras, ngajaknya niti jalan hutan yang licin, berlari nembus akar-akar tajam. Latihan pedang njadi rutinitas yang lekat. Kaelen jatuh, terluka, berdarah—tetapi ia selalu bangkit kembali. Tiap luka njadi bagian dari harga yang ia bayar demi kekuatan.
Namun, kekuatan fisik bukan satu-satunya yang ditempa. Varrok latih pikirannya untuk tetap tajam, dan hatinya untuk tetap kuat ski didera kebencian. Kaelen mulai mahami bahwa pertempuran sejati bukan hanya soal ngayunkan pedang, tetapi juga njaga agar dirinya tidak tenggelam dalam kegelapan hatinya sendiri.
Suatu sore, setelah latihan panjang, Varrok mbawanya ke sebuah tebing tinggi. Di bawah sana, lembah diselimuti kabut tipis. Varrok nunjuk ke arah cakrawala.
"Di sanalah kota Ordrak, markas besar Ordo Cahaya. reka nguasai wilayah ini dengan tangan besi," ujar Varrok dengan suara dalam. "Kaelen, perjalananmu bukan sekadar mbalas dendam. Ini tentang runtuhkan kekuasaan yang korup. Tentang mbebaskan orang-orang yang tertindas. Jika kau hanya hidup untuk mbalas, maka kau akan njadi monster yang sama seperti reka."
Kaelen nggenggam pedangnya erat, jari-jarinya ncengkeram gagang senjata itu hingga mutih. Dadanya berdegup keras, campuran antara amarah, kesedihan, dan ketakutan yang tertahan. Setiap detik berlalu mbawanya kembali pada malam pembantaian—teriakan ibunya, tubuh ayahnya yang roboh, dan bau darah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Pedang di tangannya kini bukan sekadar senjata, lainkan penopang satu-satunya bagi tekadnya untuk terus hidup dan mbalaskan segalanya. Bayangan malam pembantaian masih jelas di benaknya. Namun, ia mulai mahami apa yang dimaksud Varrok. Dendam bisa mbakar semangat, tapi jika tak dikendalikan, ia juga bisa mbakar jiwa.
Dalam diam, ia bersumpah. Ia akan njadi kuat, bukan hanya untuk mbalas kematian orang tuanya, tetapi untuk nghancurkan kekuasaan yang telah renggut segalanya darinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu—setiap langkah nuju kekuatan adalah langkah yang njauhkannya dari dirinya yang dulu.
Bab ini nandai transisi Kaelen dari bocah penuh dendam njadi pemuda yang mulai mahami beban perjuangan. Namun, jalan yang terbentang di depannya masih gelap, dipenuhi pedang dan bayangan yang ngintai.
Reviews
All reviews (0)